Ciri khas yang paling terlihat adalah anak menjadi lupa waktu dan lupa hal lainnya. (Foto: Zhang Kaiyv/Pexels)
Ciri khas yang paling terlihat adalah anak menjadi lupa waktu dan lupa hal lainnya. (Foto: Zhang Kaiyv/Pexels)

Tanda-tanda Anak Kecanduan Gawai dan Cara Menanganinya

Rona gadget gaya psikologi anak
Yatin Suleha, Kumara Anggita • 18 Oktober 2019 17:03
Jakarta: Saat ini gawai bukan saja menjadi teman dekat orang dewasa, namun juga anak-anak. Buruknya, tak sedikit anak yang sudah kecanduan pada alat yang satu ini.
 
Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi. dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengungkapkan bahwa ini terjadi karena hampir semua hal dibantu oleh teknologi digital. Ini menjadi kebiasaan dan membuat sebagian anak merasa gawai itu bagian dari hidupnya dan sulit melepaskan perangkat gawai tersebut dari kesehariannya.
 
Hal ini sangat disayangkan mengingat bahwa yang dibutuhkan seorang anak dalam tahapan perkembangan kematangan fungsi otak adalah stimulasi yang bersifat real (nyata). Hal yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan mengajak anak melakukan permainan tradisonal, demi mendorong anak berinteraksi dengan orang lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Biasanya permainan tradisional ini butuh melibatkan beberapa pihak seperti anak kecil lainnya. Maka dalam memainkan permainan ini anak bisa melibatkan teman-teman kecil lainnya," ujar Efnie saat dihubungi Medcom.id.
 
Selain itu stimulasi yang bersifat “real” lainnya adalah dengan mengajak anak barrmain science experiment. Misalnya Anda bisa melakukan percobaan sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di rumah.
 
"Misalnya membuat kaca pembesar dari kertas yang dirobek sedikit di bagian tengah. Sehingga membentuk bolongan dan diberikan air di bagian yang bolong tersebut. Jadilah kaca pembesar," jelasnya.
 
"Orang tua bisa mencari sumber ide melalui buku-buku yang dijual di toko buku atau “browsing” di internet. Kemudian ajaklah anak dalam kegiatan olahaga bersama seperti berlari, senam, bermain bola, dan lain-lain," lanjutnya.
 
Dengan kegiatan-kegiatan semacam itu, anak jadi memiliki kehidupan lain di luar sekolah. Kebiasaan ini dapat membuat waktu dia bermain gawai berkurang.

Berapa lama boleh main gawai?

Walaupun sudah berkurang, namun Anda juga belum tahu pasti waktu jumlah waktu ideal digunakan untuk bermain gawai. Pastikan membiarkan anak Anda bermain gawai sesekali saja di waktu yang kosong dan hanya sekitar 90 menit.
 
"Dalam 7 tahun pertama kehidupan anak, sebenarnya memberikan gawai cukuplah hanya sesekali saja. Ini Karena 7 tahun pertama kehidupan ini merupakan “imprint period” artinya informasi yang terbentuk selama 7 tahun pertama ini akan masuk ke alam bawah sadar dan memengaruhi kepribadiaan saat dewasa nanti," jelasnya.
 
"Terkadang, saat anak bermain gawai dia bisa saja lupa waktu, sehingga sosialisasinya menjadi berkurang. Dan ini akan membentuk anak yang saat dewasanya nanti interpersonal skill-nya akan menjadi lemah. Jadi bermain gawai dibatasi misalnya hanya pada saat weekend saja dan dibatasi maksimal 90 menit," lanjutnya.

Tanda-tanda anak sudah adiksi gawai

Psikolog Efnie mengungkapkan, ciri khas yang paling terlihat adalah anak menjadi lupa waktu dan lupa hal lainnya, bahkan makan sekalipun. Ketika gawainya diambil, anak akan marah dan agresif.
 
"Jika demikian segeralah bawa ke ahlinya dan amankanlah gawai dari anak tersebut. Meskipun anak bisa saja menjadi tantrum, namun konsistensi dari kedua orang tua dan orang terdekat untuk tidak memberikan gawai sangatlah diperlukan," paparnya.
 
Bila, Anda sudah yakin bahwa sang buah hati sudah masuk ke tahap kecanduan, maka dibutuhkan terapi dari ahli dalam mengendalikannya.
 
"Biasanya butuh waktu minimal 3 x 30 hari, untuk pemulihan tahap awal. Namun terapi penanganannya tidak bisa berhenti sampai di situ saja," tutupnya.
 
Karena itu, baik untuk Anda dan anak Anda, bersikaplah bijaksana dalam menggunakan gawai. Jangan sampai sebuah barang mengendalikan Anda dan keluarga Anda.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif