Mikael Jasin bagikan pengalaman soal kopi dan peran kopi sebagai agent of change. (Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Mikael Jasin bagikan pengalaman soal kopi dan peran kopi sebagai agent of change. (Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Kopi Sebagai Agen Perubahan bagi Mikael Jasin

Rona kisah
Raka Lestari • 24 November 2019 14:49
Jakarta: Kopi bukan hanya sebagai minuman atau salah satu pelengkap gaya hidup, tetapi untuk bisa menyajikan satu cangkir kopi berkualitas dibutuhkan banyak tangan-tangan sampai kopi tersebut bisa dijadikan dengan sempurna. 
 
Salah satunya adalah bagi Mikael Jasin, Juara Indonesia Barista Championship 2019 sekaligus peraih peringkat empat World Barista Championship di tahun yang sama. Bagi Mikael, kopi juga menjadi agent of change bagi sekitarnya.

Awal mula memiliki passion terhadap kopi 

Pada tahun 2012 lalu ketika dirinya sedang menyelesaikan studi di Melbourne, Australia, Mikael juga memiliki kerja sampingan atau part time. 
 
“Jadi itu pertama kali saya bekerja di industri hospitality, bukan kopi bahkan. Sebelumnya saya memang sudah bekerja part time, tetapi di bidang retail,” katanya pada Medcom.id saat ditemui di Common Grounds Coffe Roasters di City Walk, Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah beberapa lama bekerja di bidang retail, Mikael merasa bosan. Dan karena di Melbourne cukup banyak tersebar kafe-kafe, akhirnya Mikael memilih untuk bekerja di kafe dengan harapan suatu saat bisa membuat kopi. 
 
Kopi Sebagai Agen Perubahan bagi Mikael Jasin
(Mikael Jasin atau yang karib disapa Micky, saat melakukan presentasi di ajang World Barista Championship 2019 di Boston, Amerika. Foto: Dok. Instagram Mikael Jasin/@mikaeljasin)
 
“Pada awalnya saya menjadi tukang cuci piring dulu, kemudian sempat di kitchen, lama-kelamaan baru kemudian diajari untuk membuat kopi.” Sejak saat itulah, Mikael terus menekuni dunia kopi sampai saat ini.
 
Menjadi seorang dishwasher atau pencuci piring membuat Mikael merasa sedikit jenuh, namun ia menyadari bahwa hal tersebut memang harus dilalui sebagai bagian dari proses dalam membuat kopi itu sendiri. 
 
“Saya kan bukan berasal dari sekolah hospitality, jadi saya mengerti kalau memang harus dari bawah terlebih dahulu. Jadi mau langsung ke tingkat yang tinggi pun tidak bisa. Apalagi kalau barista tidak ada sekolah yang benar-benar sekolahan seperti itu.”

Kenapa tertarik dengan kopi? 

“Saya selalu bilang kalau kopi itu sebagai agent of change, maksudnya dia punya power buat merubah hidup atau menyentuh hidup seseorang,” tutur lelaki yang ramah dan murah senyum ini.
 
“Jadi itu bisa sesimpel dari costumer kita yang ngantuk, atau capek, dan setelah minum kopi jadi kembali merasa energize dan bersemnangat. Dan untuk para coffee professional atau barista, roaster, dan yang lainnya itu bisa juga menjadi sumber kehidupan atau penghasilan,” papar lelaki tampan ini.
 
Saat ini, Mikael sendiri bekerja sebagai Marketing & Coffee Quality Manager di Common Grounds Coffe Roasters di Jakarta. “Yang paling terasa adalah agent of change di bidang pertanian. Jadi yang tadinya petani biasa, terus karena kopinya laku sehingga perekonomian dan kehidupannya pun menjadi lebih baik," ungkap Micky (panggilan akrab Mikael).
 
"Anak-anaknya bisa disekolahkan dengan baik. Nah, yang membuat saya passionate dengan kopi sih itu. Saya melihatnya kopi bisa menyentuh hidup orang di mana saja dan levelnya beda-beda. Tidak banyak komoditas yang punya efek seperti itu untuk setiap orang,” tambahnya lagi.
 

(Micky saat beradu talenta di ajang World Barista Championship. Foto: Dok. Instagram Mikael Jasin/@mikaeljasin)

Berkompetisi di ajang World Barista Championship

Pada bulan April 2019 lalu, pertama kalinya Micky mengikuti ajang World Barista Championship (WBC) dan berhasil meraih peringkat empat dunia. 
 
“Jadi pada ajang tersebut, saya berhasil masuk juara 4 dari 55 negara yang menjadi peserta. Untuk bisa ikut WBC sendiri, tiap negara harus membuat kompetisi di tingkat nasional terlebih dahulu. Kemudian baru dikirim wakilnya untuk mengikuti ajang WBC.”
 
Micky sendiri merupakan peraih gelar juara pada ajang Indonesia Barista Champion tahun 2019 lalu, yang kemudian membuat dirinya terpilih untuk mengikuti ajang WBC di Boston, Amerika Serikat pada tanggal 11 – 14 April 2019 lalu. 
 
“Saya pertama kali mengikuti kompetisi pada tahun 2015, namun memang baru berhasil menang pada tahun 2019. Itu berarti memang butuh waktu lama untuk bisa sampai ke tahap itu.”
 
Sebelum mengikuti kompetisi di WBC 2019 lalu, Micky mengaku ada beberapa persiapan yang ia lakukan sebelumnya. Salah satunya adalah dengan belajar dan sharing dengan juara di tahun sebelumnya. 
 
“Biasanya sih sharing dengan juara-juara dunia lain. Enaknya kompetisi kopi dan industri kopi adalah walaupun kompetisi, tetapi kita semua berteman. Selain itu karena pada umumnya mereka memang passionate dalam bekerja di dunia kopi sehingga tidak masalah untuk saling memberi tahu satu sama lain dan belajar satu sama lain,” ujar Mikael.
 
“Saya sendiri pada saat kemarin itu menyiapkannya dari juara dunia tahun 2019. Coachinglah bisa dibilang, tetapi lebih ke remote coaching karena dia orang UK. Dia membantu saya bagaimana cara menulis skrip agar sesuai dengan score sheet juri-juri.” 
 
Memang dalam ajang WBC tersebut, Micky tidak hanya dituntut untuk bisa menyajikan kopi terbaiknya namun salah satu penilaian lainnya adalah Mikael harus bisa mempresentasikan kopinya tersebut di hadapan juri.
 
Kopi Sebagai Agen Perubahan bagi Mikael Jasin
(Micky meraih peringkat empat World Barista Championship di Boston, Amerika Serikat di tahun ini. Foto: Dok. Instagram Mikael Jasin/@mikaeljasin)

Lebih senang berada di belakang layar

Cukup lama menjadi barista, Micky mengatakan bahwa dirinya lebih senang untuk berada di belakang layar. “Awalnya sih senang menjadi barista, senang membuat latte art, terus bertemu costumer juga, tapi lama kelamaan saya lebih senang berada di belakang layar. Mulai dari pergi ke kebun-kebun kopi dan bertemu petani.”
 
Saat ini, pekerjaan Mikael selain memberikan training terhadap barista baru tetapi juga berkeliling-keliling kebun kopi setiap kali musim panen kopi. “Kami memang tidak punya kebun kopi, tetapi sebisa mungkin membeli langsung ke petani meskipun tidak 100 persen. Setidaknya, dengan membeli langsung ke petani bisa memiliki relationship dengan petani.”
 
Menurut Mikael, dengan membeli kopi langsung dari petani ada beberapa kelebihan yang bisa didapatkan.
 
“Pertama, pastinya lebih murah kalau beli langsung di petani dan uang hasil penjualannya masuk ke petani semua. Dan kedua, biasanya kualitas kopinya akan lebih bagus karena bisa melihat langsung dan karena sudah kenal dengan petaninya pasti mereka merasa tidak enak kalau kopinya jelek.”

Pesan untuk para pecinta kopi

Menurut Micky, saat ini perkembangan kopi di Indonesia sudah semakin meningkat. Hal ini juga terlihat dengan semakin menjamurnya gerai-gerai kopi yang ada di berbagai daerah di Indonesia. 
 
“Pesan untuk para pecinta kopi di Indonesia, sebisa mungkin untul lebih mindful atau sadar kalau kopi itu bukan hanya minuman saja. Di belakangnya ada tangan-tangan yang membuat kopi mulai dari benih sampai menjadi minuman," aku lelaki yang juga meraih gelar Master of Marketing di RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology) tahun 2016 ini.
 
"Mungkin yang terlihat itu memang barista, roaster, tetapi ada petani juga yang berjasa. Itulah kenapa kopi berkualitas tinggi bisa mahal karena memang ada banyak tangan-tangan di belakangnya,” pungkas Micky.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif