Langkah nyata Mario P Hasudungan Gultom (kiri) tingkatkan kesetaraan para difabel. (Foto: Dok. Medcom.id/Khalisah)
Langkah nyata Mario P Hasudungan Gultom (kiri) tingkatkan kesetaraan para difabel. (Foto: Dok. Medcom.id/Khalisah)

Langkah Nyata Mario Tingkatkan Kesetaraan bagi Para Difabel

Rona kisah
Raka Lestari • 27 Oktober 2019 14:01
Jakarta: Nama Mario P Hasudungan Gultom mungkin masih terdengar asing, namun ia memiliki semangat besar untuk mengajarkan mengenai kesetaraan untuk para penyandang difabel yang mungkin masih belum banyak disadari oleh banyak orang. 
 
Mario, sapaan akrabnya juga melakukan sebuah langkah nyata agar para penyandang difabel bisa berkarya terlepas dari keterbatasan-keterbatasan yang mereka miliki.
 
Ditemui di Sunyi House of Coffee and Hope, Jalan RS Fatmawati Raya No 15, Cilandak, Jakarta Selatan, pria berusia 25 tahun tersebut bercerita mengenai konsep kafenya tersebut yang berkaitan dengan usahanya untuk mengurangi jumlah pengangguran difabel.

Ide awal membuat Sunyi House of Coffe and Hope 

Mario bercerita bahwa semuanya berawal dari didikan orang tuanya sejak kecil. Kedua orang tua Mario selalu mengajarkannya untuk berbagi kepada sesama. Ia juga sering kali diajak orang tuanya untuk mengunjungi panti asuhan, bahkan para penyandang difabel. “Dan dari kecil itu, saya menjadi memiliki passion kemanusiaan.”

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun semakin bertambahnya usia, menurut Mario passion seseorang pasti akan terkikis dan banyak orang juga yang memilih sebagai pekerja kantoran ketika sudah besar. 
 
“Tetapi memang saya tidak terlalu suka yang seperti itu, akhirnya saya ketemu dengan passion saya yaitu bisnis.” Ia pun mencoba mencari-cari ide bisnis yang ada di Jakarta. Ada banyak sekali die bisnis kekinian dan unik. Namun ia berpikir apakah ide-ide tersebut selalu berhubungan dengan profit?
 
“Apakah ide-ide yang saya temukan itu semua hanya untuk profit? Apakah bisnis itu semua tentang uang dan keuntungan? Kemudian saya coba belajar lebih dalam tentang bisnis dan ketemu sebuah ilmu namanya social entrepeneurship, di mana bisnis bukan hanya profit tetapi bagaimana untuk menyelesaikan masalah di masyarakat, masalah sosial,” tutur Mario.
 
Langkah Nyata Mario Tingkatkan Kesetaraan bagi Para Difabel
(Di Sunyi House of Coffee and Hope customer diajarkan cara sederhana memesan menu dengan bahasa isyarat. Foto: Dok. Medcom.id/Khalisah)

Belajar sampai ke Singapura

Untuk lebih mendalami mengenai social entrepeneurship, Mario memelajarinya sampai ke Singapura. “Di sana bertemu dengan teman-teman yang sudah berjuang duluan, bertemu teman-teman difabel juga. Dan di Singapura itu, para penyandang difabel sudah diperlakukan secara setara. Saya melihat kondisi di Indonesia itu diskriminasi penyandang difabel masih tinggi, kesetaraan belum tercapai. Kita merdeka, mereka belum.”
 
Mario mengaku menyesal bahwa selama ini belum ada yang ia lakukan untuk mengatasi diskriminasi terhadap para penyandang difabel tersebut. 
 
Padahal semasa kecil dirinya dekat dengan hal-hal yang bersifat kemanusiaan tersebut. “Tapi kan tidak ada kata terlambat, kita mulai dari awal. Saya coba bergabung dengan komunitas mereka, berusaha agar diterima oleh mereka dan akhirnya mereka bisa menerima saya juga.”
 
Akhirnya Mario dan teman-temannya yang berasal dari komunitas para penyandang difabel berpikir untuk membentuk sesuatu yang memiliki dampak positif bagi mereka para penyandang difabel. 
 
“Kemudian saya dan teman-teman berpikir untuk membuat coffee shop. Coffee shop yang tidak beda dari coffee shop lain, tetapi yang bekerja adalah kalian (para penyandang difabel). Coffee shop yang memiliki makna kesetaraan.”

Alasan membuka coffee shop 

Dari sekian banyak ide yang ada, Mario berpikir untuk membuat coffe shop yang berbeda dengan coffe shop lainnya. Ia ingin membuka coffee shop di mana para penyandang difabel yang menjadi pegawainya, mulai dari tukang parkir, barista, bahkan sampai juru masaknya. Ada alasan mengapa Mario memilih untuk membuka coffee shop.
 
“Alasan pertama adalah karena saya dekat dengan teman-teman tuli. Mereka itu sangat suka sekali dengan kopi. Kopi itu bukan cuma beverages, tetapi kopi juga menjadi sebuah pemersatu. Kita mungkin beda komunikasi dengan mereka, berbeda secara fisik, tapi memiliki keyakinan yang sama kalau kopi Indonesia adalah kopi yang terbaik,” ujar Mario.
 
Selain itu karena dirinya seorang businessman, Mario pun memelajari bahwa kopi bukanlah sebatas makanan atau minuman tetapi kopi juga sudah menjadi lifestyle. 
 
“Akhirnya saya ambil opportunity itu dan terbentuklah coffee shop bersama teman-teman kuliah saya berlima, dengan saya sebagai founder-nya.”
 
Langkah Nyata Mario Tingkatkan Kesetaraan bagi Para Difabel
(Salah satu menu yang tersedia di Sunyi House of Coffee and Hope. Foto: Dok. Medcom.id/Khalisah)

Filosofi nama “Sunyi”

Coffee shop yang Mario dirikan tersebut diberi nama Sunyi House of Coffee and Hope. Nama tersebut memiliki arti yang cukup mendalam. 
 
“Jadi banyak yang berpikir kalau nama Sunyi itu karena barista dan teman-teman tuli, sehingga tidak ada suara. Padahal tidak seperti itu, di sini suasananya sama seperti coffee shop pada umumnya. Ada suara orang mengobrol, tertawa, ada juga suara musik.”
 
“Yang dimaksudkan Sunyi adalah, sunyi itu kondisi pada saat melakukan meditasi, sunyi dari perbedaan, sunyi dari arogansi, sunyi dari kejahatan, kita semuanya tenang dan sunyi, semuanya setara, itulah maksud dari nama Sunyi,” cerita Mario.

Hambatan yang dialami 

Dalam mendirikan Sunyi House of Coffee and Hope, bukan tanpa kendala bagi Mario. Ia mengalami kendala baik dari para penyandang difabel dan juga para calon investor bagi coffee shop-nya tersebut. 
 
“Kendala pasti ada. Jadi bahasanya begini, jarang disayang biasa didiskriminasi. Jadi kalau kita mau menolong, mau bantu, para penyandang difabel ini pasti mikir apa benar-benar mau menolong atau tidak. Makanya saya coba untuk empati, bukan simpati. Saya coba masuk ke dunia mereka, belajar bahasa mereka, mengetahui apa yang mereka butuhkan, hingga akhirnya mereka bisa menerima saya.”
 
Sedangkan dari sisi investor, Mario bercerita bahwa pada awalnya banyak sekali investor yang memandang rendah ide Mario tersebut. 
 
Beberapa investor menyebutkan bahwa Jakarta belum siap membantu difabel, bahkan ada juga yang mengatakan agar dirinya baru bisa membantu jika sudah kaya. 
 
“Menurut saya tidak bisa seperti itu. Mereka itu membutuhkan jembatan ibaratnya, bukan sumbangan. Kalau memecahkan masalah kita harus mencari akar masalahnya. Kalau mereka dikasih uang, tentunya uang tersebut lama kelamaan akan habis. Tapi kalau kita memberikan ‘jembatan’ mereka akan terus bisa hidup di jembatan itu,” ujar pria lulusan Fakultas Ekonomi ini.
 
“Jadi memang banyak banget yang bilang bahwa konsep ini tidak akan berhasil, tidak akan laku, tetapi kenyataannya? It’s a big success. Terima kasih masyarakat Jakarta sudah bisa menerima teman-teman difabel, tidak ada diskriminasi sekalipun di sini. Justru banyak sekali costumer yang berteman dengan para barista di sini,” jelas Mario.
 
Ia mengakut terharu ketika menyadari ada banyak sekali pelanggan-pelanggannya yang juga sayang terhadap para pegawai coffee shop miliknya tersebut. 
 
“Saya merasa senang sih, melihat para difabel ini pelan-pelan bisa berkembang, pelan-pelan bisa diterima di masyarakat.” 
 
Mario juga menjelaskan bahwa para penyandang tunarungu atau tunawicara lebih suka dipanggil tuli saja, atau bisa juga dipanggil dengan Teman Tuli atau Sahabat Tuli.

Kopi harapan 

Mario juga menambahkan bahwa di Sunyi House of Coffee and Hope, dirinya ingin mengangkat experience yang mungkin tidak dirasakan ketika mengunjungi coffee chop lainnya. 
 
“Jadi sampai sekarang, teman-teman difabel itu berusaha untuk beradaptasi dengan dunia kita yang non-difabel. Di Sunyi ini, gentian kita yang non-difabel beradaptasi dengan dunia mereka. Mulai dari bahasanya, fasilitasnya, kita harus belajar. It’s not about coffee, ini adalah kopi yang punya cerita dan harapan.”
 
Mario juga berpesan kepada teman-teman difabel “Jangan takut, percayalah sebentar lagi akan banyak orang yang menolong kalian. Teruslah berusaha, jangan menganggap diri beda, jangan menganggap dirimu kurang, kalian sama luar biasa bahkan lebih hebat dari saya. Suatu saat Indonesia akan bisa menerima kesetaraan untuk teman-teman difabel.”
 
“Dan untuk teman-teman non-difabel, terutama para generai milenial, saya tahu ada banyak sekali ide-ide kreatif, ide-ide luar biasa, tapi coba sisipkan nilai-nilai kesetaraan dalam ide-ide yang luar biasa tersebut. Kalau kalian membuat bisnis, coba masukkan bagaimana cara menolong teman-teman difabel lainnya. Dengan banyaknya Sunyi-Sunyi lain yang muncul, otomatis kata-kata keterbatasan akan hilang,” tutup Mario.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif