Suasana sebuah perempatan jalan utama 'Shenzhen City' di Kashgar, Xinjiang, yang sepi tanpa lalu lintas kendaraan sama sekali. AFP Photo/Johannes Eisele
Suasana sebuah perempatan jalan utama 'Shenzhen City' di Kashgar, Xinjiang, yang sepi tanpa lalu lintas kendaraan sama sekali. AFP Photo/Johannes Eisele

Bom Waktu Kota Hantu Tiongkok

Properti tiongkok bisnis properti
Rizkie Fauzian • 27 November 2018 13:05
Beijing: Puluhan juta apartemen dan rumah-rumah di Tiongkok kosong. Tak heran jika julukan "Kota Hantu" disematkan kepada negara dengan ekonomi terbesar kedua tersebut.
 
Di dalam survei yang dilakukan China Household Finance Survey dan dirangkum Gan Li, menyebut jika lebih dari 20 persen atau 50 juta rumah di Tiongkok saat ini dibiarkan kosong tanpa penghuni.
 
Beberapa spekulasi muncul, salah satunya pemilik properti bakal segera menjual rumahnya jika harga di pasar bergejolak. Hal tersebut menyebabkan harga rumah menjadi naik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tidak ada negara lain yang memiliki tingkat kekosongan rumah seperti di Tiongkok. Jika muncul gejolak di pasar, maka sektor properti Tiongkok akan terhantam," kata profesor dari Chengdu’s Southwestern University of Finance and Economics, Gan Li sebagaimana dikutip dari Bloomberg.
 
Bom Waktu
 
Tingkat kekosongan hunian tersebut tentu akan membayangi ekonomi Tiongkok. Sehingga pemerintahnya memasukkan usulan pajak properti sebagai salah satu prioritas dalam lima tahun ke depan.
 
Bom Waktu Kota Hantu Tiongkok
Salah sudut pusat perniagaan 'Shenzhen City' di Kashgar, Xinjiang. Kashgar adalah kawasan kota tua yang Tiongkok kembangkan sebagai bagian proyek jangka panjangnya menghidupkan kembali Jalur Sutra yang bersejarah. AFP Photo/Johannes Eisele
 
Namun, penelitian FT Confidential Research memperlihatkan lebih dari 20 persen konsumen yang memiliki paling tidak satu properti kosong akan menjualnya jika pajak tersebut diterapkan. Penjualan tiba-tiba akan membuat harga anjlok terlalu cepat dan menimbulkan masalah serius.
 
Hal lain yang dilakukan demi menjaga kekosongan hunian dengan membatasi kepemilikan rumah. Namun hal tersebut membuat harga rumah naik dan memperburuk ketimpangan.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, pembuat kebijakan Tiongkok dipandang gagal menghentikan kecenderungan ini. Presiden Xi Jinping sendiri harus mengatakan "rumah untuk ditinggali, bukan untuk spekulasi".
 
Para penanam modal di Tiongkok menemukan perumahan adalah pilihan yang lebih aman untuk memarkir dana dibandingkan pasar saham negara yang bergejolak. Dan banyak keluarga melakukan investasi di bidang properti juga sebagai usaha untuk menolong anak mereka.
 

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi