Nina Ahn, seorang fotografer asal Korea Selatan, menjepret seorang perempuan yang berdiri sendirian di dekat jendela. Lampu-lampu jalanan berkilauan di sekelilingnya. (Foto: CNN Lifestyle)
Nina Ahn, seorang fotografer asal Korea Selatan, menjepret seorang perempuan yang berdiri sendirian di dekat jendela. Lampu-lampu jalanan berkilauan di sekelilingnya. (Foto: CNN Lifestyle)

Kebangkitan Budaya Hanjok Masyarakat Korea Selatan

Rona gaya
Dhaifurrakhman Abas • 30 Desember 2018 09:30
Jakarta: Nina Ahn, seorang fotografer asal Korea Selatan, menjepret seorang perempuan yang berdiri sendirian di dekat jendela. Lampu-lampu jalanan berkilauan di sekelilingnya.
 
Sementara hasil jepretan lainnya menunjukkan perempuan lainnya, berusia 20-an duduk sendirian di sebuah pagar pembatas. Dekat sebuah jalan raya kosong di Seoul.
 
Foto-foto itu dimaksudkan untuk menangkap kesepian yang melanda pemuda Korea Selatan generasi masa kini. Sekaligus menunjukkan merebaknya subkultur yang disebut "honjok"; sebuah neologisme yang menggabungkan kata "hon" (sendirian) dan "jok" (suku).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan generasi yang menggaungkan kesendirian. Sebutan ini sering digunakan untuk menggambarkan generasi yang selalu melakukan aktivitasnya secara sendiri, tanpa hadirnya orang lain. Skeptis dalam memandang romansa, pernikahan, dan keluarga.
 
"Kita hidup dalam generasi di mana hanya bekerja keras untuk masa depan yang cerah. Tapi justru tidak menjamin kebahagiaan. Ini adalah wajah generasi sekarang," kata Ahn seperti dikutip CNN.
 
Hasisi Park, seorang fotografer lain juga mengeksplorasi bentuk isolasi sosial tersebut di antara anak muda Korea Selatan melalui karya-karyanya. Dia menggambarkan generasi milenials saat ini bak makhluk tak berdaya di hutan belantara.
 
Park, menghubungkan munculnya budaya penyendiri ini dengan tekanan sosial zaman modern. Yaitu terbatasnya kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain dan kurangnya waktu untuk berbakti kepada orang lain.
 
"Masyarakat tempat kami tinggal bisa sangat tidak stabil, dan saya pikir orang muda tidak mau dikompromikan lagi," katanya.
 
Michael Breen, seorang pengamat dan penulis buku "The New Koreans: The Story of a Nation" pun beranggapan ada perubahan yang terjadi pada masyarakat Korea. Dia bilang, generasi milenials Korea memiliki tradisi historis yang teramat bertentangan dengan gambaran masyarakat Asia.
 
"Di banyak masyarakat Asia, kepentingan dan hak individu telah disubordinasikan dengan kepentingan keluarga atau organisasi kelompok. Tetapi semakin lama Anda hidup dengan demokrasi, semakin nilai-nilai mereka akan menjadi individualistis daripada kolektif," kata Breen.

Klik di sini: Perusahaan Jepang Berikan Libur Tambahan Bagi Karyawan Bukan Perokok


Waktu Breen pertama kali datang ke Korea, sekitar tahun 70-an, orang-orang Korea setidaknya memiliki lima atau enam saudara kandung. Mereka semua berasal dari keluarga besar yang bahagia dalam kebersamaan.
 
Namun seiring berubahnya zaman, ditambah upaya pemerintah untuk mempromosikan keluarga berencana, telah berkontribusi pada penurunan tingkat pertumbuhan penduduk Korea Selatan. Menurut data Bank Dunia, angka kelahiran menurun dari 6,1 persen pada 1960, menjadi hanya 1,2 persen pada 2015.
 
"Dulu Saya biasanya melihat banyak kerabat yang tinggal di desa yang sama. Namun tidak pada generasi saat ini," tandas Breen.
 
Kuliner Khas Tionghoa dari Bangka (1)

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi