Kondisi tersebut sebenarnya memiliki penjelasan ilmiah. Saat seseorang berpuasa selama belasan jam, tubuh tidak mendapatkan asupan kalori baru sehingga cadangan gula atau glikogen di otot dan hati akan berkurang.
Jika olahraga dilakukan terlalu intens dalam kondisi ini, tubuh dapat mengalami kelelahan berlebih bahkan hipoglikemia, yaitu penurunan kadar gula darah secara drastis.
Meski demikian, olahraga saat Ramadhan tetap aman dilakukan selama intensitasnya terkontrol. Salah satu cara yang direkomendasikan adalah memastikan aktivitas fisik tetap berada pada zona detak jantung yang tepat.
Memahami Zona Aman Detak Jantung
Dalam ilmu olahraga, intensitas latihan sering diukur melalui konsep heart rate zones atau zona detak jantung. Setiap zona menunjukkan seberapa berat aktivitas yang dilakukan tubuh.Zona yang paling ideal untuk olahraga saat puasa adalah Zona 2, yaitu ketika detak jantung berada di kisaran sekitar 60–70 persen dari detak jantung maksimal. Pada intensitas ini, seseorang masih bisa berbicara dengan relatif santai saat berolahraga.
Dalam kondisi tersebut, tubuh memanfaatkan cadangan lemak sebagai sumber energi utama sehingga aktivitas fisik tetap efektif tanpa menguras sisa glikogen secara berlebihan.
Sebaliknya, Zona 4 merupakan kondisi intensitas tinggi ketika detak jantung mencapai sekitar 80–90 persen dari kapasitas maksimal. Pada zona ini tubuh membutuhkan energi cepat sehingga membakar glikogen sebagai sumber utama.
Jika kondisi tersebut terjadi saat berpuasa, seseorang bisa lebih cepat merasa lelah, pusing, bahkan kehilangan tenaga.
Karena itu, menjaga agar olahraga tetap berada di zona aman menjadi kunci agar tubuh tetap bugar tanpa mengganggu ibadah puasa.
Tantangan Memantau Detak Jantung Saat Olahraga
Masalahnya, tidak mudah mengetahui apakah seseorang sedang berada di zona detak jantung yang tepat saat berlari atau bersepeda.Mengandalkan perasaan sering kali tidak akurat karena dorongan adrenalin dapat membuat seseorang merasa masih kuat berolahraga meski detak jantung sebenarnya sudah terlalu tinggi.
Menghitung denyut nadi secara manual di pergelangan tangan atau leher juga tidak praktis karena dapat mengganggu ritme olahraga.
Peran Smartwatch dalam Memantau Kondisi Jantung
Di sinilah perangkat wearable seperti smartwatch dapat membantu memantau kondisi tubuh secara lebih presisi. Beberapa smartwatch modern dilengkapi sensor optik yang mampu memantau detak jantung secara real-time selama aktivitas fisik berlangsung.Salah satu contohnya adalah smartwatch Garmin yang memiliki fitur Heart Rate Zone Alert. Fitur ini dapat memberikan notifikasi atau getaran ketika detak jantung pengguna keluar dari zona yang telah ditentukan. Dengan begitu, pengguna bisa langsung menyesuaikan ritme olahraga tanpa harus terus-menerus melihat layar jam.
Pendekatan ini membuat perangkat wearable berfungsi layaknya pelatih pribadi yang membantu menjaga intensitas olahraga tetap aman.
Untuk menentukan zona detak jantung, pengguna biasanya perlu mengetahui detak jantung maksimal terlebih dahulu. Salah satu metode yang umum digunakan adalah rumus sederhana 220 dikurangi usia.
Sebagai contoh, seseorang berusia 42 tahun diperkirakan memiliki detak jantung maksimal sekitar 178 bpm. Angka tersebut kemudian digunakan sebagai acuan untuk menentukan zona latihan yang sesuai.
Perangkat seperti smartwatch juga dapat memperbarui perkiraan ini berdasarkan data latihan yang terekam dari waktu ke waktu.
Mengatur Zona Detak Jantung di Smartwatch
Pada perangkat seperti Garmin, pengguna dapat mengatur target zona detak jantung langsung dari menu aktivitas olahraga. Caranya dengan membuka menu olahraga lari, masuk ke pengaturan aktivitas, lalu memilih opsi peringatan detak jantung sesuai zona yang diinginkan.Ketika detak jantung melewati batas yang ditentukan, smartwatch akan memberikan getaran sebagai sinyal untuk menyesuaikan kecepatan atau intensitas latihan.
Keluhan pusing saat olahraga di bulan puasa umumnya terjadi karena intensitas latihan terlalu tinggi saat tubuh sedang kekurangan energi.
Dengan memahami konsep zona detak jantung dan memanfaatkan perangkat pemantau kebugaran, aktivitas olahraga dapat dilakukan dengan lebih aman.
Pendekatan ini memungkinkan seseorang tetap menjaga kebugaran tubuh selama Ramadhan, sekaligus memaksimalkan pembakaran lemak tanpa harus khawatir kelelahan berlebihan saat berpuasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News