Tema Khusus Rona

Sumi Yang dan Perjuangan Menguasai Bahasa Mandarin

Dhaifurrakhman Abas 26 November 2018 13:25 WIB
sumi yang
Sumi Yang dan Perjuangan Menguasai Bahasa Mandarin
16 tahun sudah Sumi menjadi jurnalis di Metro TV. Simak bincang-bincangnya dengan tim Medcom.id. (Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)
Jakarta: Tak pernah terpikir oleh Sumi Yang menjadi seorang presenter berita ketika dewasa. Apalagi memandu Metro Xin Wen, program berita berbahasa Mandarin di Media Televisi Indonesia (Metro TV).

Malahan, waktu kecil dulu, perempuan kelahiran Bagansiapiapi, Riau itu ingin nyemplung di dunia tata busana. Tapi kecintaannya pada sastra dan jurnalistik tak bisa dibohongi.

Sumi rajin membaca buku sejak sekolah dasar. Pula membaca rubrik berbahasa Indonesia dan Inggris yang nongol tiap pagi di koran-koran lokal dan internasional.

Tak hanya itu, perempuan bertubuh mungil ini juga rutin menonton berita Mandarin yang dulu tabu disiarkan di Indonesia. Beruntung, antena televisi sering menerima saluran asing dari negeri jiran.

Meski begitu, menguasai bahasa Mandarin tak mudah. Masyarakat sekitar bercakap dalam bahasa Melayu. Kalaupun ada etnis Tionghoa-Indonesia, ramai-ramai menggunakan logat Hokkien.

Apalagi di tengah larangan peredaran aksara Mandarin zaman orde baru. Namun dia tak patah arang. Agar menguasai bahasa Mandarin dengan cepat, dia selalu mencatat kata demi kata di kertas kosong.

Selanjutnya ia gunakan kamus Mandarin-Indonesia untuk menerjemahkan satu-persatu. Kalau mentok, Ayahnya selalu rajin membantu menerjemahkan.

“Pokoknya ngerti enggak ngerti tontonin aja. Terus saya catat kalimat yang enggak saya ngerti, dan diterjemahin pakai kamus Mandarin-Indonesia,” cerita Sumi, kepada Medcom.id, di Studio Metro TV, Jakarta Barat, Sabtu 24 November 2018

Lamat-lamat Sumi fasih berbahasa Mandarin. Dia bahkan dipercaya menjadi guru kursus Mandarin sambil melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

“Biar kemampuan Bahasa Mandarin enggak hilang,” kata Sumi.

(Baca juga: Robert Harianto, Antara Jurnalis dan Koleksi Sneaker)


(Sejak kecil Sumi rajin belajar dan mencatat bahasa Mandari. Kini ia menjadi presenter di Metro TV dan didaulat memandu program bahasa Mandarin di Metro TV, Metro Xin Wen. Foto: Dok. Instagram Sumi Yang/@yang_sumi)

Menjadi Jurnalis Metro TV

Impian bekerja di dunia tata busana barangkali semakin jauh panggang dari api. Apalagi ketika melanjutkan studi pendidikan tinggi, Sumi mengambil jurusan Sistem Informasi di kampus Binus.

“Sebenarnya bukan bidang saya. Tapi kata orang tua, udah, cari jurusan yang aman biar gampang masuk dunia kerja ha ha ha,” ujarnya sambil tertawa.

Namun ibarat pepatah, jodoh tak lari ke mana. Perjuangan melatih bahasa Mandarin dan kebiasaan membaca koran sejak dini, justru yang mengantarnya pada dunia industri.

Kebetulan saat itu ada lowongan pekerjaan di kolom koran Mandarin yang tengah dia baca. Syaratnya pun sesuai dengan kemampuan yang ia perjuangkan sejak kecil. Fasih berbahasa dan menulis Mandarin.

“Mereka (Metro TV) waktu itu ada rekruitmen sebagai staf produksi buat Xin Wen. Iseng-iseng melamar waktu itu tahun 2002. Pas masih kuliah, umur 18 tahun” kenangnya.

Berawal dari staf produksi, Sumi lambat-laun ditugaskan menjadi pembawa berita Metro Xin Wen setahun kemudian. Dari situ ia keranjingan dan mulai menemukan kecintaan pada dunia jurnalistik.

Kata Sumi, menjadi jurnalis merupakan pekerjaan menantang sekaligus membuka wawasan. Pula mesti diakui merupakan pekerjaan tak mengenal waktu.

Ia harus pandai-pandai mengatur waktu. Apalagi semenjak dia menikah, dengan seorang jurnalis juga yaitu Timothy Marbun. Saat ini dia juga sudah dikarunia anak berusia 3,5 tahun. Yang tentunya haus perhatian orang tua.

“Siasatnya ya bolak-balik ke rumah. Untungnya rumah saya dekat, tiga menit dari kantor,” ujarnya.

Namun menjadi jurnalis membuat dirinya memiliki kontribusi kepada lingkungan sekitar, juga pada negara. Karena melalui pekerjaannya ini, Sumi bisa memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Memang menemukan sukanya ketimbang duka. Menjadi jurnalis, banyak ketemu orang dan menambah wawasan. Jadi punya beberapa pandangan dengan cara berpikir yang berbeda,” katanya.


(Sumi Yang dan keluaga. Foto: Dok. Instagram Sumi Yang/@yang_sumi)

Liputan tak terlupakan

Tsunami melanda Aceh pada 2004 silam betul-betul menguji mental sebagai seorang jurnalis. Tak ada waktu buat istirahat. Begitupun ancaman bencana susulan yang siap mengintai.

"Kondisi waktu itu serba susah. Kita sendiri keselamatannya juga mengkhawatirkan, makan dan minum juga susah, serba minim," kenang Sumi.

Ia juga mengaku emosinya benar-benar diuji. Tapi, sebagai seorang jurnalis tentu ia harus profesional. Mengumpulkan informasi untuk disampaikan kepada masyarakat.

"Jadi memang saya nangis terus selama liputan bencana. Saya memang agak sensitif orangnya, gampang tersentuh. Itu sih yang paling berkesan," Sumi melanjutkan.

Kalau sudah berjibaku dengan waktu begini, biasanya Sumi menyempatkan diri berjalan kaki sambil meliput berita. Gunanya, agar menjaga kondisi tubuhnya tetap fit saat meliput berita.

"Jujur saya tidak begitu rutin olahraga karena waktu banyak digunakan untuk bekerja. Tapi saya selalu berusaha bergerak, berjalan kaki," ungkapnya.

Disamping itu, perempuan berwajah oriental ini juga doyan ngopi. Menyeruput kopi membantunya berkonsentrasi, sekaligus merehatkan pikiran di sela-sela pekerjaan yang menyibukkan.

Namun bukan Sumi namanya kalau tidak totalitas. Berawal dari kegemaran menyeruput kopi, ia dan rekannya lantas membangun coffe shop bernama Sabang16, di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

"Sebetulnya tidak ada ambisi buat nyari untung atau apa. Tapi kayaknya seru juga mendirikan coffe shop untuk ngopi-ngopi nongkrong," ungkapnya.


(Berawal dari staf produksi, Sumi lambat-laun ditugaskan menjadi pembawa berita Metro Xin Wen setahun kemudian. Dari situ ia keranjingan dan mulai menemukan kecintaan pada dunia jurnalistik. Foto: Dok. Instagram Sumi Yang/@yang_sumi)

Dedikasi belasan tahun

16 tahun sudah Sumi menjadi jurnalis di Metro TV. Sudah tak terhitung banyaknya liputan, pun informasi dan edukasi yang ia berikan kepada masyarakat.

Ketika kami berbincang siang itu, ada harapan besarnya untuk Metro TV yang kini merayakan usia ke-18 tahun. Kebetulan, Sumi mulai bekerja saat umur Metro TV masih seumur jagung. Dia sedikit banyak merasakan perjalanan di kantor yang berlokasi di Jakarta Barat tersebut.

"Buat saya Metro TV sudah seperti keluarga saya, rumah kedua. Dan senang bahwa Metro TV masih dipercaya orang, menjaga trust pemirsa sampai sekarang," ucapnya.

Dia mengaku bersyukur belajar dan dibesarkan menjadi seorang jurnalis di Metro TV. Sebuah perusahaan media yang menjaga cita-citanya, mencerdaskan masyarakat lewat setiap tayangannya. Meski diakui, senja kala bisa saja terjadi kapan saja.

"Meskipun di tengah kompetitor, tetaplah menjadi yang berkualitas. Yang menjadi acuan masyarakat mencari edukasi," tutup Sumi.



(TIN)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id