Ida Swasti membagi kisah memberikan edukasi seputar lingerie yang masih dianggap tabu. (Foto: Dok.Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
Ida Swasti membagi kisah memberikan edukasi seputar lingerie yang masih dianggap tabu. (Foto: Dok.Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

Upaya Wanita Muda Atasi Hal Tabu

Rona kisah
Sunnaholomi Halakrispen • 07 Oktober 2019 17:11
Jakarta: Wanita muda yang mengenakan lingerie masih menjadi hal yang tabu bagi sebagian masyarakat Indonesia. Bahkan, perempuan yang memakai lingerie bisa disebut sebagai perempuan 'nakal'.
 
Jika dicari di laman pencarian Google, lingerie digambarkan dengan pakaian dalam yang berdesain seksi. Tujuannya, sering kali identik untuk menarik lawan jenis melakukan hubungan intim bercinta.
 
Istilah lainnya, pakaian dalam untuk memenuhi fantasi seks terhadap pasangan. Tapi tidak bagi perspektif Ida Swasti. Lingerie digunakannya bukan untuk menarik perhatian pasangannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Wanita kelahiran tahun 1994 ini telah mengenakan lingerie sejak usia 17 tahun. Lantaran sulit menemukan lingerie lokal berkualitas bagus dengan harga yang ramah di kantong, Ida nekad jualan lingerie. Ia lantas memproduksinya dalam negeri.
 
"Sejak 2016, karena aku susah dapat lingerie di Indonesia. Harganya mahal banget untuk yang bahannya bagus dan bahannya enggak nyaman kalau harganya murah. Renda kan penting kalau terkena langsung ke kulit sensitif kita," paparnya.
 
Pemilihan lingerie yang tepat membuat tubuh area vital merasa nyaman. Berbeda dengan baju luar, tidak terkena kulit sensitif langsung karena dilapisi dengan pakaian dalam.
 
"Aku pakai setiap hari, jadi kebutuhan. Jadi aku mau yang affordable, secara desain juga bagus. Harus ada lingerie Indonesia yang enggak mahal tapi bahannya bagus," tekadnya.

Tidak diukung orang tua

Sebagai perempuan keturunan Tionghoa dan ayahanda memiliki usaha, Ida diminta untuk menjaga toko sang ayah. Tapi, gadis lulusan University of Wollongong Australia ini nekat menolak.
 
Ketika menyatakan keinginannya menjual lingerie, orang tuanya pun dibikin ngeri. Mereka sontak terkejut. Beragam bayangan akan hal tabu itu pun muncul di benak keduanya.
 
Apalagi sang ibu pernah kedapatan G-string di jemuran. Masih terbilang aneh bagi mereka untuk anaknya mengenakan bahkan menjual pakaian dalam dengan jenis lingerie.
 
Ujungnya, tidak ada dukungan untuk Ida. Meskipun, berkali-kali dirinya menjelaskan tentang fungsi lingerie sesuai keyakinannya. Tapi tak juga bisa meyakinkan. Waktu berlalu hingga lebih dari satu tahun tanpa dukungan orang tua.
 
"Karena aku kuliah di luar negeri, enggak setiap hari ketemu. Tapi terus aku kasih penjelasan ke orang tua tentang lingerie itu bikin nyaman. Ini bukan barang yang tabu," kenangnya sambil tertawa kecil.
 
Akhirnya, dukungan kedua orang tuanya muncul di Februari 2018. Selama 1,5 tahun tanpa dukungan orang tua tak pernah menyurutkan semangat Ida. Justru, dari komentar masyarakat di media sosial yang tidak menyenangkan.
 
Upaya Wanita Muda Atasi Hal Tabu
(Ida Swasti, wanita muda yang sekarang duduk sebagai Founder dan CEO Nipplets Official tak gentar walau ia sering kali mendapatkan penilaian yang kurang menyenangkan soal lingerie. Niatnya hanya ingin memberikan edukasi, bahwa wanita dengan bentuk tubuh bagaimana pun tetap harus mencintai tubuhnya, dan memakai lingerie bagian dari self love. Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
 
"Aku sempat dikatain binal dari netizen. Kalau mau binal, binal saja sendiri, enggak usah ngajak-ngajak orang lain. Begitu kata mereka," ungkapnya dengan ekspresi masih terheran.
 
September 2018 Ida sempat merasa down dan hampir mau berhenti. Berkali-kali bertanya apa ada yang salah dengan barang dagangannya. Di sisi lain, ada juga orang lain yang mendukungnya.
 
Rasa sayang untuk berhenti hanya karena komentar negatif orang lain. Ida bangkit, memulai kembali. Langkah memberikan pengertian ke masyarakat tentang betapa nyamannya memakai lingerie. Bukan untuk menjadi wanita binal tentunya.
 
"Susah dapat jodoh juga karena judgement itu. Aku pernah didekati cowok dan dari awal dia sudah tahu aku jual lingerie. Tapi waktu ngejalani, dia enggak nyaman ketika mau kenalin aku ke keluarganya," katanya.
 
Sang pria takut jika orang tuanya memiliki persepsi yang berbeda tentang lingerie. Walaupun Ida yakin bisa menjelaskan ke orang tua dari laki-lakinya, namun si pria tidak yakin dan enggan meneruskan.
 
"Aku dianggap main ke area yang tabu untuk keluarganya. Walaupun aku bilang jual baju tidur, tapi dia takut keluarganya cek Instagram dan lihat lingerie yang kujual. Sudah ada dua sampai tiga cowok yang begitu. Susah deh dapet jodoh," imbuh gadis ramah itu.

Ubah persepsi orang

"Aku senang kalau orang berpikir bahwa pakai lingerie itu untuk self love, bukan untuk dikasih lihat ke orang lain atau pasangan," imbuh dia.
 
Kalimat di ataslah semangat yang menghantui perempuan yang tinggal di Cengkareng itu. Meyakinkan orang banyak, bagaimana merasa nyaman dan merasa cantik dengan bentuk tubuh yang dimiliki.
 
Bagi Ida, mengenakan lingerie bisa membuat dirinya merasa lebih baik dibandingkan biasanya. Sebelumnya, saat memakai pakaian dalam yang disebutnya grandma panties, ada ketidaknyamanan. Celana dalam yang tingginya mencapai ke pusar bahkan lebih.
 
"Pas mulai ganti ke renda, walaupun orang enggak lihat tapi aku tahu yang aku pakai di dalam itu cantik, aku jadi bisa lebih percaya diri sih. Ngaruh juga saat berjalan dan beraktivitas," tuturnya.
 
Lingerie tidak hanya boleh dipakai untuk orang bertubuh kurus atau tubuh ideal layaknya model iklan. Lebih dari itu, justru untuk perempuan mana pun di luar model size.
 
Gadis yang hobi membaca itu menekankan pentingnya self love atau upaya mencintai diri sendiri dengan membuat nyaman diri mengenakan pakaian dalam terbaik. Terutama untuk para ibu yang sudah berumur, biasanya memiliki buah dada yang kendur lalu menjadi tidak percaya diri.
 
"Itu yang aku sedang usaha terus untuk ubah persepsi orang. Karena persepsi itu kan enggak mudah untuk diubah. Jadi butuh kerja yang lumayan keras," tandasnya.
 
Ada perasaan khusus membuat diri nyaman hingga aura positif terpancarkan. Ida pernah melakukan riset dan hasilnya, banyak juga orang yang tidak percaya diri dengan bentuk tubuh mereka.
 
"Kalau orang mikirnya tanpa pakai lingerie sudah merasa cantik, ya its okay. Berarti kamu sudah confidence. Tapi kan banyak orang yang confidence level-nya enggak setinggi itu. Banyak juga yang malu-malu kalau jalan."
 
Jenis lingerie pun beragam, dikenakan sesuai selera. Ada bra dan panties dengan warna yang senada, ada yang berbahan renda, jenis tong yang membuat bentuk celana dalam tidak terlihat dari celana luar atau tidak nyeplak.
 
Harganya pun beragam, mulai dari Rp199 ribu untuk harga paling murah, yakni lingerie dengan model baby doll mini dress. Sedangkan harga tertingginya di angka Rp479 ribu dengan model kimono set berbahan satin.
 
Ida Swasti, wanita muda yang sekarang duduk sebagai Founder dan CEO Nipplets Official tak gentar walau ia sering kali mendapatkan penilaian yang kurang menyenangkan. "Dan ini sudah makanan sehari-hari. Tapi, dengan edukasi dan penyampaian yang baik dan selama aku mampu memberikan pesan yang positif ke masyarakat, aku yakin penilaian tersebut akan hilang dengan sendirinya," pungkasnya.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif