Sesaat setelah azan Magrib berkumandang, para petugas pengamanan di depan Bawaslu pun berbuka puasa. (Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)
Sesaat setelah azan Magrib berkumandang, para petugas pengamanan di depan Bawaslu pun berbuka puasa. (Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Yang Setia Menjaga Indonesia

Rona kisah
Dhaifurrakhman Abas • 28 Mei 2019 17:03
Jakarta: Kepala Asril Alimin mendadak pening. Gara-garanya, rencana libur Lebaran bersama keluarga terancam batal. Sudah lebih satu bulan Brigadir Polisi dari Brimob Riau itu berada di Jakarta, bertugas untuk menjaga keamanan pada pesta rakyat pemilu 2019.
 
Tapi hingga sekarang, dia, bersama anggota korps Brimob lainnya belum dapat komando untuk balik kanan. Padahal di hati kecilnya ada perasaan untuk sejenak pulang ke rumahnya di Pekanbaru, Riau. Untuk merasakan nikmatnya berkumpul bersama istri dan empat anaknya di bulan Ramadan.
 
Apalagi barusan dia ditelepon anaknya dari kampung halaman. Dari sambungan telepon, Anak pertamanya itu mengajukan protes, sang bapak belum juga pulang-pulang. Padahal perwira polisi lain di sekitar rumahnya selalu pulang usai bertugas dan berbuka bersama istri dan keluarga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kok ayah ndak pulang-pulang. Padahal polisi lain pulang ...," kata Asril menirukan pertanyaan anaknya.
 
Asril cuma tertawa kecil mendengar pertanyaan lugu yang dilontarkan anaknya itu. Maklum, dia tidak mau anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah itu terlibat banyak soal urusan pekerjaannya. Apalagi sampai harus tahu kalau dua hari belakangan ada kerusuhan yang terjadi di Jakarta karena sekumpulan orang tak menerima hasil pemilu 2019.
 
"Kalau kami kasih kabar ke rumah tentu yang baik-baik aja. Istri aja cuma yang tahu," ucapnya ketika berbincang dengan Medcom.id.
 
Dia hanya mampu menebar senyum ketika ditanyakan kapan kembali ke kampung halaman oleh anaknya itu. Satu yang pasti, dia sudah diberikan mandat untuk bersiaga di ibu kota sampai situasi dianggap aman.
 
"Kalau namanya perintah ini belum ada kepastian. Kalau situasi belum betul-betul aman, kita enggak ada kepastian untuk pulang," ujar Asril.
 
Yang Setia Menjaga Indonesia
(Anggota korps Brimob yang berjaga di depan Bawaslu. Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Keseharian

Asril mulai ditugaskan dari Pekanbaru ke Ibu Kota Jakarta sejak 18 April lalu. Sampai di Jakarta, instruksinya cuma satu. Merawat ketertiban Indonesia.
 
Adapun beberapa tugas yang dia kerjakan di Jakarta antara lain mengamankan jalannya pemilu 2019 agar berlangsung damai. Selain itu, dia juga ditugaskan mengawal aksi Mayday yang berlangsung pada 1 Mei 2019 lalu. Dia ditugaskan menjaga ketertiban dari kawasan Monumen Nasional (Monas).
 
"Seminggulah kami di situ. Habis itu baru pindah ke Wisma Atlet, Kemayoran," ujarnya.
 
Sampai di Kemayoran, Jakarta Utara, Asril bersama rekannya juga mesti bolak-balik ke Jakarta Pusat untuk mengamankan kondisi di Mahkamah Agung. Selebihnya, kesehariannya dihabiskan untuk berlatih dan mengikuti komando dari atasannya untuk memelajari dan patuh terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam mengawal aksi unjuk rasa.
 
Saat ditanyakan prosedur, Asril terlihat amat semangat menerangkannya. Dia paham betul bagaimana menerangkannya secara ringkas agar mudah dimengerti. Mafhum, dia sudah bertugas sebagai abdi negara selama belasan tahun.
 
"Kalau namanya pengamanan ini, unjuk rasa, kita enggak boleh pakai senjata tajam atau senjata api. Yang boleh itu hanya pimpinan. Hanya dia yang berhak melindungi anggotanya," ujarnya.
 
"Kalau sekadar orasi, kita lakukan negosiasi. Kalau dia sudah mengancam jiwa, baru kita bisa lakukan tindakan keras. Tindakan keras juga macam-macam, ada tangan kosong, ada dengan berkumpul, gas air mata," ucap Asril menerangkan dengan sangat detail.
 
Saat asyik menjelaskan seluk-beluk SOP pengamanan, telepon genggamnya kembali berdering. Istrinya menelepon. Kali ini ada juga suara Tito Karnavian di ujung sambungan.
 
"Anak saya yang nomor empat," ujar dia malu-malu. Anak keempatnya itu ia beri nama seperti Kapolri saat ini, Jenderal Tito Karnavian.
 
Dari kejauhan, derai air mata Asril sangat jelas ditahan agar tidak tumpah. Lagipula saat berbincang, dia sedang bertugas. Bukan saatnya bersedih. Katanya, dia harus profesional menjalankan tugasnya mengamankan negara.
 
"Sebetulnya saya harus tetap dalam keadaan siap. Tapi kalau bicara anak, enggak kuat saya," ujarnya mulai berkaca-kaca.
 
Yang Setia Menjaga Indonesia
(Berbuka puasa bersama sesaat setelah azan Magrib berkumandang. Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Unjuk rasa berakhir rusuh

Usai melepas rindu dan menutup sambungan telepon, Asril kembali berbicara banyak dengan saya. Kali ini, dia bercerita soal aksi unjuk rasa yang berakhir rusuh pada 21-22 Mei 2019 lalu di depan Gedung Bawaslu.
 
Unjuk rasa tersebut terjadi karena sekelompok massa menolak hasil pemilu yang dimenangkan pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Kata Asril, mulanya aksi unjuk rasa berjalan damai.
 
Bahkan polisi memberikan kelonggaran massa untuk menyampaikan pendapat sampai malam hari. Massa dan pihak polisi juga sempat berbuka puasa bersama dan menjalankan salat tarawih berjemaah.
 
"Saya sempat balik dari Mahkamah Agung, lalu berangkat ke wisma. Setelah itu dapat kabar kalau rusuh," beber dia.
 
Baru sampai di tempat peristirahatan, Asril bersama regunya langsung diterjunkan untuk mengamankan lokasi. Situasi kacau saat itu tak terelakan. Kerusuhan menjadi-jadi.
 
Menurut saksi mata, Wida Semito, rusuh mulai merebak pada pukul 21.05 WIB. Kala itu, kata dia, petugas keamanan yang berjaga di lokasi, diolok-olok dan diacungkan jari tengah oleh beberapa orang pemuda di depan Gedung Bawaslu.
 
Wida bilang, para perusuh itu sempat mengajak massa lainnya yang masih ramai di jalanan. Tapi tidak semua massa mau menuruti permintaan sekelompok pemuda tersebut.
 
"Sampai akhirnya mereka merobohkan kawat berduri di depan gedung Bawaslu," kata Wida saat berbincang dengan Medcom.id.
 
Aksi sekelompok pemuda tersebut terendus oleh pihak kepolisian. Mereka lalu ditangkap dan diamankan. Rupanya aksi penangkapan itu mengundang simpatik massa yang melihatnya. Massa yang tadinya tak mau ikut campur malah ikut menggempur polisi.
 
"Tiba-tiba polisi bergerak dan menguasai situasi. Sampai kami, warga yang hanya melihat dari atas JPO (jembatan penyebrangan orang) ikut dibubarkan polisi," ungkap Wida.
 
Melihat situasi mulai memanas, Wida lantas buru-buru pulang ke kediamannya. Dia sempat melihat massa mulai menyerang aparat, dan memprovokasi dengan mercon dan kembang api. Pihak keamanan kemudian merespons dengan menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa.
 
Para perusuh pun tak mau kalah, mereka membalas dengan melemparkan botol plastik dan batu ke arah petugas yang terus menembakkan gas air mata untuk meredakan suasana. Sementara itu, di depan Gedung Djakarta Theater terlihat tiga titik api yang dibuat pedemo.
 
Asril pun mengungkapkan hal serupa. Katanya, sesampai di lokasi pengunjuk rasa kian memanas. Dia langsung berkumpul dengan petugas lainnya membentuk barikade. Dia sempat melihat rekannya dari Sabhara Polri yang terluka akibat kericuhan.
 
"Saya di belakang dia pas. Anak Sabhara Polda Metro. Dengar kabar terakhir, hidungnya sampai patah," kenang Asril.
 
Kericuhan terus meluas hingga mengarah ke wilayah Petamburan dan Pasar Slipi, Jakarta Barat, sempat membuat aparat keamanan kewalahan dalam membubarkan massa. Polisi akhirnya berhasil memukul mundur para pelaku aksi kericuhan. Kondisi baru mulai kondusif pada Rabu, 22 Mei 2019.
 
Yang Setia Menjaga Indonesia
(Situasi saat pendemo mengarah ke Bawaslu. Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Situasi kondusif

Siang itu, Jumat 24 Mei 2019, sekumpulan Polisi masih berjaga-berjaga di depan gedung Bawaslu, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Mereka duduk, mengobrol satu sama lainnya.
 
Tidak sedikit pula yang memilih merebahkan badan di atas aspal dan trotoar yang panas karena teriknya matahari. Sekadar ingin menghilangkan rasa lelah, sekaligus menjaga kerongkongan tidak cepat kering. Maklum, buka puasa masih lima jam lagi.
 
Berpakaian serba hitam lengkap dengan tameng, pelindung badan dan stick baton, anggota Korps Brigade Mobil (Brimob) itu mulai bisa bersantai sejenak. Tetapi mata mereka tetap awas melirik kiri dan kanan, dan siap menerima arahan dari atasan.
 
Meskipun tidak lagi tampak pengunjuk rasa. Tidak pula ada perang petasan dan tembakan gas air mata. Hanya terlihat beberapa jurnalis masih memonitor kondisi di depan Bawaslu dan beberapa warga berswafoto serta memberikan tangkai bunga untuk para polisi dan TNI.
 
"Izin foto, Ndan," kata warga tersebut.
 
"Iya boleh," balas petugas sambil melemparkan senyum ke arah kamera.
 
Sementara itu, banyak yang menilai aksi yang dilakukan polisi pada kerusuhan tempo hari, menelan korban tak bersalah. Dari mulai wartawan dan tim medis yang dianaiaya polisi, hingga beredar serangkaian isu tak berdasar yang yang menjurus untuk menjatuhkan martabat Polri.
 
Ya. Mereka memang polisi yang punya otoritas untuk mengambil tindakan tegas. Tapi apa yang mereka lakukan seharusnya sesuai dengan mandat yang diberikan.
 
Mereka harus tetap netral berdiri di tengah. Tidak berpihak kepada yang simpati maupun si penebar hoaks. Sebab mereka sejatinya punya tanggung jawab untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Bukan sebaliknya.
 
"Bagaimanapun pandangan orang ke kami, pro maupun kontra, kami akan tetap berdiri di tengah, merawat dan menjaga Indonesia," pungkas Asril.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif