LestariMoerdijat, si penyintas kanker payudara, penyakit itu tak menjadi penghalang kebahagiaannya. (Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
LestariMoerdijat, si penyintas kanker payudara, penyakit itu tak menjadi penghalang kebahagiaannya. (Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

Kanker Payudara Bukan Penghalang Kebahagiaan

Rona kisah
Sunnaholomi Halakrispen • 10 November 2019 12:26
Jakarta: Wanita karier, bekerja sekuat tenaga sambil mengurus rumah tangga. Tiada yang sempurna tanpa kebahagiaan. Kanker payudara sendiri masih menjadi penyakit yang menakutkan bagi para wanita.
 
Namun bagi Lestari Moerdijat, si penyintas kanker payudara, penyakit itu tak menjadi penghalang kebahagiaannya. Wanita karier yang aktif di beragam kegiatan sosial ini bahkan tak merasakan gejala apapun selama ini.
 
Tapi penyakit ganas itu bukan hal yang tabu baginya. Wakil Ketua MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) ini sebelumnya bersentuhan dengan kanker selama sang ibu berjuang yang akhirnya meninggal karena kanker di usia 51 tahun lebih 1 bulan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Didiagnosa saat usia dia 40 tahun dan usia saya 10 tahun. Beliau survive selama 11 tahun. Keseharian saya terbiasa menemani beliau berobat, sempat beberapa bulan di Belanda," kenangnya.

Memantapkan batin

Tahun 2016, ketika pertama kali mendengar bahwa dirinya menderita kanker payudara HER2 Positif, kaget dirasanya. Sebab, tak ada gejala. Faktor genetik sangat mungkin menjadi penyebabnya.
 
Selain sang ibu, dua saudara dari ayahnya juga mengidap penyakit kanker. Di usia 49 tahun, Rerie, sapaannya, memeriksa kondisinya dan ternyata sel kanker telah ada dan berkumpul di satu tempat dalam tubuhnya.
 
Setelah berkonsultasi dengan dokter, tanpa pikir panjang. Wakil Ketua Media Grup ini segera memutuskan agar dokter melakukan tindakan lanjutan.
 
Kanker Payudara Bukan Penghalang Kebahagiaan
(Lestari Moerdijat, si penyintas kanker payudara, penyakit itu tak menjadi penghalang kebahagiaannya. Ia pun tetap giat beraktivitas dan saat ini duduk menjadi Wakil Ketua MPR periode 2019-2024. Foto: Dok. Lestari Moerdijat)
 
"Dokter kasih kesempatan untuk bicara dengan keluarga. Tapi saya bilang enggak. Karena kanker itu ada golden time, ada waktu di mana kita tidak boleh menunda dan harus segera melakukan tindakan," katanya dengan tegas.
 
Ia memikirkan jadwal kegiatannya yang padat. Kegiatan bersama anak, menghadiri acara APEK, menjelang ulang tahun Partai NasDem, dan mendekati ulang tahun MetroTV. Tak ada waktu jika operasi diundur.
 
Tak lupa ia menyampaikan kondisinya ke keluarga dan pihak kantor. Semua mendukung. Bagai tak kenal lelah, setelah operasi dan menyelesaikan tugasnya di beragam kegiatan itu, dia kembali menjalankan perawatan intensif.
 
"Saya ingin menyampaikan kepada semua perempuan bahwa saya sendiri meskipun sudah melek terhadap pemahaman kanker, tapi termasuk terlambat melakukan pemeriksaan yang seharusnya sudah saya lakukan saat usia 45 tahun," akunya.

Takut itu manusiawi

Sambil melipat kedua tangannya, Rerie menjelaskan bahwa pemeriksaan secara rutin harus dilakukan. Sering kali, katanya, perempuan terlambat menyadari betapa pentingnya memeriksa kesehatan secara menyeluruh. Apalagi soal kanker payudara. Keterlambatan itu bisa berakibat fatal, kematian.
 
"Ketika kita dikabarkan terkena kanker, manusiawi ketika takut atau down. Tapi ketika kita melakukan deteksi sedini mungkin, angka kesembuhannya itu bisa sangat maksimal," tekannya.
 
Kanker payudara HER2 positif memang jenis yang agresif, sangat cepat berkembangnya. Bukan hanya gangguan fisik yang dirasakan penderita kanker, tetapi juga psikis. Perasaan takut, hormon yang menurun, darah putih yang mencapai angka nol.
 
"Kemoterapi enam kali, radiasi 25 kali. Lalu seperti kemoterapi juga tapi satu obat khusus, transtuzumab, 18 kali dijalankan," ungkapnya.
 
Sakit, melelahkan, segala rasa menyakitkan seraya menggerogoti tubuh. Persiapan mental diakuinya, penting. Bagaimana cara untuk menerima, mengatasinya, dan terus berjuang. Menyerah bukan pilihan.
 
Teringat perjuangan sang ibu ketika mengatasi penyakit yang sama. Sang ibu sangat luar biasa di matanya. Tiada kata menyerah, bahkan banyak belajar, dan dalam sisa hidupnya turut berjuang secara sosial kepada sesama penderita.
 
Rerie yang kini berusia 52 tahun selalu ingat banyak orang di sekelilingnya yang dicintai dan mencintai dia. Penyemangat dirinya untuk menjalani setiap proses perawatan yang terbilang berat.
 
"Yang paling harus kita ingat adalah umur itu di tangan Tuhan. Kalau belum waktunya, kita pasti belum dipanggil. Ketika didiagnosa, terima, pasrah, dan jangan dilawan. Minta diberikan kekuatan oleh Tuhan," ungkapnya dengan tenang.

Tetap giat beraktivitas

Tekad yang mantap ditekuni wanita yang lahir di Surabaya ini. Menjalani beragam perawatan intensif dan tak meninggalkan aktivitas yang menguras pikiran dan tenaganya. Tak ketinggalan, kegiatan di ranah politik juga aktivitas sosial.
 
Meski begitu, gaya hidup semakin teratur. Pola tidur lebih tertib, harus delapan jam per hari. Pola makan pun diperhatikannya, mengonsumsi makanan sehat yang dilengkapi buah dan sayur.
 
Menariknya, Rerie mengungkapkan dirinya mengonsumsi sayur dan buah minimal setengah kilogram per hari. Agar mempermudah, kombinasi buah dan sayur diblender tanpa gula atau pemanis lainnya. Terlihat pahit dan bau, tapi Rerie konsisten menikmatinya.
 
Soal menjaga performa fisik, di tengah aktivitasnya yang padat memang sulit untuk rutin berolahraga. Melakukan olahraga yang high impact pun tak disarankan. Pembina Yayasan Dharma Bakti Lestari ini mengungkapkan, yang paling bagus ialah berenang dan jalan santai.
 
Sedangkan soal refleksi atau hiburan, ia memilih berkebun, membaca buku-buku, menonton film, dan bermain piano di rumah ketika merasa penat. Seakan tak bisa diam, dirinya juga gemar merapikan 3000 koleksi kain batik yang dimilikinya dan membersihkan beragam mainan yang dikoleksi sejak SD.
 
"Sebagai penyintas itu kita harus bisa merayakan kehidupan. Kita dikasih Tuhan waktu untuk menjadi orang yang lebih baik. Rayakan kehidupan, tapi jangan lupa berdamailah dengan kematian," tutupnya.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif