Rumah Tahan Gempa dari Hutan Rakyat
Rumah kayu ini juga diklaim mampu menahan gempa hingga 7 skala ritcher karena mengadopsi desain rumah dari Jepang.
Jakarta:Pernahkah kamu terpikir untuk membuat rumah dengan kontruksi kayu? Memang bukan pilihan yang masuk akal mengingat harganya yang tinggi. Namun untuk tahan gempa, rumah kayu terbukti pilihan masuk akal.

Di Indonesia, rumah kayu tetap diproduksi dan tergolong laku keras untuk eksport. Uniknya tak cuma di segmen mewah, tapi juga rumah darurat bagi korban bencana alam seperti menjadi fokus pemasaran Seradjati ini.


"Kayu kayu sedang booming di pasar dunia. Rumah dua lantai dengan ukuran 55 meter persegi harganya Rp 270 juta, kalau dua lantai berarti 110 meter," kata CEO Rimba Sentosa Persada, Setyo Wisnu kepada Medcom.id di sela Trade Expo Indonesia di ICE BSD, Tangerang, pekan lalu.



Jenis kayu yang digunakan untuk dinding adalah albasia atau sengon yang merupakan varietas anti rayap. Sementara untuk struktur bangunannya menggunkan kayu jabon dan atap sirapnya dari jati.

"Kita ambil kayunya dari hutan rakyat di Jawa Tengah dan Jawa Timur," sambung Setyo.


Mirip seperti rumah instan yang dikembangkan oleh Kementerian PUPR, Risha. Rumah yang satu ini juga menggunakan teknologi knock down sehingga mudah dipindahkan dan desainnya mudah disesuaikan dengan kebutuhan penghuni.

Waktu pembuatan rumah dengan dua lantai sekitar tiga hari dan dikerjakan oleh delapan orang. Sedangkan satu lantai prosesnya dua hari dan dikerjakan bisa oleh lima orang.



Rumah kayu ini juga diklaim mampu menahan gempa hingga 7 skala ritcher karena mengadopsi desain rumah dari Jepang. Saat ini pihaknya tengah menunggu proses uji ketahanan. "Dengan treatment water resistent, rumah ini mampu bertahan 6-10 tahun. Artinya bukan rumah jadi hancur semua, tapi beberapa bagian perlu adanya perbaikan sedikit," ungkapnya.

Meski baru diluncurkan, namun rumah kayu ini sudah banyak dilirik pembeli dari mancanegara. Di antaranya adalah perusahaan dari Texas, Amerika Serikat, yang memesan seribuan unit untuk rumah korban gempa di Nigeria.

"Juga untuk hunian para korban badai Amerika, minta seribu unit juga. Ada juga dari Meksiko, Jordania dan Papua Nugini, mereka semua tertarik karena murah, desainnya menarik, mudah custom dan produksinya cepat," sambung Setyo.



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id