Kawasan sekeliling Sesar Lembang yang padat penduduk dengan segala aktifitasnya. MI/Depi Gunawan
Kawasan sekeliling Sesar Lembang yang padat penduduk dengan segala aktifitasnya. MI/Depi Gunawan

Rawan Gempa, Tata Ruang Sesar Lembang Perlu Dibenahi

Properti Wisata Bandung Longsor Sukabumi
Dhika Kusuma Winata • 03 Januari 2019 12:12
Jakarta: Hasil kajian bersama pemerintah, PBB dan ITB sepakat menyatakan Sesar Lembang, Bandung, merupakan patahan geser aktif yang rawan gempa. Sementara kawasan ini terlanjut padat penduduk.
 
Potensi gempa yang bisa terjadi diperkirakan mencapai magnitudo 5. Walau belum dapat diketahui kapan gempa terjadi, tapi demi mengurangi risiko sebaiknya segera dilakukan pembenahan atas peruntukan kawasan tersebut.
 
"Ancaman gempa itu ada, jadi mau tidak mau harus direlokasi. Tinggal menunggu tindakan pemerintah daerah seperti apa nantinya," kata Eko Yulianto, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam diskusi di Gedung LIPI, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (2/1/2019).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, relokasi permukiman dan fasilitas publik lainnya di sekitar Sesar Lembang dibutuhkan untuk meminimalisasi risiko bencana. Likuefaksi di Palu dan tsunami Selat Sunda yang menelan banyak korban jiwa salah satunya faktor tata ruang dan wilayah yang tidak mengindahkan wilayah rawan bencana.
 
Rawan Gempa, Tata Ruang Sesar Lembang Perlu Dibenahi
Dinding datar Gunung Batu merupakan bagian patahan geser aktif Sesar Lembang. Daerah sekitarnya padat dengan aktifitas warganya. Antara Foto/Raisan Al Farisi
 
Bandung yang rentan gempa bumi di Sesar Lembang menuntut warganya sadar dan waspada. Informasi tentang pontensi rawan bencana bukan untuk membuat kekhawatiran, tapi demi membangun kesadaran dan bersiaga mengantisipasi kemungkinan terburuk.
 
"Membangun tata ruang berbasis risiko bencana sangat penting selain peringatan dini. Ketika yang ditegakkan ialah tata ruangnya, artinya masyarakat juga punya tanggung jawab untuk tidak membangun di daerah rawan," ujar Eko yang juga menjabat Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI itu.
 
Sesar Lembang awalnya dianggap bukan sebagai sesar aktif. Namun belakangan diketahui ternyata sesar sepanjang 29 km yang merentang dari Gunung Manglayang-Tebing Keraton-Gunung Batu itu menunjukkan aktivitas kegempaan merusak meski kekuatannya tidak besar.
 
"Terakhir gempa Sesar Lembang pada Agustus 2011 di Muril Rahayu Kabuaten Bandung Barat. Lebih dari 300 rumah rusak retak-retak padahal kekuatannya hanya magnitudo 3,3," tuturnya.
 
Bersama tim di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, ia meneliti jejak sejarah (paleoseismologi) aktivitas Sesar Lembang memanfaatkan data sedimen tanah dengan metode uji parit. Hasilnya diketahui pernah terjadi sedikitnya dua gempa besar pada sesar tersebut sekitar 2 ribu tahun lalu dengan kekuatan 6,8 magnitudo dan 6,6 magnitudo sekitar 500 tahun lalu.


baca juga: Ilmuwan belum dilibatkan dalam perencanaan kawasan


"Pergerakan Sesar Lembang per tahunnya 2 mm hingga 3 mm. Memang lamban tapi itu akan mengakumulasi energi yang sewaktu-waktu bisa dilepaskan hingga menyebabkan gempa besar yang kita tidak tahu kapan akan terjadinya," ungkapnya.
 
Kerentanan wilayah Bandung terhadap potensi gempa besar juga ditambah kondisi sejarah wilayahnya yang berupa cekungan endapan dari danau purba. Itu berpeluang makin memperparah dampak yang ditimbulkan karena struktur tanah bersifat lunak.
 
"Yang bisa dilakukan ialah memberikan pengertian ke masyarakat bahwa wilayah itu rawan dan jika dihuni berisiko tinggi. Bukan tidak boleh ada aktivitas di sana, tapi sebaiknya bangunan temporer yang bukan permukiman dan perlu disiapkan area buffer zone 20 meter di sekitar sesar," papar Eko
 

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif