NEWS
Konektivitas LRT Perkuat Konsep Kota Terintegrasi di Jakarta
Rizkie Fauzian
Rabu 02 September 2026 / 19:23
- Rencana operasional LRT Manggarai-Kelapa Gading dinilai dapat memperkuat konektivitas transportasi massal sekaligus mendukung pertumbuhan kawasan.
- Integrasi transportasi dan kawasan menjadi bagian penting dalam pengembangan konsep Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta.
- Kehadiran LRT, KRL, MRT, dan kereta cepat semakin mendorong pengembangan kawasan yang terhubung dengan hunian, pusat bisnis, fasilitas publik, dan ruang komersial.Select 78 more words to run Humanizer.
Jakarta: Rencana pengoperasian LRT Jakarta rute Manggarai-Kelapa Gading dinilai dapat memperkuat konektivitas transportasi publik sekaligus mendorong perkembangan kawasan di Jakarta.
Kehadiran jalur tersebut tidak hanya memberikan alternatif mobilitas bagi masyarakat, tetapi juga dapat meningkatkan keterhubungan antara kawasan hunian, pusat bisnis, area komersial, dan fasilitas publik.
Pengembangan transportasi massal yang terintegrasi juga sejalan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini menempatkan transportasi publik sebagai bagian dari pengembangan kawasan sehingga berbagai aktivitas masyarakat dapat dijangkau dengan lebih mudah.
Stasiun tersebut terkoneksi langsung dengan kawasan komersial melalui connecting bridge sepanjang sekitar 120 meter. Integrasi ini memudahkan pengguna LRT untuk melanjutkan perjalanan menuju pusat aktivitas tanpa harus berpindah menggunakan kendaraan pribadi.
PT Summarecon Agung Tbk menjadi salah satu pengembang yang mengembangkan kawasan terpadu dengan menggabungkan fungsi hunian, komersial, fasilitas publik, dan akses transportasi.
Kehadiran rute LRT Manggarai-Kelapa Gading nantinya diharapkan dapat semakin memperkuat konektivitas kawasan tersebut. Jaringan transportasi yang lebih luas juga berpotensi meningkatkan akses masyarakat dari berbagai wilayah menuju pusat aktivitas di Jakarta.
Kehadiran stasiun tersebut melengkapi akses kawasan yang sebelumnya diperkuat melalui pembangunan Flyover KH Noer Ali bersama Pemerintah Kota Bekasi. Integrasi berbagai moda transportasi diharapkan dapat memberikan alternatif perjalanan sekaligus meningkatkan aksesibilitas kawasan.
Sementara itu, di Bandung, kawasan Summarecon Bandung terhubung dengan Stasiun Tegalluar Summarecon yang melayani perjalanan Kereta Cepat Whoosh. Akses menuju kawasan juga didukung Jembatan Cibiru Hilir dan layanan shuttle bus.
Di Tangerang, konektivitas transportasi massal juga tengah diarahkan melalui penjajakan dengan rencana pengembangan MRT Jakarta Koridor Timur-Barat, khususnya rute Kembangan-Balaraja. Kawasan Summarecon Serpong dan Summarecon Tangerang termasuk dalam wilayah yang berada dalam penjajakan konektivitas tersebut.
Jika terealisasi, jaringan MRT tersebut berpotensi memperkuat hubungan antara Jakarta Barat, Tangerang, hingga kawasan pertumbuhan baru di Banten. Akses transportasi yang semakin baik juga dapat membuka konektivitas menuju kawasan hunian, pusat bisnis, perdagangan, dan fasilitas publik.
Integrasi tersebut memungkinkan masyarakat mengakses berbagai kebutuhan, mulai dari tempat tinggal, pusat pekerjaan, fasilitas pendidikan, ruang komersial hingga fasilitas publik dengan pilihan mobilitas yang lebih beragam.
Bagi pengembang kawasan, konektivitas transportasi juga menjadi salah satu faktor yang semakin penting dalam membangun kawasan terpadu. Pengembangan hunian dan fasilitas komersial yang terhubung dengan transportasi publik dapat membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Dengan semakin berkembangnya jaringan transportasi massal, integrasi antara simpul transportasi dan kawasan menjadi bagian penting dalam membentuk kota yang lebih efisien.
Pengembangan tersebut bukan hanya mengenai pembangunan infrastruktur, tetapi juga bagaimana transportasi dapat terhubung dengan aktivitas masyarakat dan mendukung pertumbuhan kawasan secara berkelanjutan.
(KIE)
Kehadiran jalur tersebut tidak hanya memberikan alternatif mobilitas bagi masyarakat, tetapi juga dapat meningkatkan keterhubungan antara kawasan hunian, pusat bisnis, area komersial, dan fasilitas publik.
Pengembangan transportasi massal yang terintegrasi juga sejalan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini menempatkan transportasi publik sebagai bagian dari pengembangan kawasan sehingga berbagai aktivitas masyarakat dapat dijangkau dengan lebih mudah.
Integrasi transportasi di Kelapa Gading
Pengembangan kawasan yang terhubung dengan transportasi publik salah satunya terlihat di Kelapa Gading. Kawasan tersebut telah terhubung dengan layanan LRT Jakarta melalui Stasiun Boulevard Utara Summarecon Mall.Stasiun tersebut terkoneksi langsung dengan kawasan komersial melalui connecting bridge sepanjang sekitar 120 meter. Integrasi ini memudahkan pengguna LRT untuk melanjutkan perjalanan menuju pusat aktivitas tanpa harus berpindah menggunakan kendaraan pribadi.
PT Summarecon Agung Tbk menjadi salah satu pengembang yang mengembangkan kawasan terpadu dengan menggabungkan fungsi hunian, komersial, fasilitas publik, dan akses transportasi.
Kehadiran rute LRT Manggarai-Kelapa Gading nantinya diharapkan dapat semakin memperkuat konektivitas kawasan tersebut. Jaringan transportasi yang lebih luas juga berpotensi meningkatkan akses masyarakat dari berbagai wilayah menuju pusat aktivitas di Jakarta.
Transportasi massal dorong pertumbuhan kawasan
Integrasi antara transportasi dan pengembangan kawasan juga dilakukan di sejumlah wilayah lain. Di Bekasi, misalnya, kawasan Summarecon Bekasi terhubung dengan jaringan KRL Commuter Line melalui Stasiun Bekasi Ekstensi.Kehadiran stasiun tersebut melengkapi akses kawasan yang sebelumnya diperkuat melalui pembangunan Flyover KH Noer Ali bersama Pemerintah Kota Bekasi. Integrasi berbagai moda transportasi diharapkan dapat memberikan alternatif perjalanan sekaligus meningkatkan aksesibilitas kawasan.
Sementara itu, di Bandung, kawasan Summarecon Bandung terhubung dengan Stasiun Tegalluar Summarecon yang melayani perjalanan Kereta Cepat Whoosh. Akses menuju kawasan juga didukung Jembatan Cibiru Hilir dan layanan shuttle bus.
Di Tangerang, konektivitas transportasi massal juga tengah diarahkan melalui penjajakan dengan rencana pengembangan MRT Jakarta Koridor Timur-Barat, khususnya rute Kembangan-Balaraja. Kawasan Summarecon Serpong dan Summarecon Tangerang termasuk dalam wilayah yang berada dalam penjajakan konektivitas tersebut.
Jika terealisasi, jaringan MRT tersebut berpotensi memperkuat hubungan antara Jakarta Barat, Tangerang, hingga kawasan pertumbuhan baru di Banten. Akses transportasi yang semakin baik juga dapat membuka konektivitas menuju kawasan hunian, pusat bisnis, perdagangan, dan fasilitas publik.
Mendorong kota yang lebih terhubung
Perkembangan LRT, KRL, MRT, dan Kereta Cepat menunjukkan semakin pentingnya transportasi massal dalam membentuk pusat pertumbuhan baru. Keberadaan stasiun tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat naik dan turun penumpang, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem kawasan.Integrasi tersebut memungkinkan masyarakat mengakses berbagai kebutuhan, mulai dari tempat tinggal, pusat pekerjaan, fasilitas pendidikan, ruang komersial hingga fasilitas publik dengan pilihan mobilitas yang lebih beragam.
Bagi pengembang kawasan, konektivitas transportasi juga menjadi salah satu faktor yang semakin penting dalam membangun kawasan terpadu. Pengembangan hunian dan fasilitas komersial yang terhubung dengan transportasi publik dapat membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Dengan semakin berkembangnya jaringan transportasi massal, integrasi antara simpul transportasi dan kawasan menjadi bagian penting dalam membentuk kota yang lebih efisien.
Pengembangan tersebut bukan hanya mengenai pembangunan infrastruktur, tetapi juga bagaimana transportasi dapat terhubung dengan aktivitas masyarakat dan mendukung pertumbuhan kawasan secara berkelanjutan.
(KIE)