NEWS
Pasar Apartemen Jakarta Hadapi Tantangan Penyerapan Stok
Rizkie Fauzian
Kamis 05 November 2026 / 21:06
- Sebanyak 21.500 unit kondominium di Greater Jakarta belum terjual hingga kuartal III 2026. Peluncuran proyek baru juga semakin terbatas.
- Pasar apartemen mengalami perubahan karakteristik pembeli. Jika sebelumnya didominasi investor, kini pembelian lebih banyak dilakukan oleh end-user yang ingin menempati unit.
- JLL menilai apartemen masih memiliki prospek melalui keunggulan lokasi, fasilitas sesuai segmen pasar, serta harga unit yang lebih terjangkau.
Jakarta: Sebanyak 21.500 unit kondominium di Greater Jakarta belum terjual hingga kuartal III 2026. Di tengah persediaan tersebut, peluncuran proyek baru semakin terbatas seiring perubahan preferensi konsumen dan perilaku pembelian hunian vertikal.
Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim mengatakan pasar kondominium di Greater Jakarta mencatat tingkat penjualan (sales rate) sebesar 83 persen. Sementara itu, tren peluncuran proyek baru terus menurun sejak 2023, mencakup kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
"Kalau kita lihat dari sisi launching, mulai dari 2023 hingga saat ini makin lama new launches-nya makin tipis," ujar Yunus dalam pemaparan pasar properti kuartal III 2026 JLL Indonesia, Kamis, 5 November 2026.
Pada kuartal III 2026, JLL mencatat hanya satu proyek baru yang diluncurkan di Tangerang. Proyek tersebut mengusung konsep bangunan bertingkat rendah dengan pemandangan laut dan pantai yang menyasar segmen kelas atas.
Peluncuran proyek tersebut turut mendorong kenaikan harga rata-rata kondominium sebesar 1 persen dibandingkan kuartal I 2026.
Yunus menjelaskan, kecenderungan tersebut berbeda dibandingkan kondisi sekitar 10 hingga 15 tahun lalu, ketika apartemen lebih banyak dipandang sebagai instrumen investasi.
“Tapi di beberapa tahun terakhir kita lihat memang kecenderungannya sudah mulai bergeser ke end-user. Orang yang ingin tinggal di situ, yang lebih banyak mendominasi aktivitas penjualan atau pembelian dari apartemen,” jelas Yunus.
Di sisi lain, pasar kondominium masih menghadapi persaingan dengan rumah tapak. Yunus menilai masyarakat Indonesia secara umum masih cenderung memilih rumah tapak dibandingkan hunian vertikal.
“Jadi kalau pun terjadi apa-apa dengan bangunannya, tanahnya masih ada, masih aman, bisa dijual lagi,” kata Yunus.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan perkembangan apartemen yang relatif lebih baru dibandingkan rumah tapak dalam pasar hunian Indonesia. Hal ini turut memengaruhi kebiasaan masyarakat dalam menentukan pilihan tempat tinggal.
“Jadi prospeknya adalah untuk apartemen-apartemen yang niche, yang memang bisa menawarkan unique selling point, di lokasi yang juga less competition, itu masih kita bisa lihat,” ujar Yunus.
Pengembang juga perlu menyesuaikan fasilitas dengan segmen pasar yang dibidik. Proyek yang menyasar konsumen kelas atas, misalnya, perlu menawarkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan kelompok tersebut.
Sementara itu, penyediaan unit dengan harga lebih terjangkau (affordable units) dapat menjadi salah satu strategi untuk menjangkau kelompok pembeli yang lebih luas.
Dengan masih adanya 21.500 unit yang belum terjual, pasar kondominium Greater Jakarta menghadapi tantangan dalam menyerap pasokan. Pengembang perlu menyesuaikan konsep dan produk hunian dengan perubahan preferensi serta kebutuhan konsumen. (Syarifah Komalasari)
(KIE)
Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim mengatakan pasar kondominium di Greater Jakarta mencatat tingkat penjualan (sales rate) sebesar 83 persen. Sementara itu, tren peluncuran proyek baru terus menurun sejak 2023, mencakup kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
"Kalau kita lihat dari sisi launching, mulai dari 2023 hingga saat ini makin lama new launches-nya makin tipis," ujar Yunus dalam pemaparan pasar properti kuartal III 2026 JLL Indonesia, Kamis, 5 November 2026.
Pada kuartal III 2026, JLL mencatat hanya satu proyek baru yang diluncurkan di Tangerang. Proyek tersebut mengusung konsep bangunan bertingkat rendah dengan pemandangan laut dan pantai yang menyasar segmen kelas atas.
Peluncuran proyek tersebut turut mendorong kenaikan harga rata-rata kondominium sebesar 1 persen dibandingkan kuartal I 2026.
Pembeli Apartemen Mulai Bergeser ke End-user
Selain terbatasnya peluncuran proyek, perubahan karakteristik pembeli juga terlihat di pasar kondominium. Jika sebelumnya pembelian apartemen cenderung didominasi investor yang mengharapkan kenaikan harga unit, dalam beberapa tahun terakhir aktivitas pembelian mulai didominasi pengguna akhir (end-user).Yunus menjelaskan, kecenderungan tersebut berbeda dibandingkan kondisi sekitar 10 hingga 15 tahun lalu, ketika apartemen lebih banyak dipandang sebagai instrumen investasi.
“Tapi di beberapa tahun terakhir kita lihat memang kecenderungannya sudah mulai bergeser ke end-user. Orang yang ingin tinggal di situ, yang lebih banyak mendominasi aktivitas penjualan atau pembelian dari apartemen,” jelas Yunus.
Di sisi lain, pasar kondominium masih menghadapi persaingan dengan rumah tapak. Yunus menilai masyarakat Indonesia secara umum masih cenderung memilih rumah tapak dibandingkan hunian vertikal.
“Jadi kalau pun terjadi apa-apa dengan bangunannya, tanahnya masih ada, masih aman, bisa dijual lagi,” kata Yunus.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan perkembangan apartemen yang relatif lebih baru dibandingkan rumah tapak dalam pasar hunian Indonesia. Hal ini turut memengaruhi kebiasaan masyarakat dalam menentukan pilihan tempat tinggal.
Lokasi dan Fasilitas Jadi Penentu Daya Tarik Apartemen
Di tengah persaingan pasar, Yunus menilai apartemen masih memiliki peluang apabila menawarkan keunggulan yang jelas. Lokasi strategis, keterbatasan pasokan di kawasan tertentu, serta fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan konsumen menjadi sejumlah faktor penting.“Jadi prospeknya adalah untuk apartemen-apartemen yang niche, yang memang bisa menawarkan unique selling point, di lokasi yang juga less competition, itu masih kita bisa lihat,” ujar Yunus.
Pengembang juga perlu menyesuaikan fasilitas dengan segmen pasar yang dibidik. Proyek yang menyasar konsumen kelas atas, misalnya, perlu menawarkan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan kelompok tersebut.
Sementara itu, penyediaan unit dengan harga lebih terjangkau (affordable units) dapat menjadi salah satu strategi untuk menjangkau kelompok pembeli yang lebih luas.
Dengan masih adanya 21.500 unit yang belum terjual, pasar kondominium Greater Jakarta menghadapi tantangan dalam menyerap pasokan. Pengembang perlu menyesuaikan konsep dan produk hunian dengan perubahan preferensi serta kebutuhan konsumen. (Syarifah Komalasari)
(KIE)