Batik for The World, Persembahan Batik Peradaban Bangsa di UNESCO

Yatin Suleha 10 Juni 2018 11:49 WIB
batik
Batik for The World, Persembahan Batik Peradaban Bangsa di UNESCO
Batik For The World resmi dibuka Rabu, 6 Juni 2018 lalu di Hall Salle 1, kantor pusat UNESCO, Paris. (Foto: Dok. Imagedynamics)
Paris: Setelah proses panjang untuk mengangkat kembali kekayaan, perkembangan dan sejarah Batik Indonesia kepada dunia, Batik For The World resmi dibuka Rabu, 6 Juni 2018 lalu di Hall Salle 1, kantor pusat UNESCO, Paris.

Kegiatan yang dibuka dengan pagelaran busana dari Oscar Lawalata, Edward Hutabarat, dan Denny Wirawan ini menuai decak kagum dari para undangan yang hadir pada malam itu. 

Pagelaran busana ini ditampilkan dalam gedung konferensi yang biasa digunakan untuk konferensi para anggota UNESCO dari seluruh dunia. Oscar sendiri membawa batik dari lima daerah di Jawa Timur, diantaranya Madura, Surabaya, Ponorogo, Trenggalek dan Tuban dalam tampilan koleksi ready to wear.



(Setelah proses panjang untuk mengangkat kembali kekayaan, perkembangan dan sejarah Batik Indonesia kepada dunia, Batik For The World resmi dibuka Rabu, 6 Juni 2018 lalu di Hall Salle 1, kantor pusat UNESCO, Paris. Foto: Dok. Imagedynamics)

Untuk koleksi yang ditampilkan, Edward Hutabarat memboyong batik dari daerah pesisiran Mega Mendung dan Sawung Galing dengan memadukan motif garis yang menjadi identitasnya. Edward Hutabarat mempresentasikan batik dalam wedding gown, beach wear, resort look, dengan tampilan longgar dan ringan. 

(Baca juga: Desainer Asal Italia Suguhkan Batik Tulis di IFW 2018)

Sementara Denny Wirawan menghadirkan inspirasi koleksi terbaru dari kain Batik Kudus, warisan budaya dari pesisir Jawa Tengah yang berkembang sejalan dengan perkembangan kerajaan di Jawa.

Permainan tabrak corak khas Denny Wirawan dengan kain batik Kudus yang menampilkan motif flora dan fauna nan elok dengan penuh warna ceria, dipadu dengan embroidery akan menjadi inspirasi busana cocktail dan evening wear. 

Selain pagelaran busana yang membuka kegiatan Batik For The World tersebut, pengunjung juga dapat melihat pameran Batik Indonesia dari beragam daerah di Hall Miro dan Hall Segur, kantor pusat UNESCO, Paris.

Sekitar 100 kain batik Indonesia yang dikurasikan bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI), Rumah Pesona Kain, dan Oscar Lawalata Culture ini menampilkan keragaman kekuatan motif batik-batik lawas yang khas hingga motif batik yang telah dikemas secara modern. 

Serangkaian kegiatan lain yang bisa dijumpai pengunjung antara lain mendatangi area pengrajin yang menampilkan demo proses membuat kain batik hingga talkshow mengenai industri batik Indonesia dan perkembangannya, tradisi batik dan budayanya, serta cara memakai kain batik itu sendiri.





(TIN)