Psikolog dari Yayasan Praktik Psikologi Indonesia yaitu Dessy Ilsanty. (Medcom.id/Kumara Anggita)
Psikolog dari Yayasan Praktik Psikologi Indonesia yaitu Dessy Ilsanty. (Medcom.id/Kumara Anggita)

Berbagai Perasaan akan Muncul saat Proses Perceraian

Rona perceraian
Kumara Anggita • 18 Desember 2019 17:06
Jakarta: Perceraian bukanlah hal yang mudah. Bila tidak dilewati dengan cara yang tepat, risiko trauma yang muncul jauh lebih besar.
 
Karena itu, Anda harus mengakalinya dengan beberapa cara. Berikut penjelasannya oleh Psikolog dari Yayasan Praktik Psikologi Indonesia yaitu Dessy Ilsanty.
 
Biarkan emosi mengalir

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dessy menjelaskan bahwa bila ada berbagai perasaan yang muncul saat proses perceraian adalah sesuatu yang wajar. Biarkan emosi tersebut mengalir.
 
"Perasaan sedih dan kecewa adalah sesuatu yang wajar. Awalnya nikamati saja perasaan tersebut. Tapi jangan lama-lama apalagi ada anak yang menjadi pemicu kita untuk gerak maju,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 18 Desember 2019.
 
Jadikan masa lalu sebagai pembelajaran
 
Selain itu, Anda juga sebaiknya merelakan apa yang telah terjadi sebelumnya. Anda tidak perlu berpura-pura melupakan masa lalu Anda.
 
“Cara untuk tidak mengingat masa lalu. Pengalaman pahit itu bukan sesuatu yang harus dilupakan. Disimpan iya. Ibarat kalau ada kotak disimpan di pojok. Kita tahu ada di situ. Memori dihadirkan sebagai bentuk pembelajaran. Lihat pula, apa kontribusi saya pada hal tersebut (perceraian),” ujarnya.
 
Tak usah mengeneralisasi semua orang sama
 
Hal yang dilakukan orang ketika terluka adalah melindungi dirinya. Cara yang umum dilakukan orang-orang adalah menggeneralisasi orang lain seperti orang yang sebelumnya melukainya. Pemikiran ini harus dibuang jauh-jauh, karena tak akan memberikan perubahan yang baik.
 
“Jangan mengeneralisasi. Ketika suami Anda  seperti itu maka semua laki-laki seperti itu. Tak boleh. Atau kalau saya nikah lagi akan begini lagi. Enggak juga. Bisa jadi iya (berakhir sama) kalau pola perilaku tak berubah. Akan tetapi, kalau pola perilaku kita berubah, pasti berubah (hasilnya),” ungkapnya.
 
Mengubah pola perilaku
 
Mengubah diri dapat membuat orang-orang di sekitar juga berubah. Bahkan ketika Anda bertemu dengan orang yang setipe dengan mantan pasangan Anda hasilnya juga bisa berubah.
 
“Lihat sesuatu yang baru. Kalau kita bertemu orang mirip suami kita dulu tapi pola perilaku kita berbeda maka dia juga beda. Simpan yang lalu, belum tentu sama seperti yang lalu,” ungkapnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif