Dokter Teguh yang juga merupakan Ketua Yayasan Tunas Bakti. (Foto: Kumara/Medcom.id)
Dokter Teguh yang juga merupakan Ketua Yayasan Tunas Bakti. (Foto: Kumara/Medcom.id)

Pengabdian Seorang Dokter demi Kesetaraan Pendidikan di Papua

Rona kisah
Kumara Anggita • 16 Januari 2020 16:19
Jakarta: Hidup di Papua bukanlah hal yang mudah. Semua membutuhkan usaha, termasuk untuk mengakses pendidikan. Namun kendala ini tak mempan menghanyutkan semangat anak-anak di sana untuk terus mengejar cita-citanya.
 
Keadaan itu menyentuh perasaan Dokter Teguh Dwi Nugroho selaku Ketua Yayasan Tunas Bakti. Bersama dengan perusahaan penyedia layanan dan teknologi global terkemuka, Bosch, menginisiasi 'Bakti Nusantara Nabire Project', guna mendukung anak-anak dari pedalaman Papua agar dapat terus bersekolah.
 
Prakasa ini direalisasikan dalam bentuk penyediaan bangunan asrama yang layak dan memadai, serta pengadaan kebutuhan pokok bagi penghidupan para siswa SD dan SMP di Desa Muko, Nabire, Papua.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Yayasan ini bergerak berlandaskan semangat kepedulian, kemanusiaan, persaudaraan, dan gotong royong dari seluruh komponen masyarakat. Karenanya, kami sangat antusias menyambut ajakan Bosch menggagas ‘Bakti Nusantara Nabire Project’ untuk bersama-sama membantu anak-anak pedalaman di Papua agar mendapatkan hak-hak mereka, terutama pendidikan,” ujar Dokter Teguh membuka percakapan dengan Medcom.id.
 
“Dengan asrama yang layak dan memadai, serta kebutuhan pokok yang terus terpenuhi, anak-anak Papua dapat belajar secara optimal. Sehingga kelak tumbuh menjadi manusia berdaya dan mampu berandil memajukan daerahnya,” lanjutnya.

Profesi membentuk dirinya

Dokter Teguh terjun langsung beraksi karena berbagai pengalaman yang telah dia peroleh sebelumnya. Bekerja menjadi seorang dokter membuatnya lebih mudah tergerak untuk membantu sesama.
 
“Saya kan dokter yang berada di pedalaman 3T (tertinggal, terluar, terdepan). Sebagai dokter, jiwa kemanusiaan memang ditempa bahwa kita melayani manusia. Kita tahu kebutuhan dasarnya manusia tersebut,” terang Teguh.
 
Tak hanya itu, sewaktu dia melihat keadaan sekolah di Desa Muko, Nabire, Papua, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah ini merasakan sensasi berbeda. Semangat anak-anak di sana yang ingin belajar sangat luar biasa dan tak dapat terbendung. Tak ayal, suasana itu seakan memberinya tenaga lebih untuk membantu anak-anak untuk terus melanjutkan sekolahnya.
 
Bermula pada 2017 ketikaDokter Teguh melakukan survei ke lima tempat. Kemudian dia melihat ada SMP di sana yang sudah membangun sekolahnya sendiri. Lokasinya sekitar 30 km. Sekolah tersebut dibangun oleh warganya sendiri. Sayang, kondisinya saat dia datang sudah usang.
 
Pengabdian Seorang Dokter demi Kesetaraan Pendidikan di Papua
Baginya, pendidikan adalah gerbang masa depan yang lebih baik. (Foto: Kumara/Medcom.id)
 
“Yang kami bantu adalah daerah yang kondisinya sangat terbatas tapi mereka masih mau berjuang. Kami berharap dengan sedikit bantuan yang diberikan, mereka akan bisa mandiri dan semangat untuk membangun dengan semangat gotong royong,” ujar Teguh yang merupakan Dokter Spesialis Bedah RSUD Kefamenanu.
 
Tak hanya profesi yang mendorongnya menjadi sosok relawan. Peran sang ayah juga memberi inspirasi bagi pria berusia 34 tahun ini untuk membantu sesama.
 
“Dari dulu sudah tertarik, melihat bapak jadi salah satu pemuka agama. Kita melihat sisi kemanusiaan, bermanfaat bagi orang lain adalah yang utama. Jadi dari sekolah, ini akan bermanfaat,” Jelas Dokter Teguh.

Pendidikan gerbang masa depan yang lebih baik

Teguh sangat mendukung pengembangan pendidikan. Ini karena menurutnya pendidikan adalah gerbang masa depan yang lebih baik.
 
“Percuma kalau ngomong kamu bisa jadi apa pun tapi tak ada sekolah. Dengan edukasi, sekolah yang baik orang bisa jadi apapun,” jelas Teguh.
 
“Yang paling realistis adalah bisa jadi lebih daripada bapak ibunya. Karena orang pedalaman bisa saja masuk sekolah kedinasan, STAN, STTPN, dokter bisa. Namun kalau bangunannya saja tak punya, mereka tidak akan bisa apa-apa,” lanjutnya.
 
Teguh menginginkan agar program ini dapat menggerakkan mereka secara perlahan untuk memiliki pengetahuan, bahwa dunia ini sesungguhnya luas dan semua orang bisa berkembang. Dengan itu, mereka dapat terinspirasi dan bercita-cita.
 
“Penting agar basic needs tersedia dan tercukupi. Setelah semua sudah diberi, baru kami inspirasi mereka. Datangkan PGRI, kami bangun mental dan keterampilan dari gurunya, anaknya pramuka dan lain-lain. Dengan seperti itu, bisa berceita-cita setingginya,” terangnya.

Mengajarkan kemajemukan dalam bermasyarakat

Selalu ada kesan di setiap perjalanan. Terlebih perjalanan yang diusung Dokter Teguh adalah misi kemanusiaan.
 
Dia melihat, orang-orang merasa asing dengan konsep kemajemukan. Untuk itu, Dokter Teguh mengajarkan warga di Nabire Papua melihat sisi positif dari kemajemukan. Bhinneka Tunggal Ika adalah hal yang perlu ditanamkan sejak anak-anak pada orang yang tinggal di lingkungan homogen.
 
“Pengalaman paling berkesannya adalah hal yang penting setelah kita ke daerah 3T, semuanya sama. Maksudnya sama sukunya, agamanya, keyakinannya. Pokoknya, homogen banget,” jelas Dokter Teguh.
 
Mengisahkan perjalanannya saat di Natuna, Dokter Teguh menceritakan saat-saat berjalan bersama seorang siswa.
 
"Dia bertanya ‘Pak dokter habis ini salat yuk sama saya’ Saya jawab: kamu duluan saja, saya tunggu di luar," jelasnya.
 
Siswa tersebut lalu bertanya kenapa Dokter Teguh tak salat. "Saya jawab saya di gereja sembahyangnya. Lalu dia bertanya kenapa saya tidak ngomong kalau saya non muslim.  Lalu saya bilang kenapa harus saya ngomong. Kalau saya bukan muslim, kamu tidak sayang,” terang Dokter Teguh menceritakan.
 
Meski begitu, Dokter Teguh menyadari bahwa pertanyaan ini muncul karena kondisi mereka yang berada di lingkungan yang homogen.
 
“Namun setelah saya tinjau ke belakang, semua orang sama di suatu daerah. Misalnya di daerah situ semuanya katolik, di Serang mayoritas muslim. Di papua pun juga begitu,” jelasnya.
 
Tak lupa Dokter Teguh menekankan kepada anak-anak tentang hidup majemuk tak semuanya bernuansa negatif. Yang terpenting, satu sama lain memiliki intensi yang baik. Maka hasilnya akan berbuah positif.
 
“Saya jelaskan kami datang dari kemajemukan, dari semua profesi, agama, dan tak ada kepentingan itu. Kami memberi tahu berbeda itu tak apa. Tak salah dan kami mau membantu dengan kasih sayang. Kami bisa mengajar Bhinneka Tunggal Ika itu yang utama di Indonesia. Berbeda tak apa. Itu dalam banget,” jelasnya.
 
Dokter Teguh yakin usahanya ini adalah langkah yang baik untuk dilakukan. Semangat dan harapan anak Papua adalah hal yang tak boleh disia-siakan.
 
“Ini mereka yang bersekolah harus kita jaga. Saya percaya ini bisa membangun Papua,” tutup Dokter Teguh.
 
(FIR)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif