Pekerjaannya sebagai tour leader di sebuah travel agent membawanya berkeliling hampir ke seluruh penjuru dunia. (Foto: Dok. Pribadi Marta Surya)
Pekerjaannya sebagai tour leader di sebuah travel agent membawanya berkeliling hampir ke seluruh penjuru dunia. (Foto: Dok. Pribadi Marta Surya)

Pekerjaan Sempurna bagi si Pencinta Jalan-jalan

Rona kisah kisah tour leader
Yatin Suleha, Sunnaholomi Halakrispen • 08 Agustus 2019 15:43
Bekerja memang harus dari hati. Kata orang bijak, passion membuat apa yang Anda kerjakan terasa tidak membosankan. Salah satu yang melakukan hal ini adalah Marta Surya (pria yang lebih akrab disapa Marto). Pekerjaannya sebagai Tour Leader di sebuah travel agent membawanya berkeliling hampir ke seluruh penjuru dunia.
 

 
Jakarta: Mendapatkan uang dari hasil usaha kerja lalu menyisihkannya untuk traveling, sudah biasa. Bayangkan jika Anda mendapatkan uang dari traveling atau jalan-jalan. Sungguh mengasikkan, bukan?

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bayangkan, Anda traveling ke luar negeri hampir setiap hari tanpa biaya alias gratis, mulai dari biaya untuk transportasi, akomodasi, hingga konsumsi. Ditambah, mendapatkan uang setiap kali bepergian. Ini tentu saja, impian dan pekerjaan sempurna bagi si pencinta jalan-jalan. Adalah Marta Surya, salah satu orang yang merasakan hal seru itu.
 
Marto, sapaannya, sangat menikmati traveling ke luar negeri. Pria berusia 37 tahun ini pun memantapkan dirinya menjadi tour leader dalam naungan travel agent resmi.
 
Sebentar, sebelum kami berbincang, ada hal unik dari namanya. Iya, kami tidak salah mengejanya kata laki-laki berkulit putih ini.
 
"Sebenarnya nama asli saya Marta, tapi karena dulu ibu saya bilang supaya agak macho dipanggilnya Marto aja.. Walaupun sebenarnya boleh panggil nama saya kedua-duanya," tawanya saat berbincang sore di sebuah coffee shop di bilangan Jakarta Pusat.
 
Berlanjut, Marto sedikit tersipu saat ditanya sudah ke negara mana saja? Jawabannya membuat senyum simpul, "Yang belum saya kunjungi Amerika bagian Latin. Brazil, Argentina, Paraguay, dan teman-temannya," ujar Marto dengan senyuman ramahnya lagi.
 
Pekerjaan Sempurna bagi si Pencinta Jalan-jalan
(Pekerjaan Marta Surya (lebih akrab disapa Marto) sebagai tour leader di sebuah travel agent membawanya berkeliling hampir ke seluruh penjuru dunia. Ia berpose saat berada di sebuah air terjun cantik di Norwegia, Juni 2019 lalu. Foto: Dok. Pribadi Marta Surya)

Beda tour guide dengan tour leader

Mungkin Anda lebih sering mendengar kata Tour Guide dibandingkan Tour Leader. Perbedaannya, tour guide merupakan orang yang bertugas membantu para tamu di lokasi destinasi. Tour guide akan memandu dengan memberikan informasi apapun di negara tujuan.
 
Sedangkan, tour leader bertugas memimpin tur dan membawa rombongan dari tempat keberangkatan ke destinasi manapun. Membereskan hal-hal di luar informasi destinasi. Di antaranya, pengaturan kamar, pengaturan meja makan, pembagian kunci, kursi pesawat, lokasi dan rute destinasi wisata dan lainnya.

Awal yang mengejutkan

Ada yang bilang bahwa, terkadang kita suka memulai sesuatu karena ketidaksengajaan. Tapi, hasilnya malah kita jadi jatuh cinta terhadap hal itu. Ini pula yang terjadi pada lelaki berpostur tinggi ini. Kecintaan Marto terhadap traveling tidak disengaja sedari dulu. Bahkan, ia memilih menempuh kuliah di jurusan pariwisata dengan pertimbangan yang sederhana.
 
"Saya hanya mau sekolah yang tidak mengajarkan kimia, biologi, dan fisika," tawanya lepas. "Saya tahu itu sekolah pariwisata. Saya sekolah lah di sana dan ternyata saya mulai jatuh cinta sama pariwisata," lanjutnya sambil masih tertawa.
 
Berawal dari liburan kuliah 17 tahun yang lalu, pria lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata ini menerima tawaran temannya. Kala itu, salah satu travel agent membutuhkan pekerja paruh waktu atau part time.
 
Pekerjaan Sempurna bagi si Pencinta Jalan-jalan
(Marto saat berada di Inverness, Skotlandia Maret 2019 lalu. Foto: Dok. Pribadi Marta Surya)

 
Serba kebetulan, travel agent tersebut sedang kekurangan karyawan padahal jumlah customer-nya jauh lebih banyak.
 
Tapi tak disangka, dia tak mendapatkan kesempatan memandu tamu yang hendak ke luar negeri. Tugasnya saat itu hanya di bagian office, mengurus surat-surat. Shock tentunya.
 
Kemudian, di tahun 2003 tiba waktunya Marto dipercayakan membawa rombongan. Marto sudah tidak iri dengan teman-teman sekantor yang lebih dulu jalan-jalan.
 
Pada pekerjaan pertama kalinya sebagai tour leader, dengan rute Singapura - Malaysia - Bangkok. Di usia 20 tahun itu, dia memandu rombongan selama sembilan hari. Excited, tapi malah boomerang.
 
"Saya dapat surat komplain atau keluhan sebanyak tiga lembar. Surat itu jatuh di meja manager tapi beruntung saya bukan karyawan, masih part time. Banyak yang harus saya pelajari ternyata. Bawa tur itu saya pikir santai-santai tanpa persiapan apapun," kenangnya.

Tumpukan tantangan   

Pengetahuan adalah yang terpenting. Tapi bukan hanya itu. Menikmati setiap tantangan merupakan kuncinya, karena ada banyak tantangan yang harus dihadapi.
 
"Orang bilang enak ya jalan-jalan, dibayar lagi. Tapi kembali lagi bahwa itu suatu pekerjaan dan banyak hal yang orang enggak tahu," tutur ayah dua anak ini.
 
Tuntutan harus bisa membaca detail tentang persoalan tiket, print out, memastikan visa dan paspor tamu dengan tepat, serta beragam pemahaman mengenai back office.
 
Tidur paling akhir dari seluruh rombongan tur. Sebab, harus memastikan fasilitas kamar hotel yang disinggahi tidak ada komplain dari para tamu.
 
Patokannya, kata Marto, tidak ada yang komplain di Whatsapp Group dan tidak ada yang meneleponnya minumal satu jam setelah jadwal tidur. "Saya baru bisa beres-beres dan mandi," paparnya.
 
"Dan kamar saya enggak akan saya pakai sampai saya yakin keperluan semua tamunya beres. Karena the worst case, hotelnya full dan ternyata kamar tamunya bocor atau enggak dingin, jadi kami harus siap kasih kamar kami," jelas pria yang sering kasih tips dan trik di setiap negara kunjungan ini.
 
Selama masa tur, bangun pagi wajib bangun paling awal. Tugasnya, memastikan konsumsi sarapan yang disediakan pihak hotel tersedia tepat waktu.
 
Bahkan, Marto punya kebiasaan foto seluruh menu masakan dan menginformasikan tamu yang mana saja yang halal berdasarkan standar MUI. Tapi tak berhenti sampai di situ.
 
Pekerjaan Sempurna bagi si Pencinta Jalan-jalan
(Ia mengakui, bahwa ia adalah salah satu traveler tipe pecinta view atau pemadangan. Melihat pemandangan alam yang cantik di berbagai negara, salah satunya seperti di Norwegia, saat ia tour leader Juni 2019 lalu. Foto: Dok. Pribadi Marta Surya)
 
Pria yang kini mahir mengobrol asyik dengan siapapun ini, juga mengasah kemampuan komunikasinya. Ini hal wajib baginya, terutama terhadap tour guide dan supir selama di perjalanan. Baginya, komunikasi dengan tour guide setempat dan supir bus sangat penting.
 
"Koordinasi juga sama supir perlu apalagi untuk beberapa negara yang tidak ada tour guide. Seperti Australia, New Zeland, Eropa, Amerika, itu tidak punya guide. Artinya tugas si tour leader bertambah," ujar dia.
 
Hal ini juga jadi penentu apakah waktu liburan bisa padat dengan waktu yang telah disediakan. Karena bisa jadi, hujan. "Komunikasi dengan supir bus tentang cuaca dan jalan tempuh biasanya sangat penting. Siapa tahu setelah lewat daerah tertentu, cuaca di area lainnya cerah berawan," ucap Marto.
 
Segala informasi mengenai negara tujuan juga menjadi andil sang tour leader untuk situasi khusus seperti itu. Komunikasi dengan para tamu pun ditekuninya. Supaya mereka tidak merasa bosan, ia harus terus mencari ide.
 
Ketika tengah dalam perjalanan panjang seperti tiga jam lebih, Marto menghibur tamu dengan mengobrol, menayangkan film, memberikan kuis, serta permainan lengkap dengan peralatannya.
 
"Dulu saya pikir lulus kuliah enggak perlu belajar lagi. Tapi ternyata, buku saya makin tebal. Karena destinasi baru saya harus belajar. Semuanya," ucapnya yang kala itu ditemani kawan sesama tour leader.

Mengatasi peristiwa pahit

Pria yang asyik bercerita itu paham bahwa dirinya sempat tidak mempersiapkan diri menjadi tour leader. Tidak mengisi pengetahuan, kisi-kisi mengenai tujuan destinasi, dan keperluan lainnya. Ketika ada masalah, Marto muda hanya diam karena tidak memahami masalah tersebut.
 
"Saya lemah. Pekerjaan ini bukannya semudah yang saya bayangkan. Maka itu jadi trigger saya, saya jadi sadar bahwa banyak hal yang harus saya perbaiki," kenangnya lagi.
 
Peristiwa pahit di masa lalu yang terbilang menampar dirinya itu, terobati dengan semangat juang.
 
Pihak travel agent untungnya bisa menangani tamu yang sempat kecewa dan turut memahami kemampuan Marto. Tidak ada sanksi untuk anak part time itu di 16 tahun silam.
 
"Lalu setelahnya mulai perbaikan diri, tur kedua sudah zero complaint. Terus saya pertahankan prestasi saya. Puji Tuhan sampai saat ini ada beberapa tamu yang puas," tuturnya merendah.
 
Pekerjaan Sempurna bagi si Pencinta Jalan-jalan
(Marto saat berpose di tepi pantai yang indah di Montenegro, Oktober 2018 silam. Foto: Dok. Pribadi Marta Surya)
 
Ada juga peristiwa menegangkan lainnya. Masalah krusial pernah menghiasi karier Marto selama menjadi tour leader. Tentang penerbangan dari Amsterdam ke Fankfurt lalu ke Indonesia sebagai tujuan akhirnya.
 
Rombongannya ketinggalan pesawat di 2013 atau 2014. Penyebabnya, penerbangan pesawat di Amsterdam mengalami delay. Tiba di Frankfurt, grupnya ketinggalan pesawat karena tidak ada lagi penerbangan setelah pukul delapan malam waktu setempat.
 
Kemampuan bernegosiasi diuji saat permasalahan seperti itu muncul. Mau tidak mau, tour leader harus mendapatkan upaya ganti rugi dari pihak terkait agar para tamu bisa menunggu dengan bermalam di tempat yang layak.
 
Akhirnya, pria yang sudah berpindah-pindah travel agent ini berhasil bernegosiasi dengan customer service maskapai yang berada di bandara.
 
Juga dengan kepolisian setempat, karena status mereka sudah resmi keluar dari negara tersebut. Lantaran hendak menginap di negara itu, Marto harus bernegosiasi dengan polisi agar statusnya diubah.
 
Saat menceritakan masa-masa pahit itu, ia bisa tertawa lepas. "Tapi waktu mengalaminya, waduh saya dulu keringet dingin.. Tapi dari situ kita belajar memanage emosi. Dan semakin lama semakin baik. Harus tetap tenang, profesional," kenang pria berkacamata ini

Cara membagi waktu

Tidak menentunya jadwal bepergian Marto, menyebabkan jadwal liburnya ikut tak pasti. Pernah dirinya hanya bisa pulang ke rumah berkumpul bersama istri dan anak di Jakarta selama tiga hari.
 
"Ini sulitnya kami. Bagi waktu sama keluarga tergantung job. Kita enggak bisa milih. Kalau nolak kerjaan, sayang karena itu momen perkerjaan. Di momen itu dibutuhkan banyak sekali tour leader dan kami sebaiknya membantu si travel agent," terangnya.
 
Saat libur anak sekolah, libur Natal, dan tahun baru, bisa dibilang Marto wajib membantu memandu para tamu bepergian ke luar negeri. Sebagai gantinya, ia berlibur bersama keluarganya bukan di hari libur nasional.
 
Pekerjaan Sempurna bagi si Pencinta Jalan-jalan
(Marto dan keluarga di Queenstown, NZ, Oktober 2018 saat liburan bersama. Foto: Dok. Pribadi Marta Surya)
 
"Pas kebetulan kita bisa refreshing, anak-anak kita minta izin sekolah jadi bisa liburan. Momennya enggak pas libur anak karena ada kerjaan. Kebetulan saya suka dengan pekerjaan saya, jadi bagi saya beban seperti itu enggak berat," akunya.
 
Tanya kami, apakah anak-anaknya akan diberikan pemahaman juga untuk nantinya berkarier jadi tour leader juga? Jawabnya, tidak.
 
"Tapi, tergantung lagi kepada mereka. Jika mereka suka saya akan dukung. Karena segala pekerjaan mulainya harus dari hati," pungkas Marto.
 
Simak kisah tour leader lainnya di sini.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif