Repotnya Mematok Harga Rumah Murah
Kompleks perumahan bersubsidi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Antara Foto/Adeng Bustomi
Jakarta:Penetapan harga subsidi khusus bagi program KPR bersubsidi berskema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bukan hal mudah. Bagi pengembang batas atas yang pemerintah tetapkan merupakan masalah yang perlu solusi demi kelangsungan bisnisnya.

Selama ini harga dipukul rata untuk per pulau. Sementara setiap daerah memiliki permasalahan yang berbeda yang menyebabkan harga satuan juga berbeda.


Misalnya di Jawa Timur yang ditetapkan harga tertinggi per unit rumah murah bersubsidi adalah Rp 130 juta. Masalahnya harga tersebut tidak dapat diterapkan di Surabaya dan Gresik yang harga lahannya tinggi.

"Padahal daerah tersebut membutuhkan banyak rumah murah, namun harga tanah tidak ada yang masuk untuk membangun seharga itu. Sehingga ya paling dekat adalah di Porong," kata Sekjen DPP REI Paulus Totok Lusida seperti dikutip dari laman resmi Kementerian PUPR.

Permasalahan lain yang menjadi kendala adalah akses ke lokasi yang dianggap masih sulit. Hal tersebut membuat harga pembangunan melonjak tinggi.


"Di Manokwari masih mungkin menjual rumah dengan harga Rp 205 juta. Harga per zak semen masih dapat Rp 75 ribu, tetapi di Wamena bisa Rp 1 juta” ungkapnya.


Selain itu, permasalahan lainnya yang dianggap masih menjadi kendala dalam pembangunan rumah murah adalah perizinan. Maka REI meminta agar pemerintah lebih mempermudah perizinan terlebih untuk perumahan bagi MBR.
 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id