Rusun TOD Tak Cuma di Jakarta
Dinas PUPR Karawang memembongkaran puluhan bangunan Liar di Telukjambe Barat untuk pelebaran jalan menuju TOD Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Kamis (25/10/2018). MI/Cikwan
Jakarta:Pembangunan Transit Oriented Development (TOD) yang dilaksanakan oleh pemerintah diharapkan dapat menciptakan hunian terpadu di kawasan perkotaan. Masyarakat yang tinggal di hunian berkonsep TOD akan menjadi lebih mudah untuk melaksanakan mobilitas dalam bekerja sehari-hari karena kawasan hunian akan terpadu dengan moda transportasi.

"Keberadaan TOD ke depan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Selain memiliki konsep one stop living, hunian berkonsep TOD akan menciptakan nilai tambah bagi kawasan sekitarnya. Selain itu, hunian TOD akan mewujudkan urban regeneration bagi kawasan perkotaan," ujar Sekretaris Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Dadang Rukmana dikutip dari laman resmi Kementerian PUPR, Kamis (1/11/2018).


Namun dalam membangun hunian TOD, pemerintah hanya berfokus pada stasiun di kota-kota besar saja. Padahal pembangunan TOD bisa mendukung Program Satu Juta Rumah dan memanfaatkan keberadaan lahan secara optimal di kawasan perkotaan.

"Stasiun di kawasan pinggiran seperti di Cikarang dan Karawang pun juga dapat dibangun. Kami dukung pembangunan TOD namun dengan konsep hunian yang tidak terlalu tinggi. Jadi masyarakat dapat memiliki TOD tapi dengan harga yang terjangkau," kata Ketua Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Endang Kawijaya.


Hunian TOD dibangun di lahan milik PT KA yang berada di sepanjang kiri dan kanan rel. Lahan tersebut masih banyak di atasnya berdiri pemukiman liar dan membutuhkan pendekatamn khsusus untuk menggusurnya. Antara Foto/Yudhi Mahatma

Saat ini pemerintah baru membangun lima hunian TOD yang berlokasi di Stasiun Tanjung Barat, Stasiun Pondok Cina, Stasiun Senen, Stasiun Juanda, dan Pasar Tanah Abang. Kelima hunian tersebut bagian dari rencana pembangunan di 13 lokasi.

Hunian TOD di Tanjung Barat memiliki 1.232 unit rusunami dan anami yang dibangun oleh Perum Perumnas dan PT KAI. Dari jumlah tersebut, 300 unit akan dikhususkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sementara sisanya untuk non subsidi.

Harga yang dibanderol untuk masyarakat bersubsidi yakni Rp 202 juta. Sedangkan untuk harga non subsidi dibandrol paling murah Rp512 juta.

Hunian TOD Stasiun Juanda dibangun oleh PT Pembangunan Perusahaan (PTPP) dan PT KAI memiliki dua tower yang menampung 627 unit yang peruntukannya bagi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sementara itu untuk luas ruangan per unit 32 meter persegi dibanderol  Rp224 juta.

Hunian TOD di Stasiun Senen yang dibangun oleh PT Wijaya Karya dengan PT KAI  menampung 1.362 unit. Dari jumlah tersebut, 480 unit akan diperuntukkan bagi rusunami dan 882 unit anami.

Dengan luas 32 meter persegi, harga yang ditawarkan mencapai Rp224 juta per unitnya. Sedangkan untuk runanami, harga yang ditawarkan dua kali lipat dari harga rusunami.

Hunian TOD Tanah Abang juga dibangun oleh PT Pembangunan Perusahaan dan PT KAI. Di bangun di atas lahan seluas 6,2 hektare terbagi menjadi empat stacking.

Stacking 1 terdiri atas 700 unit, yang 35 persennya khusus bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sementara itu, harga yang ditawarkan untuk luas 32 meter persegi yakni Rp224 juta.

Untuk hunian TOD Manggarai rencananya akan dikembangkan oleh PT PP Tbk (PT PP) dan menggandeng konsultan internasional yang mengembangkan TOD Hongkong.
 
Dengan luas 60 hektare, kawasan hunian TOD Stasiun Manggarai bisa lebih luas ketimbang TOD lain di Jakarta, sehingga bisa menyediakan hunian lebih banyak bagi maasyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id