Kenaikan tarif rusunawa Jakarta untuk penyesuaian

Nicky Widadio 14 Agustus 2018 12:09 WIB
rusunawa
Kenaikan tarif rusunawa Jakarta  untuk penyesuaian
Kepala Bidang Pembinaan, Penertiban, dan Peran Serta Masyarakat Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI, Meli Budiastuti--Medcom.id
Jakarta:Pemerintah Provinsi DKI Jakarta beralasan naiknya tarif sewa rusun sederhana sewa (rusunawa) karena ada penyesuaian indeks harga dan perkembangan ekonomi. Kenaikan baru pertama kali terjadi sejak tarif untuk rusunawa ditetapkan melalui Perda Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah.

“Kami melihat biaya kami perawatan dan sebagainya kan ada kenaikan. Ini (tarif) tentunya hanya 20 persen lah kenaikannya untuk tingkat kewajaran dan mempertimbangkan yang tadi indeks harga dan perkembangan perekonomian,” jelas Pelaksana tugas Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Meli Budiastuti ketika dihubungi, Selasa, 14 Agustus 2018.


Pada 2014 dan 2015 lalu, Pemprov DKI banyak merelokasi warga ke rusunawa baru. Saat itu warga relokasi dikenakan tarif yang diatur pada 2012 lantaran belum ada penyesuaian tarif.

"Jadi warga relokasi banyak ditampung di beberapa rusun baru yang kita bangun saat itu dengan tarif yang sama pada tahun 2012," ujar Meli.

Kenaikan tarif sewa mengacu pada Pasal 145 Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah. Di situ dijelaskan bahwa tarif ditinjau kembali paling lama tiga tahun sekali. Hasil peninjauan dapat ditetapkan melalui peraturan gubernur.

Baca: Pemprov DKI Naikkan Tarif Sewa Rusunawa

Kenaikan tarif itu pun telah diteken oleh Gubernur DKI Anies Baswedan melalui Peraturan Gubernur Nomor 55 Tahun 2018 tentang Penyesuaian Tarif Retribusi Pelayanan Perumahan.

Selain itu, akan ada sejumlah rusun baru yang tarifnya akan segera ditetapkan pada 2018 ini. Penyesuaian tarif rusun-rusun yang lebih lama juga bertujuan mengimbangi tarif dari rusun-rusun baru tersebut.

Meli menyebut saat ini Pemprov DKI masih mensosialisasikan perihal kenaikan tarif kepada warga penghuni rusun. Tarif baru kemungkinan akan ditetapkan sekitar Oktober mendatang.

“Sekarang pada tahap sosialisasi, Agustus dan September ini tahap sosialisasi ke warga, nanti mungkin baru dilakukan sekitar Oktober, berbarengan kita melakukan penghunian terhadap rusun tower yang baru,” jelas Meli.

Persentase kenaikan berkisar rata-rata 20 persen dan turut dikenakan pada warga relokasi.

Untuk tarif termahal ada pada Rusunawa Jatirawasari tipe 32. Tarif untuk masyarakat umum di lantai I naik dari Rp588.000 per bulan menjadi Rp705.600 per bulan atau sebanyak 20 persen.

Sementara rusun dengan tarif sewa termurah yakni RSB Penjaringan blok Blok H dan I tipe 18. Masyarakat yang menghuni lantai I tarifnya naik dari Rp48.000 per bulan menjadi Rp57.600 per bulan.

Kenaikan juga dialami masyarakat dari program relokasi di Rusun Marunda. Tarif sewa di Rusun Marunda Tipe 30 untuk masyarakat program relokasi tadinya Rp159.000 per bulan untuk lantai I, kini naik menjadi Rp190.800 per bulan atau naik 20 persen.

Selain itu, ada pula yang kenaikannya mencapai 36 persen seperti di Rusun Pulogebang. Tarif sewa rusun bertipe 30 itu naik dari Rp273.000 per bulan untuk masyarakat hasil relokasi di lantai I menjadi Rp327.600.



(YDH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id