Semaksimal mungkin Rumah Harapan menjadi tempat singgah agar keceriaan anak-anak ini tetap terjaga (Foto: @valenciamiekeranda)
Semaksimal mungkin Rumah Harapan menjadi tempat singgah agar keceriaan anak-anak ini tetap terjaga (Foto: @valenciamiekeranda)

Merentang Asa di Rumah Harapan

Rona kisah Aneka
Sunnaholomi Halakrispen • 31 Januari 2019 17:53
Jakarta: Duduk di sudut sebuah rumah, seorang gadis kecil berbaju biru melempar senyum. Suaranya lirih sambil memicingkan satu matanya.
 
Wajah yang penuh luka seakan bercerita, "Aku, berjuang..." sirat dalam benak ia sampaikan.
 
Sebagian kepalanya botak karena malnutrisi yang ia derita. Ia adalah Rika. Salah satu anak yang berada di Rumah Harapan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebuah rumah yang didirikan oleh Valencia Mieke Randa bagi anak-anak penderita penyakit yang sulit disembuhkan atau biasa disebut pasien terminal.
 
Silly, begitu ia disapa membantu anak-anak dengan berbagai penyakit seperti penderita kanker, leukemia, gizi buruk, jantung, dan lainnya. Menggantungkan segenggam asa untuk kesembuhan penyakit yang diderita.

Asa Rika


Kasus Rika adalah satu dari sekian kasus yang Silly tangani. Gadis kecil asal Lombok ini hanya tinggal dan dirawat oleh neneknya berusia 80 tahun, sempat tertipu penggalangan dana.
 
"Orang tua Rika tidak mau datang. Dia kami temukan di Lombok tinggal sama neneknya yang berusia 80-an," buka Silly.
 
Silly bercerita si kecil Rika juga pernah dimanfaatkan oleh segelintir orang demi kepentingan pribadi.
 
Merentang Asa di Rumah Harapan
Semua anak punya hak untuk sehat karena merekalah penerus bangsa ini. (Foto: @valenciamiekeranda)
 
Sayangnya, penggalangan dana atas namanya tak seutuhnya sampai. Dari Rp100 juta, hanya Rp10 juta yang sampai ke tangan si nenek.
 
Belum lagi ada embel-embel politik yang ingin memanfaatkan gadis cilik ini. Silly menghindari.
 
Bagi wanita tangguh ini, tak ada kaitan ketulusan hati dengan dunia politik. Membawa Rika ke Jakarta adalah salah satu yang ia lakukan.

Membangun Rumah Harapan


Silly merupakan pendiri Blood for Life, komunitas yang bergerak membantu orang yang membutuhkan darah. Menjadi pemeran utama mengurus komunitas tersebut, perempuan kelahiran Makele justru membuat kecewa orang.
 
"Saya dihubungi seseorang yang menanyakan kesediaan darah, namun tak saya respons karena masalah pekerjaan. Tapi setelah saya meresponsnya, orang yang membutuhkan darah itu telah meninggal dunia," jelas Silly.
 
Rasa bersalah pun menggerogoti kehidupannya. Padahal tujuannya membangun Blood for Life adalah membantu orang yang membutuhkan darah. Merasa terus bersalah, Silly berhenti dari pekerjaannya dan fokus pada pelayanan sosial.
 
Merentang Asa di Rumah Harapan
Kebersamaan Silly bersama anak-anak di Rumah Harapan (Foto: @valenciamiekeranda)
 
Suatu hari datang ke rumah sakit, ia melihat orang tua yang yang sedang rebahan di selasar sambil menunggu anaknya sakit. Saat satpam berpatroli, para orang tua itu lari. Kejadian itu ia cermati bukan sekali, tapi berkali-kali.
 
Lebih sedih lagi, kata Silly, banyak orang tua tidak berani datang ke kota besar untuk mengobati anak. Meskipun, kondisi anak mereka telah kronis. Itu karena mereka tidak memiliki uang untuk membiayai kebutuhan di rumah sakit.
 
“Banyak orang tua tidak mampu yang memiliki anak yang sedang sakit kanker, tumor, gizi buruk, masalah pada jantung, dan penyakit parah lainnya. Mereka membutuhkan bantuan dan saya merasa harus memulainya," terang perempuan berusia 47 tahun tersebut.

Baca juga: Kecantikan Fitrah dengan Bahan HyRadiance

"Walaupun ada BPJS, tapi kan enggak menanggung biaya transportasi dan makan. Jadi kalau enggak punya uang ya enggak bisa makan dong. Akhirnya anaknya dibiarkan begitu saja tidak diobati," ungkapnya.
 
Demi mengobati rasa bersalahnya, manajer di perusahaan swasta itu akhirnya bertekad mendirikan Rumah Harapan. Tujuannya untuk membantu anak-anak sakit berusia 0-17 tahun dari keluarga tidak mampu yang berasal dari luar Jakarta, yang dirujuk untuk berobat atau rawat jalan di rumah sakit di Jakarta.

Modal Nekat dengan Tekad yang Bulat

Membangun rumah singgah untuk anak-anak yang menderita penyakit adalah impian Silly. Tapi ibu tiga anak ini hanya punya modal nekat untuk mewujudkan.
 
Dikatakan nekat, sebab Silly hanya punya uang Rp1 juta untuk bisa mendirikan Rumah Harapan. Selain itu, lulusan sarjana teknik ini juga tak punya keahlian di bidang medis.

Tidak ada yang mudah dalam kehidupan, tapi juga tidak ada yang mustahil ketika berharap dengan iman dan berusaha.


Kalimat di atas menjadi pegangan kuat bagi Silly sejak mendirikan yayasan Rumah Harapan Indonesia. Pada 2011, ia pernah mengajukan proposal di sejumlah perusahaan untuk mendirikan Rumah Harapan. Tapi selalu diakhiri dengan bertepuk sebelah tangan.
 
"Saat itu saya ‘ngamen’ (mengajukan proposal CSR) di pertengahan tahun. Selain itu, saya juga selalu ditanya, sudah ada rumahnya belum? Saat itu, saya baru bisa menjawab, belum ada, kan baru mimpi," jelasnya.
 
Tiga tahun berlalu, tepatnya pada awal 2014, usaha Silly akhirnya mulai menunjukkan jalan. Seorang pemilik rumah di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, menyewakan rumah dengan harga Rp150 juta pertahun. Sayangnya Silly tak punya uang sebanyak itu, tetapi ia nekat.
 
Merentang Asa di Rumah Harapan
Di rumah ini, Silly memberikan semangat kepada anak-anak yang berjuang sembuh dari penyakit yang diderita (Foto: Krispen/Medcom.id)
 
Setelah melobi dengan berbekal uang Rp1 juta, Silly meminta sang pemilik untuk mengizinkan menyewa rumah itu. Pemilik rumah sepakat agar Silly mencicil uang, plus menurunkan harga sewa rumah.
 
"Saya cicil 13 kali dengan DP Rp1 juta. Kunci rumah pun di tangan. Jadi kalau ditanya sama perusahaan saat 'ngamen', saya bisa lebih pede menjawabnya kalau itu bukan lagi mimpi," tutur Silly yang kembali menunjukkan senyumnya.
 
Tak disangka, jalan yang diharapkannya terlihat. Dalam waktu yang singkat, Silly mendapatkan penghargaan dari berbagai ajang, hadiah karena ia telah membentuk Blood for Life. Berbagai kesempatan menjadi pembicara pun datang.
 
"Semua datang dengan mudah. Jadi saya pikir kalau Tuhan sengaja kasih itu semua biar saya bisa lunasin rumah ini dan 13 kali bayar rumah ini sampai lunas, lalu kita mulai renovasi rumah dan pada akhir 2014 rumah ini siap untuk melayani anak-anak," imbuhnya dengan penuh rasa syukur.

'Malaikat' Terus Berdatangan


Meski demikian, Silly tidak berhenti mengupayakan uang masuk untuk memenuhi segala kebutuhan yang ada. Tak disangka, banyak donatur yang ikut berperan membantu aksi sosialnya. Bahkan salah satu perusahaan transportasi memberikan sebuah mobil untuk kendaraan operasional mengantar-jemput anak-anak ke rumah sakit.
 
Ada juga orang yang menampakkan kebaikannya di Twitter ketika Silly mempublikasikan butuh uluran tangan untuk menyumbangkan makanan sehat. Tidak hanya sekali, namun orang baik itu menyediakan makanan sehat setiap hari untuk seisi rumah di Rumah Harapan.
 
Sejumah rumah sakit yang memfasilitasi perawatan bagi penderita kanker, leukimia, tumor, dan penderita terminal lainnya, turut membantu mempermudah pelayanan untuk Rumah Harapan.

Baca juga: Penyebab Utama Pasangan Bertengkar


"Tuhan kasih orang-orang yang punya hati luar biasa seperti kakak-kakak pengurus di sini dan para donatur dari pribadi sampai perusahaan," katanya.
 
Di sisi lain, Silly dan seisi Rumah Harapan beberapa kali mengalami momentum duka cita mendalam. Yakni, ketika ada anak meninggal dunia. Mayoritas anak-anak tersebut telah pulih dan bisa dipulangkan ke rumah masing-masing.
 
"Ketika sembuh sudah diperingatkan masih ada 1-2 persen sel yang tersisa. Karena merasa sudah sembuh jadi makan sembarangan dan pas kembali ke sini biasanya sudah pecah pembuluh darah di mana-mana" imbuhnya.


Pintu Selalu Terbuka

Pintu Rumah Harapan akan selalu terbuka buat siapa pun orang tua yang anaknya sedang menderita penyakit terminal. Selain itu, Silly juga masih membuka ruang bagi siapa saja yang ingin membantu anak-anak yang menderita penyakit di rumah singgah ini.
 
Tak lupa terima kasih juga dilantunkan Silly kepada para pengurusnya. Sebab manusia-manusia seperti itu dianggapnya sulit ditemukan.
 
"Mencari pengurus yang melayani dengan sepenuh hati itu susah. Enggak banyak orang yang maulah istilahnya. Saya berharap semakin banyak orang yang hatinya tergerak membantu anak-anak yang luar biasa seperti ini. Bisa dengan tenaga, uang, atau kelebihan lain.
 
Merentang Asa di Rumah Harapan
Suasana di salah satu sudut Rumah Harapan, tempat Silly menjamu para 'malaikat' menghidupkan rumah singgah ini. (Foto: Krispen/Medcom.id)
 
"Saya juga berharap supaya Rumah Harapan Indonesia bisa terus membantu anak-anak yang membutuhkan dan itu tidak mungkin hanya kami yang di sini. Kami butuh bantuan kalian semua," tutup Silly.
 
Cegah Stunting, Kenali Penyebabnya

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif