Sarana hunian pariwisata (sarhunta) di kawasan Borobudur. Foto: Kementerian PUPR
Sarana hunian pariwisata (sarhunta) di kawasan Borobudur. Foto: Kementerian PUPR

Jelang Waisak, Sarhunta Borobudur Disewakan Rp300 Ribu per Malam

Rizkie Fauzian • 15 Mei 2022 22:02
Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan sarana hunian pariwisata (sarhunta) untuk wisatawan di Borobudur menjelang perayaan Waisak 2022.
 
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, dalam tatanan normal baru untuk hidup berdamai dengan pandemi covid-19, pemerintah meyakini sektor ekonomi utama yang dapat rebound dengan cepat adalah  pariwisata.
 
"Untuk itu tidak ada kegiatan pembangunan infrastruktur pada lima pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) atau Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yang dihentikan,” kata dalam keterangan tertulis, Minggu, 15 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Memasuki dua tahun pandemi, sektor pariwisata yang sempat mati suri kini kembali bergeliat. Pemerintah meyakini pariwisata sebagai salah satu sektor strategis untuk mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
 
Menjelang perayaan Waisak 2022, salah satu sarhunta yang telah disiapkan Kementerian PUPR adalah Sarhunta Borobudur yang diharapkan umat Buddha yang datang ke perayaan Waisak maupun wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur menginap di Sarhunta itu.
 
Program Sarhunta merupakan rangkaian kegiatan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)  Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR, guna meningkatkan kualitas rumah menjadi lebih layak huni, sekaligus mendorong perekonomian karena rumah bisa dimanfaatkan sebagai homestay bagi para wisatawan.
 
Terdapat 821 rumah yang mendapat bantuan Sarhunta, terdiri dari 382 di 15 desa berupa peningkatan kualitas rumah dengan fungsi homestay dan usaha pariwisata lainnya dan 439 unit di empat desa peningkatan kualitas rumah swadaya tanpa fungsi usaha.
 
Direktur Jenderal Perumahan Iwan Suprijanto mengatakan sarhunta yang dibangun Kementerian PUPR memiliki beberapa karakteristik yang membedakan dengan hunian lain. 
 
“Ciri khas elemen fisik dapat dilihat dari pembangunan atap tradisional Jawa Kerakyatan dengan bumbungan kalpataru, ada teras homestay, pintu dan jendela dengan motif kawung dan pigura bata ekspose, kamar tidur dengan bata ekspose dan fasilitas penginapan yang memadai, kamar mandi standar yang bersih serta adanya pot atau gentong untuk cuci tangan,” ungkap Iwan.
 
Diharapkan kehadiran Sarhunta dapat mendorong perekonomian masyarakat di sekitar Candi Borobudur serta meningkatkan kualitas hunian.
 
Salah satu penerima bantuan Sarhunta, Suripto menerangkan pada masa liburan seperti Lebaran  banyak wisatawan yang memilih menginap di Sarhunta ketimbang di hotel. Pada perayaan Waisak tahun ini pun Sarhunta yang dikelola langsung oleh masyarakat juga sudah penuh terisi sehingga mendorong geliat perekonomian dan pariwisata di Magelang. 
 
"Saya mendapat satu unit bantuan Sarhunta dan disekitarnya juga ada tiga unit milik warga lain. Jadi Sarhunta tersebut dikelola menjadi homestay sehingga menarik wisatawan untuk menginap," jelasnya.
 
Suripto menerangkan, fasilitas penginapan yang ada di Sarhunta tidak kalah dengan yang ada di hotel. Di Sarhunta juga ada tempat tidur, kamar mandi, pendingin udara atau kipas angin serta fasilitas menginap yang bersih dan tarifnya pun  sangat terjangkau.
 
"Kami juga minta agar semua pihak mempromosikan Sarhunta agar  tamu atau wisatawan yang datang ke Borobudur bisa menginap disini. Kami juga telah mendapat pelatihan bagaimana mengelola Sarhunta dan fasilitas penginapan yang harus disediakan agar tamu betah. Untuk tarif menginap juga terjangkau mulai Rp300 ribu untuk kamar dengan fasilitas tambahan kipas angin dan Rp400 ribu dengan kamar yang memiliki AC," tandasnya.
 
(KIE)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif