Mengenal dekat dengan si pembuat puisi, Sapardi Djoko Damono atau yang sering disebut SDD, di sebuah pagi menjelang siang, Medcom.id mengupas Sang Sastrawan. (Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)
Mengenal dekat dengan si pembuat puisi, Sapardi Djoko Damono atau yang sering disebut SDD, di sebuah pagi menjelang siang, Medcom.id mengupas Sang Sastrawan. (Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)

Sapardi Djoko Damono: Tentang Sastra, Cinta, dan Kehidupan

Rona kisah
Kumara Anggita • 15 Mei 2019 10:02
Mengenal dekat dengan si pembuat puisi, Sapardi Djoko Damono atau yang sering disebut SDD, di sebuah pagi menjelang siang, Medcom.id mengupas Sang Sastrawan. Duduklah dia dengan tenang. Menoleh dengan tatapan dalam seakan diksi-diksi itu siap keluar. Ia langsung berbicara tentang sastra.
 

 
Jakarta: Segelas kopi hitam panas, asapnya tertiup hembusan angin. Semilir di kaki pegunungan disertai senyum ringan. Sekelompok pemuda yang hobi membaca buku duduk di tanah. Sebagian santai di potongan kayu bekas. Bahasan sastra bagai menganyun rasa, sebagian liriknya adalah puisi atau sajak 'Aku Ingin.'

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu."
 
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
 
Torehan Sapardi Djoko Damono lewat sajak Aku Ingin memang ampuh bagi jiwa-jiwa dan cinta. Sebagian liriknya pun menjadi gombalan anak-anak muda yang ingin menambatkan rasa pada seseorang.
 
Slamet Riyadi salah satu pecinta seni, sastra, dan teater jebolan ISTN menyebutkan bahwa puisi atau sajak Aku Ingin memiliki keisitimewaan tersendiri. 
 
"Puisi dan sajak Sapardi syarat dengan falsafah hidup dan kematangan dalam memaknai cinta. Cinta pada sang pencipta dan sesama zat ciptaan Tuhan. Dengan permainan kata yang sederhana, namun dapat menggugah kita ke dalam pengalaman spiritual pribadi masing-masing," papar lelaki yang akrab disapa Mamet ini.
 
"Gue pribadi turut dipengaruhi untuk mengkaji lebih dalam lagi dalam memaknai cinta. Walau tidak semua orang dapat mencerna sebelum menemukan makna sejati dari cinta," ungkapnya lagi.

“Saya setuju (karya sastra dapat melembutkan hati), bukan karena saya sastrawan tapi cara berkomunikasi paling canggih dengan bahasa adalah dengan sastra,” ujar Sapardi Djoko Damono.

Mengenal Sapardi

Mengenal dekat dengan si pembuat puisi, Sapardi Djoko Damono atau yang sering disebut SDD, di sebuah pagi menjelang siang, Medcom.id mengupas Sang Sastrawan. Duduklah dia dengan tenang. Menoleh dengan tatapan dalam seakan diksi-diksi itu siap keluar. Ia langsung berbicara tentang sastra. 
 
"Saya mulai menulis sejak usia 17 tahun," bukanya singkat. Menginjak umur 17 tahun, rupanya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono menyadari bahwa sastra berhasil menggetarkan hatinya. 
 
"Saya menulis puisi karena tertarik pada seorang penyair yang saya idolakan yaitu W.S Rendra dan T.S Elliot,” tuturnya lagi. W.S Rendra dan T.S Elliot membukakan matanya pada keindahan seni tulis menulis ini. "Sampai skripsi saya pertama tentang T.S Elliot, ia adalah panutan saya,” akunya lagi.
 
Bermodalkan 'suka', Sapardi terus menggeluti sastra secara bertahap dengan memberikan tulisannya pada media. Mulai dari sini, ia terus menekuninya. Apresiasi diterimanya dan dari sanalah dia mendapatkan emosi yang positif yang terus memotivasinya.
 
"Saya kirim tulisan-tulisan saya, puisi juga terutama ke majalah-majalah di Jakarta dan diterima. Jadi saya senang," kenang Sapardi sambil melemparkan senyum.
 
Di usia yang masih terbilang dini, ia beruntung karena telah mendapatkan identitasnya. Orang sudah mengenalnya sebagai sastrawan sebelum masuk kuliah.
 
"Secara tak langsung saya sudah jadi sastrawan Nasional. Semua orang kenal dari waktu saya SMA. Ketika saya masuk UGM orang sudah tahu siapa saya. Sajak saya waktu 17 tahun sudah dijadikan sajak wajib pertemuan Kesenian Nasional Indonesia sampai tiga kali," ungkap lelaki berkacamata ini.
 
Seiring waktu berjalan, ia berkuliah di Fakultas Sastra di Universitas Gadjah Mada, dari sini ia semakin mengeksplorasi jiwanya dalam bidang sastra, bahasa, dan seni. Ini memberi energi pada dirinya.
 
Lelaki ramah ini percaya, bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya bakat melainkan niat dan juga konsistensi. 
 
"Dengan modal itu, manusia bisa memproyeksikan ide mengenai dirinya menjadi kenyataan," katanya.
 
Sapardi Djoko Damono: Tentang Sastra, Cinta, dan Kehidupan
(Sapardi Djoko Damono mulai menulis sajak sejak usia 17 tahun. Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)

Mengasah bakat

"Masuk UGM, saya mulai mengembangkan apa yang orang biasa bilang bakat, namun saya tidak percaya pada bakat. Saya percaya pada niat dan konsistensi," tuturnya.
 
Selesai lulus, Sapardi kemudian berencana untuk menjadi guru Sastra Inggris. Tersalurlah cita-cita itu. Di umur 23 tahun, kemudian ia mendapat tawaran untuk membuat jurusan Sastra Inggris di Madiun. “Kemudian saya mendirikan jurusan Sastra Inggris di Madiun, belum ada. Itu 23. Tidak apa,” ujarnya.
 
Sapardi terus mengajar. Dia menyumbangkan ilmunya di berbagai universitas hingga saat ini. 
 
“Lalu saya pindah ke Universitas Dipenogoro. Bosan. Saya bosanan. Kemudian saya ke Jakarta. Awalnya saya tak mau ke Universitas Indonesia (UI) melainkan diminta untuk memimpin sebuah Yayasan Indonesia,” ungkap penulis yang bukunya banyak menjadi best seller ini.
 
“Kemudian saya dimintau UI. Saya kerja di majalah dan mengajar di UI bareng. Kemudian saya dapat kesempatan jadi dekan. Saya lepaskan itu semua. Saya fokus di UI. Setelah pensiun saya keluyuran diminta di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ada juga bantu Universitas Padjajaran, dan Undip,” ungkap Sapardi.
 
Niat dan konsistensi terus bergulir pada dirinya. Sapardi terus merawat cintanya terhadap sastra dengan karyanya hingga saat ini, sampai-sampai dia tak mampu mendeskripsikan perasaannya itu.
 
"Saya tidak bisa mengukur cinta saya terhadap sastra, karena saya merasa bagian dari sastra dan sastra bagian dari saya. Sudah tidak bisa dipisahkan," papar Sapardi.

Membaca karya sastra dapat melembutkan hati dan membuat pembaca berefleksi akan suatu situasi. 

Saat ide tertuang

Mengetahui keindahan puisinya yang tak luntur oleh zaman, banyak juga keingintahuan kapan waktu sang sastrawan merajut kata menjadi puisi atau sajak? Bukan di pagi hari, bukan di sore hari, bukan di malam hari dia bermain dengan tintanya. Ternyata tak ada waktu saklek yang ditentukan oleh yang juga seorang Guru besar ini.
 
Ia bilang, ia akan menulis saat niatnya penuh. 
 
“Saya menganggap menulis adalah bagian dari hidup saya dan juga membaca. Kalau saya sudah niat menulis maka saya menulis,” jawabnya. 
 
Ia tidak perlu mencari suatu situasi. Tak perlu ke luar negeri, bersantai di pantai, dan berjalan ke pinggir kota untuk mencari impresi. Ide itu muncul begitu saja pada momen-momen tertentu. Pada batas yang mantap, ia kemudian akan mengelaborasinya menjadi sebuah tulisan.
 
“Kepala saya ini kan sudah banyak isinya dengan sendirinya muncul,” ujarnya. “Kadang-kadang saya baca koran nonton televisi. Itu kan masuk ke kepala saya semua."
 
Waktu yang dibutuhkan saat menulis beragam. Namun, secara garis besar karya Sapardi bukanlah memakan waktu sehari melainkan bertahun-tahun. 
 
“Macam-macam karya puisi saya. Biasanya sih lama. Yang lain tiga tahun, ada juga yang bertahun-tahun,” tukas penyeruput teh dan kopi ini.
 
Namun, untuk puisi berjudul “Aku Ingin” dan “Hujan di Bulan Juni” beda cerita. Dia membuatnya dengan cepat seakan puisi-puisi tersebut jadi begitu saja. 
 
“Puisi Aku Ingin itu sekali jadi. Tidak tahu kenapa tapi yang lain sampai tiga tahun,” ujarnya.
 
“Tapi kalau Hujan di Bulan Juni cepat sekali. Saya duduk langsung jadi,” ungkap penyuka ubi goreng ini.
 
Saat menulis, Sapardi berfokus pada caranya menyampaikan ide. Penyampaian yang indah akan membuat para pembaca terkesan dan terbawa dalam alurnya. Emosi yang timbul saat itu akan membuat pembaca terus mengingat ide dari sebuah tulisan.
 
“Seorang penulis itu tidak tertarik pada isi yang dia tulis tapi cara menuliskannya. Cara itu yang paling penting bukan isinya,” ujarnya.
 
“Semua orang bisa menulis tentang sesuatu tapi caranya berbeda-beda,” lanjutnya.
 
Sapardi Djoko Damono: Tentang Sastra, Cinta, dan Kehidupan
(SDD tidak perlu mencari suatu situasi. Tak perlu ke luar negeri, bersantai di pantai, dan berjalan ke pinggir kota untuk mencari impresi. Ide itu muncul begitu saja pada momen-momen tertentu. Foto: Dok. Medcom.id/Kumara Anggita)

Apa itu sastra?

Seperti yang dikatakan sebelumnya. Baginya, dia adalah bagian dari sastra dan sastra adalah bagian dari dirinya. Sastra dan Sapardi adalah satu.  
 
Melalui sastra banyak hal yang dapat dilakukannya pada sekitarnya. Sapardi menyetujui bahwa sastra menjadi corongnya untuk menyisipkan misi kemanusiaan. 
 
Membaca karya sastra dapat melembutkan hati dan membuat pembaca berefleksi akan suatu situasi. “Saya setuju bukan karena saya sastrawan tapi cara berkomunikasi paling canggih dengan bahasa adalah dengan sastra,” ujarnya.
 
“Roh sastra masuk sebagai kooperator bahasa. Yang luar biasa makanya orang mengatakan kata itu lebih tajam dari pisau bedah,” ujarnya.
 
Dengan refleksi. Otak memproses ide secara original. Karena itu, orang yang membaca karya sastra dengan sungguh-sungguh akan memiliki kesan tersendiri pada setiap karya.
 
“Orang yang baca sastra dan menghayati dia tidak akan lupa seumur hidup. Tapi coba peristiwa lainnya orang lupa,” ujarnya.
 
Untungnya sastra di Indonesia saat ini terus berkembang ke arah yang lebih baik. Bagi Sapardi, sastra Indonesia sekarang memiliki kuantitas dan kualitas yang luar biasa.
 
“Perkembangan sastra Indonesia luar biasa baiknya. Kalau Anda pergi ke toko buku dan lihat buku sastra membandingkan dengan 10 tahun lalu, belum pernah ada sastra yang seperti ini,” bangganya.
 
“Begitu banyak buku diterbitkan dan penerbit itu mendorong untuk menulis. Di antara itu ada banyak yang bagus,” lanjutnya.
 
Kesuksesan ini dipengaruhi oleh faktor teknologi. Ia bersyukur dengan kemajuan teknologi saat ini. Dia optimis dengan perkembangan sastra Indonesia ke depannya.
 
“Kini karena sastra kita ditunjang oleh kemajuan telnologi luar biasa. Zaman saya tidak ada. Saya mau belajar buat puisi cari majalah. Susah saya hidup di Solo,” ujarnya.
 
“Penyair-penyair muda dan buat cerpen sekarang tinggal buka gadget. Saya sering kaget sajak bagus banget. Yang tak terbayangkan oleh saya itu menyebabkan akal-akalan bahasa. Itu dibantu dengan teknologi modern itu,” tawanya.

SDD menyetujui bahwa sastra menjadi corongnya untuk menyisipkan misi kemanusiaan. 

Definisi cinta dan kehidupan bagi Sapardi

Setiap orang memaknai cinta dengan berbeda. Ini karena pengalaman orang yang bersinggungan dengan cinta juga begitu personal.
 
Sapardi memaknai pahit dan manisnya cinta melalui tiap baris tulisan yang dia ciptakan. Cinta tak melulu melankolis, tak juga selalu bahagia. “Saya banyak menulis sajak cinta. Seperti itulah. Di luar segala definisi,” tukas lelaki penyuka Newsboy cap ini.
 
Yang jelas ia percaya bahwa dengan cinta Anda dapat berubah. Secara spesifik dia memaknai cinta yang berkesan adalah cinta pertama.
 
“Dengan cinta akan mengubah kita, mengubah saya, mengubah Anda. Yang dahsyat itu menurut saya apa yang disebut dengan cinta pertama seumur hidup walaupun tak ada yang tahu,” tukas pria bermode sahaja ini.
 
Cinta pertama jadi dasar dari pembelajaran seseorang untuk mencintai orang-orang berikutnya.
 
“Orang jatuh cinta pertama kali entah itu saat SMP. Dia mungkin ketemu orang, kawin segala macam tapi yang pertama kali ini yang akan menjiwai ke depan-depannya,” ujarnya.
 
Namun, cinta dan pernikahan adalah hal yang bebeda. Baginya, hubungan pernikahan lebih mengarah pada kontrak sosial. Tidak semua pernikahan berlandaskan cinta.
 
“Cinta dan hubungan berbeda. Kalau hubungan kontrak sosial. Kalau cinta itu tak bisa lupa. Susah itu dia,” papar Sapardi.
 
Genap tentang definisi cinta, ternyata Sapardi memilik rasa janggal tentang makna kehidupan. Sampai saat ini, ia masih terus bertanya-tanya mengapa alur kehidupan harus diakhiri dengan kematian.
 
“Orang itu lahir sudah diprogram oleh yang membuat kita untuk hidup. Ketika hidup itu dia menjalani proses. Namun anehnya bagi saya, diprogram untuk hidup tapi kenapa dibunuh juga? Ini bertanya-tanya saya,” ujarnya.
 
Ini membawanya pada proses pencarian. Dia menyalurkannya dengan terus menulis.
 
“Mengapa menciptakan kita untuk dibunuh. Kita diberikan tiket dua jurusan untuk kembali. Pertanyaan ini yang membuat saya ingin menulis terus,” ujarnya.
 
Sejauh ini yang Sapardi temukan adalah makna dari proses kehidupan. Dia membedakan antara makna dan juga takdir. 
 
Manusia mampu membawa nasibnya sejauh apa yang mereka mau dengan usahanya, namun tidak dapat mengubah takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan.
 
“Dalam novel saya nanti yang mau keluar kita bisa mengubah nasib, namun kita tidak bisa mengubah takdir karena takdir sudah ada petanya,” ujarnya.
 
“Kita memperjuangkan nasib, memperjungkan takdir tak ada,” lanjutnya.
 
Buah pemikiran dari pujangga kebanggan Indonesia ini tentang sastra, cinta, dan kehidupan telah mewarnai jiwa-jiwa orang Indonesia. Saat ini ia masih sibuk bersastra dan mengajar. Tak sabar untuk menikmati karya-karyanya selanjutnya.
 


 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif