Ini perlunya NJOP Jakarta dinaikkan
Bangunan gedung apartemen di antara pemukiman padat di salah satu sudut Jakarta. Harga pasaran saat ini sudah jauh di NJOP. AFP Photo/Adek Berry
Jakarta: Kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Bumi dan Bangunan 2018 sebesar 19,54 persen memang menambah beban wajib pajak. Namun memang sudah sangat diperlukan untuk menekan disparitas harga.

"Kenaikan ini fungsinya mengimbangi disparitas harga tanah di Jakarta yang sudah jauh lebih tinggi dari NJOP. Jadi untuk menyesuaikan dengan harga pasar," ujar pengamat properti David Cornelis kepada Medcom.id.


Saat ini harga properti di pasaran sudah mengalami penyesuaian karena terjadi perubahan fisik seperti peningkatan infrastruktur, sarana dan prasarana, hingga pembangunan jalan dan sebagainya. Sehingga nilai NJOP dapat digunakan untuk pendekatan menentukan harga jual properti.

"Kenaikan ini merupakan pemuktahiran objek pajak sehingga pendapatan daerah bisa dioptimalkan sesuai dengan harga pasarnya yang sudah mengalami peningkatan jauh dari nilai dasarnya pada NJOP," jelasnya.

Kebijakan ini diharapkan tidak membawa sentimen negatif ke semua segmen. Mengingat sebagian besar kenaikan di atas rata-rata tersebut hanya terjadi pada daerah-daerah tertentu yang pemiliknya adalah kalangan menengah ke atas.

"Secara teori jelas berdampak walaupun tidak langsung, karena tidak semua dinaikkan tinggi, hanya daerah tertentu yang terjadi perubahan fasilitas publik signifikan yang terjadi kenaikan yang di atas rata-rata NJOP," papar David.

Selain meningkatkan pendapatan daeerah, kenaikan NJOP juga diharapkan memacu pemda melengkapi fasilitas umum dan layanana masyarakat. Kenaikan NJOP juga bisa memberi gambaran bagi masyarakat tentang harga pasar lahan dan bangunan yang bertujuan mengurangi trik penjual memasang harga.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id