Inkubator yang selalu membantu para bayi yang terlahir prematur. (Foto: Dok. Ahmad Nofal Safary)
Inkubator yang selalu membantu para bayi yang terlahir prematur. (Foto: Dok. Ahmad Nofal Safary)

Satu Inkubator, Penyambung Nyawa bagi Si Mungil yang Prematur

Rona kisah
Raka Lestari • 02 Januari 2019 20:57
Jakarta: Suara bip bip bip serta selang di beberapa bagian tubuh bayi di dalam ruang NICU masih terngiang di benak Ahmad Nofal Safary dan istri.

Bayangan tentang muka bayi yang segar sambil menangis setelah dilahirkan kemudian berinisiasi menyusu dini di dada langsung pudar dari keduanya.

Kembar yang diberi nama Launa Maulida dan Laura Maulida lahir dari rahim berusia kurang lebih 30 minggu. Ini artinya ia belum genap sembilan bulan untuk siap dilahirkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Lahir prematur, begitu memeras hati keduanya. Antara bahagia karena si kecil lahir, namun sedih disaat yang sama. Tubuh merah yang terlalu mungil-hanya seukuran kepalan tangan dengan napas yang pendek-pendek itu bagai malaikat rapuh yang masih harus dibantu dengan berbagai alat. Salah satunya adalah inkubator.

Biaya yang mahal

Kedua bayi Ahmad memiliki berat badan masing-masing hanya 1,4 kg dan 1,5 kg. Sempat 12 hari berada di rumah sakit, dengan biaya Rp2,5 juta per malamnya. Mahal, sudah pasti. Keterbatasan biaya inilah menjadi kendala bagi Ahmad. Apalagi, ini merupakan pengalaman pertama Ahmad merawat bayi kembar dalam inkubator.

Di tengah kegalauan yang dialaminya, ia mendengar selentingan kabar mengenai tetangga di kampungya yang juga memiliki bayi prematur namun mendapatkan peminjaman inkubator secara gratis.

"Berawal dari cerita tetangga kampung yang punya bayi prematur juga namun kurang begitu jelas hanya saja dia bilang gratis untuk peminjaman alat inkubator ini, kemudian saya coba cari lewat internet dan merujuk pada satu nama yaitu Agen Relawan Jonggol Kab. Bogor. Kemudian saya juga lihat video di YuoTube. Di sana ada tercantum nomor hp via SMS, lalu saya coba hubungi dan ternyata di tanggapi dengan baik," tuturnya.

(Baca juga: Pentingnya Metode Kanguru untuk Bayi Prematur)

Data bayi prematur

Launa dan Laura hanyalah segelintir bayi yang lahir secara prematur. Menurut World Health Organization (WHO) sendiri, persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan genap mencapai 37 minggu.

Dan masih menurut WHO di tahun 2013, setiap tahun, 15 juta bayi dilahirkan sebelum usia kehamilan 37 minggu dan lebih dari 1 juta bayi lahir karena komplikasi persalinan prematur. Menurut laporan World Health Organization (WHO) pada 2012 berjudul Born Too Soon milik The Global Action Report on Preterm Birth dari PBB, secara global ada 15 juta bayi lahir prematur pada 2010 dari jumlah kelahiran 135 juta kelahiran atau 11,1 persen.

Namun sayangnya, ada banyak bayi yang tidak tertolong karena sulitnya mendapatkan fasilitas inkubator di rumah sakit. Kelahiran yang seharusnya membawa kebahagiaan justru malah membawa kesedihan. Maka dari itu, Yayasan Bayi Prematur Indonesia (YABAPI) berinisiatif untuk meminjamkan inkubator buatan secara gratis agar banyak bayi tertolong untuk seluruh provinsi di Indonesia.


("Laura dan Launa... sehat selalu, panjang umur serta berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negaranya kelak dewasanya nanti," tutup Ahmad lirih. Foto: Dok. Ahmad Nofal Safary)

Program inkubator gratis bagi bayi yang membutuhkan

Berawal dari inkubator rusak, Raldi Artono Koestor atau yang lebih dikenal dengan Bapak Bayi Prematur Indonesia berinisiatif menciptakan inkubator sendiri.

Salah satu pendiri YABAPI ini memulai risetnya pada tahun 1995. Ia telah menciptakan 20 prototype inkubator bayi hingga saat ini. Lebih dari 180 inkubator gratis telah dipinjamkan untuk seluruh provinsi di Indonesia.

"Program utamanya sendiri adalah peminjaman inkubator gratis kepada masyarakat, khususnya yang menengah ke bawah dan membutuhkan inkubator di rumah," ujar Ibnu Roihan, Manger Teknis dan Operasional YABAPI.

"Itu kegiatan utamanya tapi kegiatan besarnya sebenarnya ada banyak, yang pertama adalah memang kita memproduksi, yang kedua kita menyebutnya inspiring talk, di mana kita biasanya diundang untuk menginspirasi sebuah produk tertentu."

Menurut Roihan, founder dari YABAPI yaitu Raldi Artono Koestoer memang memiliki keinginan untuk bisa membuat alat-alat yang berada seperti di NICU namun dengan skala yang moderat agar alat-alat tersebut bisa digunakan oleh puskesmas atau pelayanan kesehatan daerah yang memang tidak memiliki fasilitas kesehatan yang masih belum sebaik di kota-kota besar, terutama dalam hal penanganan bayi prematur.

"Jadi gini, NICU itu kan banyak alatnya, nah yang kita buat itu yang moderate. Moderate itu jadi istilahnya kita mementingkan teknologinya saja, atau fungsinya saja. Bukan yang berteknologi tinggi atau yang bermacam-macam, tetapi lebih mementingkan penggunaannya," tutur Roihan.

Sebaran inkubator gratis yang dilakukan oleh YABAPI saat ini sudah mencapai 78 lokasi dan 20 provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Tim YABAPI sendiri bercita-cita agar sebaran inkubator gratis bisa mencapai 300-400 lokasi di Indoensia meskipun memang hal tersebut masih membutuhkan proses.

Namun salah satu kendala yang dialami pihak YABAPI saat ini adalah minimnya sebaran informasi, terutama bagi masyarakat yang berada di pedalaman.

"Masyarakat utamanya yang di pedalaman itu sangat kurang informasi, utamanya yang berada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, itu sangat-sangat sedikit mengetahui info ini," tutur Roihan.

Padahal untuk mendapatkan pinjaman inkubator gratis ini sangatlah mudah, tidak ada persyaratan apapun.

"Tidak ada survei atau apapun, bahkan orang kaya pun pernah minjam. Sebenarnya kita fokusnya bukan pada orang tuanya, kita fokus pada bayinya, kalau memang bayinya sulit, kita akan bantu."

"Mau bayinya agama apa, ras apa, terserah. Karena kita fokus kalau memang bayinya lagi sulit, kita akan tolong tanpa melihat kondisi orang tuanya, baik itu kaya atau miskin, agamanya apa, posisinya seperti apa, dia pejabat atau bukan," jelas Roihan.

Hanya dengan mengirimkan SMS ke 08569312070 dan menuliskan format:

1) Nama Bayi (A, B bila kembar)
2) Tanggal Lahir
3) Berat Lahir, Panjang Lahir
4) Nama, Nomor HP, dan Usia Ibu
5) Nama, Nomor HP, dan Usia Ayah
6) Alamat
7) Rumah sakit tempat di rawat
8) Kapan bayi pulang. Dengan menuliskan format tersebut, tim dari YABAPI akan langsung melakukan tindak lanjut sesegera mungkin.

Merasa tertolong

"Saya sangat merasa terbantu dan tertolong dengan alat inkubator ini baik bagi bayi kembar saya yang selalu terjaga kehangatannya dan terlebih saya sebagai orang tuanya," ujar Ahmad.

"Hanya saja kebetulan daya kelistrikan di rumah saya hanya memiliki daya 450 Watt, terkadang suka turun meteran listriknya (KWH). Jadi suka bergantian pemakaian listriknya karena inkubator ini harus tetap standby dan menyala."

Saat ini, kedua putri Ahmad sendiri masih menggunakan inkubator dari YABAPI.

Satu ungkapan doa terbersit dari kedua orang tua ini. "Laura dan Launa... sehat selalu, panjang umur serta berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negaranya kelak dewasanya nanti," tutupnya lirih.




(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi