Lawang Sewu di Semarang. Foto: Medcom.id
Lawang Sewu di Semarang. Foto: Medcom.id

Sejarah Lawang Sewu, Dibangun oleh Arsitek Berbeda hingga Gunakan Batu Bata Mahal

Antara • 03 April 2022 17:39
Jakarta: Lawang Sewu merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada zaman kolonial Belanda pada 1900-an. Bangunan tersebut merupakan saksi bisu pertempuran lima hari yang berlangsung pada 1945 antara Angkatan Pemuda Kereta Api (AMKA) dengan tentara Jepang.
 
Menurut istilah orang Jawa, Lawang berarti pintu, dan Sewu bermakna seribu atau menjadi kata yang mewakili angka paling banyak di zaman dahulu. Jadi, Lawang Sewu artinya seribu pintu.
 
Namun, kalau dilihat dari jumlah aslinya, Lawang Sewu ini memiliki 928 pintu. Hanya kurang 72 pintu saja bukan untuk benar-benar disebut sewu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terletak di jantung kota Semarang, tepatnya di Jl. Pemuda, semula Lawang Sewu merupakan kantor administrasi kereta api Belanda bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).
 
Gedung Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m² dan dirancang oleh arsitek yang berbeda.
 
Dikutip dari siaran resmi Kemenparekraf, seorang pemandu, Aris Lawang Sewu terdiri dari lima bangunan. Proses perancangan awal Lawang Sewu dimulai oleh seorang arsitek asal Belanda Ir. P. de Rieu.
 
Bangunan yang pertama kali dibuat adalah gedung C yang difungsikan sebagai kantor percetakan karcis kereta api pada 1900.
 
Setelah Ir. P. de Rieu meninggal dunia, kemudian Prof. J. Klinkhamer dan B. J. Oundag ditunjuk untuk melanjutkan pembangunan Lawang Sewu. Pengerjaan gedung A sebagai kantor utama NIS pun dimulai pada Februari 1904 dan selesai Juli 1907.
 
“Kalau kita lihat bentuk bangunannya (bentuk dalam gedung A) kaya gerbong kereta, jadi semuanya saling berhubungan seperti gerbong kereta api, hal ini dilakukan untuk mempermudah komunikasi orang Belanda kala itu,” jelasnya.
 
Seiring berkembangnya kantor kereta api Belanda, beberapa gedung pendukung dibangun, yakni gedung B, D, dan E pada 1916 – 1918.
 
Gedung B masih dibangun oleh Prof. J. Klinkhamer dan B. J. Oundag, sementara gedung D dan E dibuat oleh arsitek Thomas Karsten. Ia menjadi arsitek termuda dan terakhir yang merancang pembangunan Gedung Lawang Sewu.
 
Jika dicermati, bangunan Lawang Sewu menggunakan batu bata keramik berwarna jingga, lambang kekayaan, kemakmuran, dan juga menunjukkan kasta tertinggi. Zaman dahulu, batu bata ini tergolong langka dan harganya mahal.
 
“Zaman dulu satu batu bata ini ditaksir mencapai Rp300 ribu harganya. Dan yang unik, cetakannya ada yang melengkung," kata Aris.
 
Salah satu alasan kenapa Lawang Sewu banyak pintu bukan hanya untuk membuat sirkulasi udaranya semakin bagus, tapi juga berkaitan dengan kasta.
 
"Mereka (orang Belanda) sangat menjaga image, jadi kalau bangun ya enggak tanggung-tanggung,” ungkapnya.
 
Setelah dipugar dan direnovasi, kini Lawang Sewu difungsikan sebagai museum yang menyajikan ragam koleksi berhubungan dengan kereta api.
 
Mulai dari seragam masinis, alat komunikasi (telepon kayu, telegraf), alat hitung friden, lemari karcis edmonson, karcis kereta kuno, mesin cetak tanggal untuk karcis kereta, dan lainnya.
 
Seusai masa kolonial Belanda, Lawang Sewu berpindah tangan menjadi markas tentara Jepang sekaligus kantor transportasi Jepang bernama Riyuku Sokyoku pada 1942.
 
Pemerintah menetapkan Lawang Sewu sebagai gedung warisan bersejarah yang perlu terus dijaga dan dilestarikan.
 
(KIE)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif