Ilustrasi-Pixabay
Ilustrasi-Pixabay

Ketika Cinta Berubah Menjadi Obsesi

Rona hubungan pasangan
Kumara Anggita • 05 Desember 2019 13:42
Jakarta: Jatuh cinta adalah perasaan yang positif. Namun pada prosesnya, beberapa faktor mampu menggesernya menjadi obsesi.
 
Seperti yang dilansir Bustle, ada sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine pada 2010 menemukan bahwa, jatuh cinta sama seperti orang menggunakan kokain. Ini karena ada bagian otak yang diaktifkan.
 
"Dalam beberapa hal, Anda bahkan dapat berkeinginan untuk bersama pasangan Anda dari waktu ke waktu, dan itu dapat memengaruhi kemampuan Anda untuk berfungsi dalam kegiatan sehari-hari,” ujar Judy Ho, PhD, neuropsikolog klinis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bagi sebagian orang, kehilangan pasangan mereka bahkan bisa menjadi obsesi. Menurut Ho, kombinasi faktor sosial, kepribadian, dan biologis semuanya berperan. Semua orang terkena efek jatuh cinta dengan berbeda.
 
Misalnya, beberapa orang lebih cenderung ke arah pemikiran obsesif, sementara yang lainnya lagi memiliki sifat kepribadian yang menyebabkan mereka memikirkan hal-hal yang sama berulang-ulang.
 
Jika Anda merasa kehilangan pasangan dengan cara yang memengaruhi rutinitas harian Anda, penting untuk menemukan cara sehat untuk menanganinya.
 
Namun bila kangen-kangen saja. Itu adalah hal yang biasa dan Anda tak perlu khawatir. Para ahli mengatakan perasaan ini sepenuhnya normal. Terdapat bahan kimia di otak yang berperan di sini.
 
"Emosi cinta mengubah neurobiologi otak Anda," kata psikoterapis Puja Parikh, LCSW.
 
“Perasaan baik neurotransmitters dilepaskan ketika Anda memeluk, mencium, berhubungan seks, dan berbagi momen intim dengan pasangan Anda. Anda membentuk ikatan dan Anda mengasosiasikan pasangan Anda dengan kesenangan dan kebahagiaan,” paparnya.
 
Saat Anda terikat dengan seseorang, otak Anda melepaskan bahan kimia seperti dopamin, oksitosin, dan serotonin. Ho mengatakan bahwa bahan kimia tersebut tidak hanya membuat Anda merasa baik dan membantu Anda mempertahankan rasa kesejahteraan.
 
Bahan-bahan tersebut menuntun Anda untuk mencari stimulus yang memberi kesenangan di tempat pertama. Dalam hal ini, stimulus tersebut adalah pasangan Anda.
 
Karena itu, ketika Anda harus terpisah, Anda secara otomatis merasa kehilangan dan ingin bersamanya lagi. Ketika ini tidak bisa dilakukan, Anda jadi merasa kangen.
 
“Ketika Anda terpisah dari mereka, otak Anda secara naluriah akan mencari mereka untuk mendapatkan imbalan itu lagi," kata Ho.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif