NEWS
LPKR Catat Laba Bersih Rp1,24 Triliun hingga September 2026
Rizkie Fauzian
Kamis 05 November 2026 / 11:51
- LPKR membukukan pendapatan Rp5,37 triliun dan laba bersih Rp1,24 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
- Prapenjualan properti LPKR mencapai Rp5,49 triliun atau 91 persen dari target tahunan, ditopang permintaan hunian tapak segmen terjangkau dan menengah.
- Segmen gaya hidup LPKR mencatat laba bersih Rp220 miliar hingga September 2026, meningkat dari Rp181 miliar pada periode yang sama tahun lalu
Jakarta: PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan pendapatan sebesar Rp5,37 triliun dengan laba bersih setelah pajak mencapai Rp1,24 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26). Pada periode yang sama, perusahaan mencatat EBITDA sebesar Rp1,11 triliun.
Dari sisi penjualan properti, LPKR mencatat prapenjualan sebesar Rp5,49 triliun hingga 30 September 2026. Realisasi tersebut setara dengan 91 persen dari target prapenjualan sepanjang 2026.
Pencapaian prapenjualan terutama ditopang permintaan hunian tapak pada segmen rumah terjangkau dan menengah di sejumlah proyek kota mandiri yang dikembangkan perusahaan. Kedua segmen tersebut menyumbang 75 persen dari total prapenjualan.
Kontribusi tersebut mencerminkan permintaan dari pembeli rumah pertama (first-time homebuyers) dan konsumen yang membeli hunian untuk ditempati sendiri (end-users).
Salah satu proyek yang mendukung penjualan adalah Hunian Warisan Bangsa Serang yang diluncurkan pada 2026. Proyek tersebut menawarkan delapan tipe rumah dengan harga berkisar Rp101 juta hingga Rp262 juta.
Di segmen properti Lippo Karawaci (Holdco), penjualan hunian mencapai Rp3,24 triliun. Sementara itu, penjualan unit komersial tercatat Rp755 miliar, persediaan properti vertikal sebesar Rp53 miliar, kavling tanah Rp30 miliar, serta kavling pemakaman di San Diego Hills sebesar Rp107 miliar.
Dari total penjualan properti pada 9M26, sebanyak 71 persen menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal ini menunjukkan besarnya kontribusi pembeli yang memanfaatkan pembiayaan perbankan dalam transaksi pembelian hunian.
Dari sisi operasional, rata-rata tarif kamar hotel tercatat sebesar Rp641 ribu. Namun, tingkat okupansi rata-rata hotel mengalami penurunan menjadi 58 persen dari sebelumnya 60 persen pada 9M25.
Sementara itu, jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan meningkat 1 persen secara tahunan menjadi rata-rata 11,2 juta kunjungan per bulan.
CEO LPKR John Riady mengatakan perusahaan akan mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis properti dengan berfokus pada pengembangan hunian tapak, khususnya di segmen terjangkau dan menengah.
"Kami menyambut baik momentum pertumbuhan yang terus terjaga dalam bisnis properti, dengan prapenjualan mencapai Rp5,49 triliun atau 91 persen dari target sepanjang tahun. Permintaan masih didorong oleh hunian tapak, khususnya pada segmen terjangkau dan menengah yang menjadi landasan strategi kami," ujar John.
Dia menambahkan, perusahaan akan berfokus pada penyelesaian dan pelaksanaan proyek-proyek kota mandiri, disertai disiplin dalam alokasi modal dan pengelolaan operasional.
(KIE)
Dari sisi penjualan properti, LPKR mencatat prapenjualan sebesar Rp5,49 triliun hingga 30 September 2026. Realisasi tersebut setara dengan 91 persen dari target prapenjualan sepanjang 2026.
Pencapaian prapenjualan terutama ditopang permintaan hunian tapak pada segmen rumah terjangkau dan menengah di sejumlah proyek kota mandiri yang dikembangkan perusahaan. Kedua segmen tersebut menyumbang 75 persen dari total prapenjualan.
Kontribusi tersebut mencerminkan permintaan dari pembeli rumah pertama (first-time homebuyers) dan konsumen yang membeli hunian untuk ditempati sendiri (end-users).
Salah satu proyek yang mendukung penjualan adalah Hunian Warisan Bangsa Serang yang diluncurkan pada 2026. Proyek tersebut menawarkan delapan tipe rumah dengan harga berkisar Rp101 juta hingga Rp262 juta.
Di segmen properti Lippo Karawaci (Holdco), penjualan hunian mencapai Rp3,24 triliun. Sementara itu, penjualan unit komersial tercatat Rp755 miliar, persediaan properti vertikal sebesar Rp53 miliar, kavling tanah Rp30 miliar, serta kavling pemakaman di San Diego Hills sebesar Rp107 miliar.
Dari total penjualan properti pada 9M26, sebanyak 71 persen menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal ini menunjukkan besarnya kontribusi pembeli yang memanfaatkan pembiayaan perbankan dalam transaksi pembelian hunian.
Kinerja Segmen Gaya Hidup LPKR
Selain properti, segmen gaya hidup LPKR mencatat pendapatan sebesar Rp922 miliar dengan EBITDA Rp377 miliar pada 9M26. Laba bersih segmen ini mencapai Rp220 miliar, meningkat dibandingkan Rp181 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.Dari sisi operasional, rata-rata tarif kamar hotel tercatat sebesar Rp641 ribu. Namun, tingkat okupansi rata-rata hotel mengalami penurunan menjadi 58 persen dari sebelumnya 60 persen pada 9M25.
Sementara itu, jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan meningkat 1 persen secara tahunan menjadi rata-rata 11,2 juta kunjungan per bulan.
CEO LPKR John Riady mengatakan perusahaan akan mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis properti dengan berfokus pada pengembangan hunian tapak, khususnya di segmen terjangkau dan menengah.
"Kami menyambut baik momentum pertumbuhan yang terus terjaga dalam bisnis properti, dengan prapenjualan mencapai Rp5,49 triliun atau 91 persen dari target sepanjang tahun. Permintaan masih didorong oleh hunian tapak, khususnya pada segmen terjangkau dan menengah yang menjadi landasan strategi kami," ujar John.
Dia menambahkan, perusahaan akan berfokus pada penyelesaian dan pelaksanaan proyek-proyek kota mandiri, disertai disiplin dalam alokasi modal dan pengelolaan operasional.
(KIE)