Founder and CEO Piar Consulting Lolo Sianipar, Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.
Founder and CEO Piar Consulting Lolo Sianipar, Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.

Sepenggal Kisah Sukses Pimpinan Perusahaan PR

Rona kisah
Sunnaholomi Halakrispen • 05 Juli 2019 16:49
Berbagai rintangan dan cobaan dialami Founder and CEO Piar Consulting Lolo Sianipar, sebelum mencapai kesuksesan. Kerja keras adalah satu kunci Lolo mampu menjadi pimpinan agency PR.
 

Jakarta:
Perempuan berprofesi Public Relation (PR) umumnya berpakaian blouse dilapisi blazer formal, celana panjang atau rok span berwarna hitam. Kemudian dilengkapi sepatu pantofel dengan hak tinggi.
 
Namun, tidak bagi Lolo Sianipar. Founder and CEO Piar Consulting ini memiliki gaya berpakaian berbeda yang menjadi ciri khas penampilannya. Pakaian yang modis dan terlihat trendi melekat di dirinya, tetapi bukan tidak senonoh.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meskipun berusia 40 tahun, ia tetap konsisten. Berpenampilan fashionable, sepatu sneakers, dan rambut yang dicat warna-warni. Lolo, sapaannya, ingin terlihat tetap muda. Tak ingin dipandang sebagai PR yang old style atau telihat jadul (zaman dahulu).
 
For us know, PR is not being proper like it use to be. Is like who we are, dan bagaimana kita menyampaikan ide kita, kreativitas kita sama client. Kan itu yang sebenarnya penting di PR. Kalau look kita enggak kreatif bagaimana client mau percaya kalau kita datang dengan something yang sungguh kreatif. As another boring press conference or another boring exclusive interview," ucap Lolo sambil menunjukkan sepatunya.
Sepenggal Kisah Sukses Pimpinan Perusahaan PR
Founder and CEO Piar Consulting Lolo Sianipar, Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.
 
Selama 18 tahun berkiprah di dunia humas (hubungan masyarakat), Lolo mempertahankan kualitas kerja yang profesional.
 
Awal Bentuk Perusahaan PR
 
Perempuan lulusan D3 Universitas Indonesia ini mengawali kariernya sebagai karyawan di salah satu perusahaan multi nasional di Jakarta. Posisi PR melekat meskipun beberapa kali bekerja di perusahaan yang berbeda-beda.
 
“Pernah jadi account director, gaji sudah gede tahun 2008 aku kerja di sana tiga tahun. Tapi bosan saja rasanya kerja sama orang. Ingin something yang baru jadi aku resign saja,” kenangnya.
 
Tak menyukai berada di zona nyaman, ia resign walau belum merencanakan pekerjaan lanjutan. Seiring berjalannya waktu, Lolo didatangi salah satu klien saat ia bekerja di perusahaan sebelumnya. Tak disangka, klien tersebut meminta wanita berbadan ramping ini membuka agency PR sendiri.
 
Dukungan penuh diberikan karena Lolo dinilai sanggup. Bahkan, perusahaan sepatu itu menjadi klien pertamanya. Terbesit kekhawatiran jika Lolo tak bisa menyanggupi dengan lancar rencana tersebut.
 
“Ngerjain PR aku cinta banget, meeting dengan teman-teman media, bikin ide menjadi sebuah kenyataan, aku suka. Tapi kalau buka perusahaan sendiri kan ada pajak, ngurus dokumen, bangun tim, infrastruktur yang harus dipenuhi. Tapi aku merasa ter-challenge sih,” ucapnya.
Sepenggal Kisah Sukses Pimpinan Perusahaan PR
Founder and CEO Piar Consulting Lolo Sianipar, Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen.
 
Tekad yang bulat ditanamkannya hingga memberanikan diri menyewa kos-kosan pada Mei 2011. Sebanyak lima PR Event pun dijabani tim yang hanya dua personil, sudah termasuk dirinya.
 
Selama dua hingga tiga bulan, bekerja menggunakan satu laptop dan satu printer. Berlanjut menyewa ruangan seluas 3x4 di kawasan Bendungan Hilir. Wadah kantor pertama yang bertahan selama dua tahun. Jadi tiga karyawan.
 
Waktu perlahan berlalu, semangat juang menggebu. Kantor Piar Consulting pindah ke Jalan Danau Poso dan beroperaai selama lima tahun. Hingga akhirnya, awal 2018 Lolo mendapatkan tempat yang layak baginya di sekitar Bendungan Hilir, Jakarta Selatan.
 
Kini, ia memiliki 12-15 karyawan. Sengaja tidak banyak, karena baginya kualitas jauh lebih penting dibanding kuantitas. Tiap karyawan pun dipantau agar mempunyai skill yang semakin berkembang.
 
Masalah Silih Berganti
 
Bisnis ini diakuinya tidak berjalan selalu mulus bahkan sejak awal dibentuk. Suka dan duka menghiasi hari-hari Lolo. Ya, bahkan masalah silih berganti.
 
"Paling duka sih sebenarnya saat membuka perusahaan ini karena saya memulainya dengan enggak punya uang karena aku dari dulu YOLO (You Only Live Once atau menjalani hidup melakukan apapun asal bahagia) begitu," kenang dia.
 
Sejak belia, diakuinya, selalu melakukan suatu hal demi pengalaman. Uang yang dihasilkan dari kerja kerasnya digunakan untuk membahagiakan diri. Layaknya anak muda, tidak ingat menabung untuk jangka panjang.
 
"Jadi minjam dari koperasinya adik ipar kayak Rp30 juta bisa dicicil 12 bulan, jadi Rp2,7 juta sebulan. Tapi ternyata banyak banget kebutuhan yang butuh modal, apalagi butuh menggaji," katanya.
 
Dua tahun pertama, bertumpuk tantangan. Mulai dari ide untuk para klien hingga cara membimbing para karyawannya. Apalagi untuk masalah keuangan. Sempat Lolo memberanikan diri meminjam uang teman dekat, namun ditolak.
 
"Di situ kita tahu bahwa orang yang kita pikir sudah dekat banget, minjem Rp10 juta saja tidak percaya sama kita. Padahal gaji temen gue itu Rp40-50 juta. Gue baru sadar di situ, merasa kehilangan dan memulainya dengan berjuang sendiri."
 
Ya, tak berhenti soal uang atau cara mengembalikan modal. Kualitas kerja karyawan juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Lolo enggan berniat sekedar mempekerjakan orang, namun membantu mengembangkan talenta mereka.
 
"Yang paling sedih itu when you want everyone to be the better person, mereka enggak menanggapi dengan baik, tidak paham kalau segala sesuatu gue apresiasi dan malah menanggap kalau gue bos yang galak dan menyebalkan," ungkapnya.
 
Ya, tidak sulit bagi seorang bos memecat bawahannya. Tidak sedikit pula yang melamar kerja ke perusahaan Lolo. Tapi tetap saja, ia berusaha membuat karyawannya lebih baik dan lebih profesional.
 
Menariknya, selalu diberikannya reward untuk setiap pekerjaan yang tuntas. Mengajak karyawan jalan-jalan ke luar negeri bukan hal yang mustahil baginya.
 
Meskipun demikian, ada mata yang tak memandang menyeluruh ke arah niat baik Lolo. Suatu ketika lima karyawan resign tanpa membicarakannya kepada sang pimpinan perusahaan. Menghilang di esok hari. Lolo down.
 
Rasa ingin menyudahi perjuangannya acap kali muncul. Setiap bulan terlintas dalam benaknya untuk menutup operasional kantor Piar Consulting. Padahal, katanya, jika perusahaannya ditutup lalu melanjutkan kerja kantoran, ia sudah bisa bayar ganti pinjaman uang itu.
 
Mudah memang menyudahi apa yang telah dimulai. Tapi Lolo masih merasa berat hati. Seketika teringat orang-orang yang mendukungnya. Lalu tanpa menutup mata, hati kecilnya terketuk dan semangat lagi.
 
"Waktu itu aku punya pacar yang sekarang jadi suami, selalu support aku, sama seperti Mamaku. Walaupun aku enggak tahu harus minjam uang dari mana," ujar Lolo.
 
Menularkan Gaya Muda
 
Sejumlah Rp100 juta untuk dua event harus tersedia. Seakan seperti leher yang sedang diikat kencang. Stres menghantuinya. Tiba-tiba, ada pembayaran masuk dari klien. Peminjaman sebesar Rp50 juta pernah berhasil dikembalikan dalam waktu tiga hari.
 
"You choose your work. When you do your work and then everything fall in to places, kayak puzzle gitu. Jadi kerja saja, lakukan yang terbaik, dan suddenly ada jalannya semua," tekad Lolo.
 
Kalimat itu membulatkan tekadnya, semakin yakin memperjuangkan perusahaan beserta isinya. Anak kedua dari tiga bersaudara itu kini berhasil menjadi pimpinan agency PR dengan ratusan klien dari berbagai genre perusahaan. Ada bank, aplikasi telepon selular, rumah sakit, dan lain-lain.
 
Lolo sangat yakini bahwa ketika mencintai pekerjaan, pasti akan menikmatinya dengan semangat yang menyelimuti hari-hari, meskipun ada banyak rintangan. Jiwa muda yang selalu haus prestasi ditularkan kepada karyawan-karyawannya.
 
Begitu pula dengan gaya muda. Selama delapan tahun mempertahankan agency public relation, Lolo menjaring pelamar kerja muda, sekitar usia 22 tahun. Perempuan yang kini mewarnai rambutnya dengan warna pink itu tak membatasi cara karyawannya mengekspresikan penampilan.
 
Asalkan, terlihat muda dan tidak lusuh. Sebab, baginya, ide bisa tergambarkan dari penampilan seseorang. Mencirikan bahwa perusahaannya datang dengan ide-ide yang kreatif. Ia pun meminta setiap karyawan bergaya yang terbaik dengan nyaman.
 
"Karena how you present client kalau kalian saja tidak mencirikan seperti itu. Kita mewakili mereka dan itu penting untuk tampil maksimal, be your best self. Enggak below standart. So if you wearing sneakers, wear the nicest sneakers. If u wear flat shoes, wear the nicest flat shoes. Bukan yang mahal ya, tapi cocok."
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif