Bagaimana kisah dr. Olivia Ong membangun sebuah klinik kecantikan? Simak penuturan santainya bersama tim Medcom.id. (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)
Bagaimana kisah dr. Olivia Ong membangun sebuah klinik kecantikan? Simak penuturan santainya bersama tim Medcom.id. (Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)

kisah

Lika-liku Olivia Ong, Sang Pendiri Klinik Kecantikan

Rona kisah
Raka Lestari • 27 Januari 2020 17:07
Jakarta: Memiliki klinik kecantikan mungkin menjadi salah satu keinginan yang banyak sekali diidamkan oleh para dokter kecantikan. Namun untuk memiliki sebuah klinik kecantikan, apalagi yang sudah terpercaya dan teruji secara klinis tentu tidaklah mudah.
 
Dr. Olivia Ong, sebagai salah satu dokter Aesthetic & Antiaging terkemuka sekaligus founder Jakarta Aesthetic Clinic (JAC) memberikan cerita mengenai perjalanannya menjadi seorang founder salah satu klinik kecantikan terkemuka.

Sempat mengalami kesulitan biaya

Pada awalnya ketika ingin menjadi spesialis kulit sempat mengalami kendala biaya. “Pada waktu itu, keluarga tidak punya biaya untuk spesialis kulit. Saya tidak punya apa-apa, koneksi pun tidak ada. Saya hanya punya tekad.”
 
Ia mengaku pada saat mengalami masa-masa sulit, tidak merasa iri terhadap teman-temannya yang lebih beruntung dari dirinya. “Saya merasa bersyukur dengan hidup saya dan saya mencoba untuk bisa sehebat teman-teman yang lain. Namun memang passion saya itu selalu ke arah estetik,” ujarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akhirnya saya pun mulai menabung sedikit demi sedikit untuk bisa mendalami spesialis kulit, terutama yang berhubungan dengan estetik atau kecantikan.
 
Lika-liku Olivia Ong, Sang Pendiri Klinik Kecantikan
(Dr. Olivia Ong menemukan kekuatan dari pasiennya. "Karena setelah mendapatkan perawatan dari saya, mereka bisa menemukan dirinya yang sesungguhnya," ujarnya pada Medcom.id. Foto: Dok. Medcom.id/Raka Lestari)
 
“Jadi saya sedikit-sedikit menabung dari uang hasil pekerjaan saya, mengikuti berbagai seminar di dalam negeri. Menabung lagi agar bisa mengikuti berbagai seminar di luar negeri.”
 
Banyak pasien yang cocok dengan treatment yang dr. Olivia lakukan. Ia pun akhirnya menemukan bakatnya dalam bidang estetik atau kecantikan dan ternyata banyak orang yang merasa cocok dengan treatment yang dilakukan oleh dr. Olivia.
 
“Saya ingat sekali bahwa ada banyak orang-orang yang meminta saya untuk melakukan treatment lagi. Mereka bilang kalau perawatan yang saya lakukan itu yang paling bagus. Dari situlah lama kelamaan pasien saya mula bertambah. Meskipun memang hanya dari mulut ke mulut dan klinik saya pung masih sangat kecil sekali,” tutur jebolan Atma Jaya yang berpedikat cum laude ini.
 
Ia mulai membuka klinik pertamanya pada tahun 2008 lalu di daerah Tomang, Jakarta barat. “Saya ingat sekali ruko saya yang di Tomang itu hanya berukuran 60 m2. Dan ruko nya pun biasa saja. Pada saat itu juga saya banyak membantu para asisten rumah tangga melakukan perawatan. Awal mulanya dari seperti itu, tetapi pelan-pelan akhirnya ya mungkin orang banyak tahu.”
 
Dari situlah dr. Olivia mulai dikenal, ia pun menceritakan menjadi lebih sering mengikuti seminar dan bahkan mengisi beberapa seminar bersama dengan dermatologis lain yang sudah lebih mempunyai nama sebelumnya.

Keinginan memiliki klinik sendiri

“Ketika pasien sudah mulai bertambah, karyawan saya pun mulai bertambah. Dari yang tadinya saya mengerjakan semua sendiri, bahkan melakukan cleaning service pun saya lakukan sendiri akhirnya saya mempunyai karyawan,” tutur dr. Oliv, sapaan akrabnya.
 
Ketika para pasien sudah mulai bertambah, sahabat dr. Olivia memberikan ide untuk mendirikan klinik yang lebih besar lagi.
 
“Sahabat saya melihat sesuatu yang ada dalam diri saya, ia pun bertanya kepada saya mengapa tidak membuat klinik yang lebih besar. Namun saya mengatakan bahwa saya sudah merasa nyaman dengan keadaan pada saat itu, saya tidak berniat mencari uang, hanya membantu orang saja.”
 
Namun sahabatnya tersebut menjelaskan kepada dr. Olivia bahwa dengan mendirikan sebuah klinik yang lebih besar, dirinya tidak hanya membantu karyawan atau pasien saja tetapi juga bisa membantu dokter-dokter lainnya untuk bisa seperti dirinya juga. “Kebetulan pada saat itu saya sudah menikah, dan suami saya pun mendukung karier saya," ujar dokter yang ramah ini.
 
"Suami saya memperisilahkan saya meskipun menjadi istri dan seorang ibu, tetapi juga untuk berkarier. Akhirnya saya pun memiliki kantor sendiri, di tempat yang cukup elit seperti ini dan memang saya tidak pernah membayangkannya.”
 
Setelah klinik pertamanya di Tomang, dr.Olivia pun akhirnya membuka klinik yang lebih baik di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan.
 
“Uang yang saya tabung selama ini, saya kembalikan kepada pasien yaitu dengan membuat klinik yang lebih nyaman. Kalau dulu pasien harus berdesak-desakkan, ingin bisa lebih nyaman. Akhirnya saya bisa memiliki klinik yang lebih nyaman seperti sekarang ini,” papar lulusan The American Academy of Aesthetic Medicine Aesthetician and anti aging specialist ini.
 

(Salah satu kegiatan dari Jakarta Aesthetic Clinic (JAC). Foto: Dok. Instagram Jakarta Aesthetic Clinic (JAC)/@jakarta_aesthetic_clinic)

Alasan lebih menyukai spesialis estetika

Ia menjelaskan bahwa dirinya sangat menyukai keindahan dan kecantikan sehingga ia lebih memilih untuk lebih mendalami dokter estetik.
 
“Saya itu suka dengan keindahan dan kecantikan. Pada waktu itu ketika saya pernah bertugas di UGD, saya merasa ada kemungkinan pasien itu sakitnya tidak bisa sembuh karena memang derajat sakitnya ketika datang ke rumah sakit berbeda-beda ya, dan terkadang juga berakhir dengan kematian.”
 
Dari situlah, ia ingin membantu orang lain namun dengan hasil yang bersifat positif. “Saya merasa bahwa saya ingin bisa membantu orang tetapi bantuan saya berdampak positif. Tidak ada yang hasilnya kematian, seperti itulah istilahnya. Jadilah saya nyemplung ke dunia estetik karena menurut saya kesuksesan hidup itu menurut saya bisa membantu sesama lebih banyak.”
 
“Berawal dari niat yang sungguh murni untuk bisa berguna bagi sesama, kemudian dengan konsisten melakukan sesuatu dengan menyeluruh, detail, tidak setengah-setengah dan konsisten itulah menurut saya yang bisa menjadi kunci kesuksesan bagi saya,” ujar dr. Olivia. Selain itu, menurutnya doa dan support dari keluarga juga sangatlah penting.

Menemukan kekuatan dari pasien

Selama ini, sudah ada banyak pasien yang ditangani oleh dr. Olivia dan ia merasa bahwa pasien-pasiennya tersebut memberikan kekuatan kepada dirinya.
 
“Pokoknya saya itu menemukan kekuatan saya walaupun capek setelah menangani pasien. Saya menemukan kekuatan dari pasien karena setelah mendapatkan perawatan dari saya, mereka bisa menemukan dirinya yang sesungguhnya itu.”
 
Terkadang juga dr.Olivia menemukan beberapa kasus yang cukup sulit, tetapi menurutnya hal tersebut bisa dilalui selama bisa memberikan penjelasan yang cukup kepada pasiennya. “Misalnya dia sudah pernah suntik silikon cair, itu biasanya sudah tidak bisa dilakukan filler. Nah untuk kasus seperti itu, biasanya saya jelaskan ke pasien agar mereka mengerti karena biasanya para pasien sudah berharap untuk mendapatkan perawatan.”
 
“Kita harus bisa mengendalikkan pikiran kita atau kegalauan kita. Kita ini manusia, pikiran kita harus dikendalikan. Bukan pikiran yang mengendalikan kita. Jadi kalau kita mau bahagia dalam hidup, lakukanlah hal tersebut maka dengan begitu kita akan merasa bahagia dan bisa membuat orang sekitar kita pun merasa bahagia,” pungkas dr. Olivia.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif