Presiden ke-3 RI BJ Habibie--Antara/Akbar Nugroho Gumay
Presiden ke-3 RI BJ Habibie--Antara/Akbar Nugroho Gumay

Kisah Habibie Layak Jadi Inspirasi Milenial

Rona Habibie Meninggal Dunia
Sunnaholomi Halakrispen • 13 September 2019 18:05
Jakarta: Publik tengah berduka dengan wafatnya Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. Sosok Bapak Teknologi Indonesia yang rendah hati itu meninggalkan segudang hal baik yang telah dilakukan semasa hidupnya untuk Bangsa Indonesia.
 
Bukan sekedar cerdas, tapi sangat brilian. BJ. Habibie layak dijadikan inspirasi milenial. "Di luar kebriliannya dia dalam hal inteligensi, beliau juga orang yang pekerja keras dan penuh prinsip. Dia bisa mempertahankan prinsip. Nah ini yang harus dicontoh sama generasi milenial," ujar Jovita Ferliana, M.Psi, selaku psikolog anak dan keluarga kepada Medcom.id.
 
Generasi milenial, kata Jovita, terpapar dengan banyaknya informasi dari teknologi di era digital ini. Apalagi di media sosial, contohnya melihat instagram yang mempublikasikan beragam pendapat dari banyak orang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada yang isinya saling bertolak belakang, yang satu mencerca yang satu, jadi menimbulkan kebingungan. Nah, kalau kita berkaca dari Pak Habibie berarti kita punya suatu prinsip yang memang kita pegang teguh," tuturnya.
 
Prinsip hidup tersebut yang menggambarkan tidak mudahnya Habibie terbawa arus, mengikuti ajakan orang lain. Jovita mengiyakan bahwa ajakan negatif di media sosial tak sedikit, di antaranya nyinyir, julid, bullying, penghakiman terhadap orang lain, dan sebagainya.
 
Selain itu, kerja keras Habibie pun perlu diikuti. Sebab, kebanyakan anak-anak generasi milenial tidak menyukai proses yang terlalu lama atau gemar melakukan hal-hal yang instan. Menginginkan segala hal yang cepat, enggan untuk mengantri, dan sebagainya.
 
"Sebetulnya di satu sisi itu bukan salah mereka karena memang sekarang bergeraknya ke situ semua. Tapi tetap yang namanya kegigihan, keuletan, ketekunan, itu tetap harus ada pada diri milenial sekarang," imbuh dia.
 
Apabila nantinya semakin banyak mesin yang canggih, milenial tetap bisa berkarya dengan maksimal dan tidak kalah dari mesin. Milenial seharusnya memiliki prinsip, kegigihan, semangat, dan wawasan yang luas yang tidak begitu saja mudah didapatkan. Perlu melalui proses tentunya.
 
"Nah, proses yang dilalui ini adalah proses yang panjang dan tetap butuh kemauan yang keras. Ini harus ada supaya hakekat sebagai manusia itu tetap ada walaupun nantinya banyak pekerjaan yang dilakukan oleh mesin," paparnya.
 
Penerapan sikap positif BJ. Habibie bisa membentuk jiwa yang memiliki daya saing. Jovita menekankan, hal yang tidak tergantikan oleh mesin ialah imajinasi, kreativitas, dan kerja sama yang baik dengan orang lain. Termasuk, sifat atau etos-etos kerja yang positif seperti ketekunan, kedisiplinan, dan kerja keras.
 
"Seperti yang kita lihat di sosok Pak Habibie selama ini. Loyalitasnya beliau. Bahkan beliau ditawarkan kerja di Jerman tapi tetap memilih negaranya. Padahal kalau dilihat kan bisa saja milih Jerman, membangun Jerman. Tapi itu tidak dia lakukan. Ini yang harus ada di diri milenial," pungkasnya.
 
Western style, juga salah satu sikap yang digemari milenial. Menurut Jovita, pengaruh kebarat-baratan bisa semakin meninggalkan ke-Indonesia-an para milenial. Padahal, penggunaan barang buatan Indonesia pun terlihat bagus, bahkan tak sedikit barang yang dijual di luar negeri ternyata bertuliskan Made in Indonesia.  
 
"Kecintaan terhadap bangsa, kecintaan terhadap negara, terhadap produk-produk kita, itu yang perlu juga dimiliki oleh generasi milenial. Seperti yang kita lihat pada Almarhum Pak Habibie itu," pungkasnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif