NEWS
Ekonomi Asia Tak Pasti, Investasi Properti Masih Menarik
Rizkie Fauzian
Jumat 01 Februari 2019 / 04:08
Jakarta: Di tengah ketidakpastian perekonomian global dan Asia, sektor properti masih dilirik oleh pembeli dari kalangan investor. Tidak terkecuali Indonesia yang tahun ini memasuki tahun politik.
"Kajian pasar properti Asia masih menantang di 2019, tetapi kesempatan tetap ada bagi investor," kata Executive Director of Research in Asia Colliers International, Andrew Haskins, dalam keterangan tertulis.
Fenomena perang dagang dan munculnya tanda-tanda melemahnya perekonomian di Amerika Serikat disinyalir akan menghambat kinerja properti Asia. Selain itu, ada perlambatan PDB Tiongkok menjadi sekitar 6 persen pada 2019, demikian pula dengan sejumlah kawasan perekonomian lainnya seperti Hong Kong dan Singapura.
"Namun, masih ada kesempatan bagi investor properti seperti di aset perkantoran Tokyo, Singapura, dan Bangalore serta aset logistik di sejumlah daerah di Tiongkok," jelasnya.
Di Indonesia, kajian Colliers menyatakan pasar properti masih membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Tetapi aktivitas investasi asing dan lokal dikabarkan mengambil momentum guna proyek jangka panjang.
Realestat Indonesia (REI) menargetkan pertumbuhan sektor properti nasional sebesar 10 persen pada 2019. Sementara itu, minat konsumen dalam membeli hunian masih di kisaran Rp 2 miliar.
"Jadi, untuk yang di atas itu, meskipun terdapat relaksasi dari perpajakan, kelihatannya minat konsumen masih di bawah harga tersebut," ungkap Sekretaris Jenderal (Sekjen) REI Paulus Totok Lusida.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(LHE)
"Kajian pasar properti Asia masih menantang di 2019, tetapi kesempatan tetap ada bagi investor," kata Executive Director of Research in Asia Colliers International, Andrew Haskins, dalam keterangan tertulis.
Fenomena perang dagang dan munculnya tanda-tanda melemahnya perekonomian di Amerika Serikat disinyalir akan menghambat kinerja properti Asia. Selain itu, ada perlambatan PDB Tiongkok menjadi sekitar 6 persen pada 2019, demikian pula dengan sejumlah kawasan perekonomian lainnya seperti Hong Kong dan Singapura.
"Namun, masih ada kesempatan bagi investor properti seperti di aset perkantoran Tokyo, Singapura, dan Bangalore serta aset logistik di sejumlah daerah di Tiongkok," jelasnya.
Di Indonesia, kajian Colliers menyatakan pasar properti masih membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Tetapi aktivitas investasi asing dan lokal dikabarkan mengambil momentum guna proyek jangka panjang.
Realestat Indonesia (REI) menargetkan pertumbuhan sektor properti nasional sebesar 10 persen pada 2019. Sementara itu, minat konsumen dalam membeli hunian masih di kisaran Rp 2 miliar.
"Jadi, untuk yang di atas itu, meskipun terdapat relaksasi dari perpajakan, kelihatannya minat konsumen masih di bawah harga tersebut," ungkap Sekretaris Jenderal (Sekjen) REI Paulus Totok Lusida.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(LHE)