Aplikasi informasi Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 dalam peluncuran Surat Utang Negara (SUN) ritel kepada investor individu secara daring pada 10 Januari 2019. Minimum pemesanan mulai Rp 1 juta dan maksimal Rp 3 miliar. Antara Foto/Wahyu Putro A
Aplikasi informasi Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 dalam peluncuran Surat Utang Negara (SUN) ritel kepada investor individu secara daring pada 10 Januari 2019. Minimum pemesanan mulai Rp 1 juta dan maksimal Rp 3 miliar. Antara Foto/Wahyu Putro A

Investasi Properti Kini Tak Segurih Obliglasi

Properti investasi properti obligasi bisnis properti
17 Januari 2019 07:07
Jakarta: Rendahnya penjualan unit apartemen pada sepanjang 2018 tidak lepas dari merosotnya nilai imbal hasil investasinya. Penuruannya cukup tajam sehingga investor memilih mengalihkan dananya untuk membeli obligasi alias surat utang.
 
Demikian salah satu kesimpulan hasil riset Properti Colliers International Indonesia tentang kondisi bisnis apartemen 2018 yang tak jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bisa dikatakan nyaris jalan di tempat.
 
"Kami mencari tahu kenapa penjualan apartemen tidak bagus," ujar Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto sebagaimana dilansir Antara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya kecenderungan masyarakat saat ini lebih memilih menabung sebagai instrument investasi yang stabil. Sementara investasi hujian apartemen imbal hasilnya kini tidak lebih besar dibandingkan produk obligasi dan deposito.
 
Contohnya obligasi seri SBR004 imbal hasilnya 7,10 persen, ORI 015 imbal hasilnya 7 persen dan deposito yang sebesar 6,5 persen. "Bandingkan dengan apartemen yang hanya 5,5 persen karena harga sewanya belum naik, bahkan cenderung terkoreksi," imbuhnya.
 
Investasi Properti Kini Tak Segurih Obliglasi
Deretan gedung apartemen di salah satu sudut Jakarta. Antara Foto/Galih Pradipta
 
Data juga menunjukkan imbal hasil investasi apartemen turun drastis. Bila pernah mencapai 10,2 persen pada 2013, per tahun lalu merosot hingga tinggal hampir separuhnya.
 
"Sementara ritme deposito cenderung stabil, risikonya jauh lebih rendah. Apartemen ini sewanya juga rendah dan belum tentu juga tersewa karena permintaan dari ekspatriat melambat," urai Ferry.
 
Meski demikian, impelentasi LTV yang diberlakukan pemerintah tetap mendapat apresiasi karena dapat mendorong penjualan hunian vertikal tersebut. Tahun ini diproyeksikan suplai unit apartemen akan terus tumbuh dan barulah pada semester dua akan ada indikasi lebih signufikan untuk penjualannya.
 
"Masyarakat masih was-was akan Pemilu/Pilpres dan suku bunga juga masih tinggi. Tapi masih ada peluang dari relaksasi LTV dan penurunan PPnBM (untuk mendongkrak penjualan -red)," pungkasnya.
 

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif