Rumah tahan gempa. Foto: Kementerian PKP
Rumah tahan gempa. Foto: Kementerian PKP

Baja Dinilai Jadi Kunci Arsitektur Ramah Gempa di Indonesia

Rizkie Fauzian • 20 Januari 2026 13:15
Jakarta: Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire menuntut pendekatan arsitektur yang tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga ketangguhan terhadap bencana. Salah satu material yang dinilai tangguh adalah baja.
 
Material baja dinilai memegang peranan strategis dalam mitigasi gempa sekaligus pelestarian identitas budaya. 
 
Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ar. Georgius Budi Yulianto menyoroti penggunaan material baja yang relatif masif di wilayah Sumatra, khususnya pada elemen atap bangunan.

“Di luar Pulau Jawa, terutama di Sumatra, penggunaan material metal pada atap lebih populer dibandingkan genteng. Hal ini karena bobotnya lebih ringan sehingga tidak terlalu berbahaya saat terjadi gempa. Pendekatan ini erat kaitannya dengan mitigasi kebencanaan,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 Januari 2026.
 
Menurutnya, risiko kerusakan dan korban jiwa dalam gempa sering kali berkaitan dengan penggunaan material konstruksi yang berat. Baja, dengan sifatnya yang ringan dan fleksibel, menawarkan keunggulan signifikan dalam merespons guncangan.
 
Selain itu, sistem modular dan knockdown pada konstruksi baja memungkinkan pembangunan fasilitas publik darurat seperti rumah sakit, sekolah, dan rumah ibadah dilakukan secara cepat tanpa mengorbankan kekuatan struktur.

Menjembatani tradisi dan teknologi modern

Hal ini mematahkan anggapan bahwa penggunaan baja akan menghilangkan karakter arsitektur tradisional. Ar. Firman Setia Herwanto menegaskan bahwa arsitektur kontemporer justru semakin menempatkan nilai warisan budaya sebagai filosofi desain.
 
Arsitektur tradisional seperti Rumah Gadang dan rumah adat Toraja sudah menerapkan prinsip fleksibilitas melalui sistem pasak tanpa paku, yang sangat ramah gempa. Prinsip ini sejalan dengan teknologi baja modern yang presisi dan adaptif,” jelas dia.
 
Melalui material baja, arsitek dapat menerapkan pendekatan adaptive reuse pada bangunan lama, sehingga tetap relevan dan fungsional di era modern tanpa kehilangan identitas budaya.
 
Simposium 2025 bertajuk Shaping Resilient Futures: Heritage & Modernity in Steel Architectural Design yang digelar bersama BlueScope Indonesia menjadi langkah strategis IAI dalam mendorong kolaborasi dan inovasi arsitektur nasional.
 
Forum ini juga diposisikan sebagai ajang pemanasan menuju Steel Architectural Awards ASEAN 2026 bertema Shaping Resilient Futures: Timeless Design with Coated Steel. Ajang tersebut diharapkan menjadi tolok ukur kualitas karya arsitek Indonesia di tingkat regional, bersanding dengan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan