Jakarta: Pengguna jasa ojek berbasis online (Ojol) terkadang semena-mena menggunakan aplikasi pemesanan demi mendapatkan pelayanan terbaik. Padahal di satu sisi, itu menjadi salah satu kerugian buat para driver atau mitra ojek online.
Beberapa waktu ke belakang, ada saja ulah pengguna jasa atau customer ojek online. Seperti membatalkan pesanan makanan, padahal sang driver sudah memesan makanan sesuai orderan dan siap diantar. Ada lagi yang membatalkan jemputan, hanya karena driver dianggap terlalu lama mem-pick up si penumpang.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Lalu apa motif dari si pengguna jasa ojek online? Apakah mereka benar-benar hanya ingin mendapatkan pelayanan terbaik? Tidak semuanya.
Terkadang ada yang memanfaatkan situasi tersebut dengan alasan hanya mencari sensasi. Kasus seperti ini, menurut Psikolog Jovita Maria Farliana M. Psi Psikolog, dari Rumah Sakit Royal Taruma, Jakarta, bisa dilihat dari rentang usianya. Biasanya mereka hanya berniat iseng saja.
“Kadang ada yang konyol. Pada dasarnya yang memesan itu hanya iseng saja. Mereka sudah ada rencana dari awal untuk mengerjai si driver. Ini biasanya dilakukan oleh para remaja,” ujar Jovita kepada Medcom.id.
“Niat mereka selain iseng, juga didasari karena persaingan. Mereka berlomba-lomba mendapatkan sensasi dan hadir kebanggaan dalam diri mereka,” lanjutnya.

Salah satu kejahilan customer ojek online (Ojol). Foto: Dramaojol
Sementara itu bagi orang dewasa. Mereka bukan mencari sensasi, melainkan gara-gara terlalu menunggu kelamaan. Sehingga tanpa berpikir panjang membatalkan pesanannya dan mencari driver lain.
“Mereka biasanya ogah menunggu kelamaan. Jadi di-cancel. Ini karena karakter pribadi si pemesan yang enggak sabaran. Mudah impulsif tapi tidak memikirkran nasib si driver,” jelasnya
Jovita menyayangkan sikap-sikap yang tak berguna tersebut. Sebab tidak adanya sikap empati dalam diri mereka. Sehingga tak berpikir panjang terhadap kerugian yang diemban para driver yang menjadi korban mereka.
Tapi tahukah Anda, jika para driver bakal menerima berbagai kerugian jika Anda membatalkan orderan. Seperti performa turun yang berdampak pada pemasukan mereka. Seperti tidak ada bonus yang didapat. Bahkan yang lebih pahit, para driver bakal mendapatkan suspend atau tidak boleh mengambil orderan selama satu hingga tiga hari.
“Dampaknya bukan hanya ke performa ke driver. Tetapi juga kemarahan si driver. Mereka akan posting ke media sosial dan menyerukan untuk tidak mengambil customer semacam itu. Bahkan yang lebih parah, ada tipikal yang tidak bisa menerima keadaan, sehingga tersulut emosinya,” terang Jovita.
“Untuk tipikal tersebut, mungkin dia telah beberapa kali mendapatkan pelanggan yang membatalkan pesanannya,” tutur Jovita.
Ke depannya, diharapkan tak ada lagi kasus-kasus terseebut. Tentunya bagi para pemesan. Mereka sebaiknya berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
