Menilik Fenomena Punya Lebih dari Satu Akun Medsos
(Foto: Shutterstock)
Jakarta: Saat ini, penggunaan media sosial semakin berkembang. Tak hanya sebagai media untuk memperluas jaringan sosial, tetapi juga untuk bisnis atau kepentingan lain. Berbagai kepentingan tersebut menciptakan fenomena baru, yaitu seseorang memiliki lebih dari satu akun media sosial. 

Food enthusiast Fellexandro Ruby mengakui dirinya membuat dua akun di media sosial Instagram untuk mengekspresikan sisi lain dirinya. 

Akun pertamanya @captainruby dibuat pada 2012 dengan fokus pada kuliner dan travel, dengan jumlah pengikut sekitar 175 ribu orang. Sementara akun @fellexandro baru dibuat pada tahun lalu dan telah memiliki sekitar 2.500 pengikut. Akun tersebut merupakan buah pikiran Ruby yang dibagikan dengan cakupan topik tanpa batas. 


"Saya membuat dua akun karena mencari tempat untuk membagikan apa yang ada dalam pikiran, di luar makanan dan travel," ujar Ruby saat ditemui Medcom.id, belum lama ini. 

Meski jumlah pengikut di akun @fellexandro jauh lebih sedikit, ia merasakan respons yang  berbeda dengan akun pertamanya. 

Berbeda dengan Ruby, Putri (22) juga memiliki dua akun Instagram dengan tujuan yang bisa dibilang untuk bersenang-senang. 

Akun pertama, yang merupakan akun resmi dirinya, berisikan teman-teman yang ia kenal. Sementara, akun kedua ia gunakan untuk mem-follow toko daring dan stalking akun milik orang lain. 

"Akun kedua dibuat supaya linimasa akun pertama tidak dipenuhi foto-foto tak penting. Misalnya, toko daring yang biasanya langsung mengunggah banyak foto secara berurutan," ungkapnya pada Medcom. id melalui pesan singkat. 

Pekerja swasta yang mengaku menghabiskan waktu sekitar dua atau tiga jam di media sosial ini mengaku tidak repot memiliki lebih dari satu akun, mengingat kebutuhan keduanya pun berbeda. 

"Sampai sekarang untungnya tak pernah tertukar juga (penggunaannya)."

Fenomena Anonimitas 

Pengamat media sosial Devie Rahmawati menganggap fenomena tersebut merupakan dampak dari karakter arsitektur teknologi yang memungkinkan seseorang menutupi identitasnya, atau disebut juga dengan anonimitas. 

" Anonimitas mendorong orang untuk bisa memiliki banyak wajah, dengan berbagai kepentingan," kata Devie saat dihubungi Medcom.id, melalui sambungan telepon. 

Ia mencontohkan, dirinya yang bekerja sebagai dosen bisa saja membuat akun dengan tujuan kepentingan studi. 

Fenomena tersebut menurutnya sudah terjadi di seluruh dunia, yang bila tidak dapat dikendalikan, bisa berkembang menjadi kejahatan. 

"Dengan tidak adanya identitas asli, bisa terjadi kejahatan. Misalnya, perdagangan anak. Anonimitas dapat membuat seseorang menjadi liar karena tak perlu menunjukkan dirinya sendiri."

Media Sosial sebagai Panggung Sandiwara

Mengutip teori dramaturgi yang diperkenalkan oleh sosiolog Erving Goffman, Devie menjelaskan bahwa media sosial bisa dianggap sebagai panggung bagi seseorang. Teori tersebut menyebutkan  bahwa kehidupan sosial adalah sebuah panggung sandiwara dengan dua bagian, panggung depan dan panggung belakang. 

Panggung depan adalah identitas yang rapi, di mana seseorang ingin dilihat sempurna dan teladan di mata orang lain. 

"Umumnya, panggung depan adaah akun resmi," jelas Devie. 

Namun, setiap manusia secara fitrah juga memiliki panggung belakang, yaitu sesuatu yang disembunyikan dan tak ingin ada yang mengetahuinya. 

Di sinilah media sosial memberikan kesempatan bagi seseorang untuk membuka panggung belakang. Tak selalu bermakna negatif, panggung belakang juga bisa diartikan sebagai hasrat seseorang yang tak banyak diketahui orang. Misalnya, seseorang berjualan melalui media sosial. Sementara, contoh negatif dari panggung belakang dalam media sosial adalah kejahatan seperti penipuan. 

"Mengingat teknologi sangat bebas dan tak ada regilasi resmi seperti pemerintah yang nyata, orang bisa memunculkan panggung belakang (dengan membuat akun yang berbeda)," papar Devie. 

Menurut Devi, memiliki lebih dari satu akun media sosial tak masalah, asalkan tidak mengganggu produktivitas orang tersebut. 

"Terlalu serius dalam menggunakan akun-akun tersebut tentu ada alokasi waktu untuk didedikasikan. Padahal, beberapa studi telah membuktikan bahwa orang yang banyak menghabiskan waktu di media sosial berpeluang mengalami stres lebih tinggi karena kelelahan."

Ia menambahkan, orang modern cenderung mengalami penyakit fisik yang diakibatkan oleh pola hidup tak sehat seperti kurang tidur dan kurang bergerak. Dua kebiasaan tersebut akan semakin tinggi intensitasnya ketika seseorang hanya sibuk mengurusi media sosial. 

Selain secara fisik, penggunaan media sosial berlebihan juga berdampak buruk pada psikologis. Membandingkan diri dengan akun lain yang terlihat lebih bahagia dapat memicu tekanan pada diri sendiri. 

"Dampaknya, orang tersebut akan terus mengunggah foto untuk memperlihatkan bahwa dirinya tak kalah bahagia," urai Devie. 

Ketika seseorang sudah mencapai pada tahap tersebut, Devie menganggap bahwa orang tersebut sudah mulai menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. "Ini zona kuning."

Ia menyimpulkan, semua problema tersebut bisa dihindari ketika seseorang dapat mengelola akun-akun miliknya secara bijak sehingga kehidupan yang dijalani tetap produktif. 


Lihat video: 





(DEV)