Gabriella Sheena mulai membangun raksasa bisnisnya yang bergerak di bidang Fashion Consulting. Kini Sheena telah membangun Gabster Fashion Consulting (GFC). Simak kisah inspiratifnya. (Foto: Dok. Instagram Gabriella Sheena/@gabstersheena)
Gabriella Sheena mulai membangun raksasa bisnisnya yang bergerak di bidang Fashion Consulting. Kini Sheena telah membangun Gabster Fashion Consulting (GFC). Simak kisah inspiratifnya. (Foto: Dok. Instagram Gabriella Sheena/@gabstersheena)

Mimpi Seorang Penjual Pakaian

Rona kisah Aneka
Dhaifurrakhman Abas • 21 Januari 2019 16:07
Jakarta: Sukses merupakan sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Mungkin inilah yang menjadi prinsip Gabriella Sheena (26 tahun), seorang CEO dari Gabster Fashion Consulting (GFC) yang terbilang masih muda. Perusahaannya yang ia bangun sendiri atas kerja keras serta ketekunan belajar.
 
Namun, melihat titik balik sebelum ia sampai di sini, ternyata kenyataan hidup yang keras pernah ia lewati.
 
Mata perempuan berkulit putih ini seperti menerawang, kembali bercerita awal kisah hidupnya yang justru mencambuknya hingga ia bisa menggapai apa yang ia cita-citakan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sudut ruangan kantornya, ia memulai cerita.
 
Mimpi Seorang Penjual Pakaian
(Sheena selalu mencari inspirasi untuk kemajuan karier dan perusahaannya. Foto: Dok. Instagram Gabriella Sheena/@gabstersheena)
 
Kehilangan papa
 
"Awalnya gue dapet kabar dari orang lain. Papa ditemukan bunuh diri," buka Sheena.
 
Mata Gabriella Sheena tetiba sembab. Ia teringat kembali momen ketika ditinggal pergi oleh ayahnya. Saat itu usianya masih belasan tahun. Terlampau belia untuk mencerna masalah yang menimpa keluarganya.
 
Entah apa sebab tulang punggung mengakhiri hidup. Sheena tak tahu pasti selain permasalahan utang yang menggunung.
 
Satu yang jelas, hari-hari berikutnya dipenuhi rasa takut. Takut pergi ke sekolah, pula keluar rumah. Hidup dalam rong-rong sang penagih utang.
 
Mimpi Seorang Penjual PakaianUntungnya Sheena bukan tipe remaja yang mudah depresi.
 
Kehilangan sosok ayah justru menimbulkan motivasi bagi dirinya untuk selalu memperbaiki hidup.
 
Dia juga rajin membantu ibunya berjualan baju. Dari satu toko, ke toko-toko lainnya di bilangan Bandung, Jawa Barat.
 
Rupanya kebiasaan menjual baju membuatnya kecanduan.
 
Saat berseragam putih abu-abu, Sheena mulai membulatkan tekad. Dia memutuskan ingin berkarier di dunia fesyen ketika dewasa.
 
“Setelah gue cobain kursus fashion design ternyata susah. Akhirnya, ya udah, fashion business aja deh. Kalau dikombinasiin lebih oke,” kata Sheena ketika berbincang dengan Medcom.id.
 
Dari situ Sheena mulai cari-cari informasi buat menunjang kariernya. Sampai pada akhirnya dia mendapatkan universitas yang pas. Salah satu yang paling tenar di bidangnya, Parsons The New School For Design, New York.
 
Gue mikirnya sekolah fesyen pasti sudah banyak. Mau enggak mau harus di sekolah terbaik. Akhirnya sekolah di Parson karena itu based on research, itu sekolah fesyen terbaik,” kenangnya.
 
(Baca juga: Mengenal Laura Lazarus, Pramugari yang Selamat dari Dua Insiden Penerbangan Lion Air)
 
Mimpi Seorang Penjual Pakaian
(Sheena memulai karier dari bawah. Bahkan sampai menjadi fotografer pun ia lakoni. Foto: Dok. Instagram Gabriella Sheena/@gabstersheena)
 
Mengawali karier
 
Banyak orang mengira bersekolah di New York berarti memiliki kehidupan yang mapan. Padahal tidak begitu. Dengan kondisi keuangan yang pas-pasan, kadang bikin Sheena kelimpungan.
 
Seringkali duit yang tersisa di dalam dompet tak cukup untuk membeli sepaket makanan lengkap. Alhasil sisa buah-buahan semalam yang nongol di dalam lemari pendingin jadi andalan buat mengisi perut.
 
Tapi kalau tidak begitu, mungkin dia tidak terdidik buat belajar fesyen dari "bawah". Kondisi kehidupan ini menggerakkan hatinya untuk mencoba melamar magang sembari kuliah.
 
"Ya, buat tambahan uang, juga pengalaman kerja," ujar perempuan kelahiran Bandung itu.
 
Benar saja. Pekerjaan sambilan di negara orang membuatnya terlibat dalam proyek-proyek di bidang fesyen.
 
Mulai dari menjadi fotografer untuk sekadar dokumentasi, buyer, hingga urusan administrasi dalam membenahi perusahaan di tempat magang.
 
Mimpi Seorang Penjual Pakaian
(Sheena saat menjadi pembicara di @america, Jakarta untuk berbagai ilmu pada fashion students. Foto: Dok. Instagram Gabriella Sheena/@gabstersheena)
 
Fashion consulting
 
Jauh sebelum Sheena lulus kuliah, beberapa pekerjaan sudah ia lakoni. Seperti pernah bekerja di brand-brand fesyen ternama seperti Chanel, Michael Kors, Vera Wang, New York Fashion Week, dan Haute Hippie.
 
"Sejak lulus kuliah pun gue sudah kerja dan sudah tidak dibayarin lagi sama orang tua," kenang Sheena
 
Tahun 2015, masa yang dinanti tiba. Sheena, begitu ia suka dipanggil, lulus kuliah dan langsung terbang kembali ke Indonesia. Impiannya tetap sama, ingin memajukan fesyen lokal hingga ke mancanegara.
 
Tapi, di tengah ambisi, ia sadar betul modalnya tak banyak. Dia lantas mencoba melamar ke sebuah perusahaan retail yang menjual secara daring koleksi pakaian, aksesori, sepatu dan produk kecantikan.
 
Di sana, Sheena bekerja sebagai buyer merchandiser. Mengelola barang yang dijual dari segala aspeknya. Mulai dari memilih barang yang tepat, menetapkan harga, pemajangan yang baik, pengadaan, hingga promosi yang efektif.
 
Mimpi Seorang Penjual Pakaian"Gue lihat banyak brand lokal yang bagus banget. Tapi butuh sentuhan bantuan buat bikin arahan direksi, photoshoot, hingga produksi. Ya, semacam konsultasi," ungkap dia.
 
Melihat banyaknya produk lokal yang potensial menimbulkan semangat baru.
 
Hatinya tergerak untuk membimbing para pengusaha muda yang membutuhkan arahan jelas dalam memproduksi produk fesyen lokal.
 
Benar saja. Hanya satu tahun bekerja, dia mantapkan diri untuk resign di perusahaan retail tersebut.
 
Lalu mulai membimbing para pengusaha muda yang membutuhkan konsultasi untuk mengembangkan bisnis.
 
Alasannya memulai consulting juga karena selain brand lokal ia juga ingin bisnis, "Cuma enggak tahu (bisnis) apa yang enggak pakai modal."
 
"Dan yang bisa enggak pakai modal itu ya pakai kemampuan pengetahuan gue dan pengalaman. Ya, makanya jadi consultant."
 
"Gue berani resign karena melihat banyak potensi dari produk lokal. Hanya saja mereka itu (client) butuh diservis semacam konsultasi," ujarnya.
 
Lamat-lamat bisnis para client yang mendapat konsultasi dari Sheena mulai meroket. Dari situ tangan dinginnya mulai dikenal oleh para pegiat fesyen tanah air.
 
Satu per satu, pengusaha awam merapat dan meminta arahan dari Sheena.
 
Buktinya, akhir November 2017, Sheena dikontak oleh salah satu perusahaan investor yang ingin berkolaborasi mengembangkan bisnis konsultasi di bidang fesyen.
 
Mimpi Seorang Penjual Pakaian
(Sheena pun saat ini juga menjadi pembicara di berbagai event yang berkaitan dengan dunia fesyen. Foto: Dok. Instagram Gabriella Sheena/@gabstersheena)
 
"Kami akhirnya ngobrol dan ternyata mereka ingin bikin perusahaan inkubasi. Jadi brand fesyen ini bakal diinvest supaya mereka bisa grow. Dan ternyata kita cocok dan kita mulai si company inkubasi ini," katanya.
 
Singkat cerita, Sheena mulai membangun raksasa bisnisnya yang bergerak di bidang Fashion Consulting.
 
Kerja kerasnya terbayar.
 
Kini, sebuah perusahaan bernama Gabster Fashion Consulting (GFC) yang berlokasi di Rasuna Said, Jakarta Selatan, siap untuk membantu siapa saja yang berniat untuk menjalankan bisnis fesyen.
 
"Gue selalu bilang ke diri gue, bahwa one day, gue pasti jadi CEO of my own company. Gue percaya dream always come true, and we should never stop dreaming and believing in ourselves,"  ucapnya percaya diri.
 
"Pasti banyak benturan kanan kiri dan ditolak sana sini, tapi pasti ada jalan aja buat orang yang enggak pernah menyerah dan bermimpi besar. Benar aja, sekarang gue bisa photoshoot di luar negeri dan dapat client luar negeri dari Malaysia dan USA," tandasnya tersenyum bangga.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif