banner

Menikah karena Dijodohkan, Bisakah Bahagia?

Nia Deviyana 15 Februari 2018 16:57 WIB
tips pernikahan
Menikah karena Dijodohkan, Bisakah Bahagia?
(Foto: Shutterstock)
Jakarta: Kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Pun, ada banyak cara bertemu pasangan hidup. Salah satunya, melalui perjodohan oleh orang tua.

Sayangnya, tak sedikit yang pesimistis dengan cara ini karena seringkali calon pasangan yang dijodohkan tak sesuai kriteria. Ada juga yang berpikiran, gengsi. Di zaman serba modern masih ada perjodohan layaknya era Siti Nurbaya.

Yani, misalnya. Perempuan berusia 25 tahun ini mentah-mentah menolak usulan perjodohan yang dilontarkan orang tuanya. Dia beranggapan, usianya masih muda sehingga masih punya banyak waktu untuk menemukan jodohnya sendiri.

"Lagipula, perjodohan itu kuno ah. Memangnya kita hidup di zaman Siti Nurbaya?" ucap Yani, sinis. Lantaran bersikeras menolak perjodohan, akhirnya Yani pun batal menikah dengan pria pilihan orang tua.

Sebetulnya, apakah perjodohan memang tak menjanjikan kebahagiaan? Psikolog Efnie Indrianie, Psi memberikan pandangannya.

"Setiap individu itu unik, makanya suka mencari pendamping dengan kriteria tertentu. Kalau kebetulan yang dijodohkan pas dengan kriterianya, kemungkinan akan bahagia lebih besar, tetapi kalau bertolak belakang juga belum tentu tidak akan bahagia," ujar Efnie, kepada Medcom.id, belum lama ini.

Menurut Efnie, pendekatan dalam jangka waktu tertentu menjadi hal yang penting. Idealnya, kata dia,  minimal enam bulan sampai satu tahun untuk benar-benar bisa mendapatkan gambaran sifat asli calon pasangan. Penting mengenali sifat pasangan sehingga jika di kemudian hari ada masalah, bukan perjodohan yang disalahkan.

"Kenapa minimal enam bulan? karena perilaku yang ditampilkan manusia bukanlah gambaran asli atau di dunia psikologi disebut persona. Biasanya semakin banyak pembelajaran hidup yang dialami seseorang, maka semakin cakap dia bisa membawa diri di depan orang lain sehingga sifat aslinya tidak mudah terlihat," jelas Efnie.

Agar pernikahan karena perjodohan bisa bahagia, Efnie memberi beberapa saran.

1. Skrining kepribadian

Tak ada salahnya mendatangi ahli untuk mengetahui tipe kepribadian masing-masing. Psikolog akan memberikan gambaran sehingga Anda dan calon pasangan bisa lebih mudah mengenal karakter masing-masing. Dengan demikian, proses perkenalan menjadi lebih mudah.

"Rata-rata orang medical check up sebelum menikah, tetapi sangat jarang yang melakukan konseling pranikah. Padahal ini bagus untuk mengenal diri sendiri dan calon pasangan," saran dia.

2. Tanamkan rasa penerimaan

Kebahagiaan sulit terwujud jika Anda sendiri tak menerapkan aspek penerimaan terhadap calon pasangan yang akan dijodohkan. Dengan menerapkan mindset penerimaan dan membuka diri untuk lebih mengenal pasangan, kebahagiaan dalam pernikahan sangat mungkin didapatkan. Pada kasus Yani di atas, dia sudah pesimis sejak awal, sehingga perjodohan pun akhirnya kandas.

3. Jalani senatural mungkin

Banyak orang merasa terbebani dengan label perjodohan. Padahal, Anda bisa menjalaninya senatural mungkin selayaknya orang yang tidak dijodohkan. Minta waktu kepada orang tua untuk melakukan pendekatan terlebih dahulu, lakukan penjajakan selama beberapa waktu, sampai Anda benar-benar siap untuk menikah dengan calon yang dijodohkan.

4.Tingkatkan spiritualitas

Meningkatkan spiritualitas tidak hanya dengan meningkatkan kuantitas ibadah, tetapi juga bisa dengan memaknai kehidupan.

"Misalnya, dengan bersyukur. Menanamkan mindset bahwa orang tua menjodohkan Anda tak lain karena peduli dan sayang," kata dia.




Lihat video:



(DEV)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360