Ilustrasi: Perumahan di Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Foto:Antara/Raisan Al Farisi)
Ilustrasi: Perumahan di Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Foto:Antara/Raisan Al Farisi)

Sektor Properti Diprediksi Lesu hingga 2020, Ini Penyebabnya

Rizkie Fauzian • 09 Oktober 2019 15:30
Jakarta: Lesunya sektor properti diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2020. Padahal banyak kalangan menilai tahun ini kondisi sektor properti akan membaik dibandingkan tahun sebelumnya.
 
"Kita lihat tahun ini memang tidak akan secepat itu (pertumbuhannya). Kalau perkiraan baru pada 2020 akan take off," kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam diskusi di WTC, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.
 
Ferry menjelaskan, saat ini kondisi sektor properti terutama residensial masih lesu, bahkan banyak pengembang mencatatkan penjualan yang kurang memuaskan bahkan jauh dari target. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sektor residensial, salah satunya karena dua segmen berbeda. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Segmen bawah-menengah ini sensitif dengan affordabability seperti uang muka dan cicilan. BI sudah melakukan langkah dengan memberikan relaksasi LTV, ini sebenarnya cukup memberikan dampak positif secara shorterm, selanjutnya yang dipikirkan adalah bagaimana cicilannya. Ini masalahnya," kata Ferry.
 
Menurutnya, banyaknya kemudahan regulasi yang diberikan pemerintah belum dapat mengangkat sektor properti. Pasalnya, bunga bank yang masih berada di dua digit menjadi kendala utama dari pergerakan sektor properti.
 
"BI sudah menurunkan bechmark interest rate, tapi apakah itu akan diikuti oleh perbankan lainnya. Jadi 2019 ini masih menjadi kendala," katanya.
 
Sementara di segmen menengah ke atas, ada indikasi bahwa pembelinya bukanlah first buyer, artinya mereka ini adalah investor yang melihat opportunity. Sewa apartemen sudah tidak tinggi seperti sebelumnya sehingga para investor memilih tidak menambah hunian baru.
 
"Jumlah ekspatriat di sektor oil juga turun, sehingga bisnis sewa apartemen turun. Apartemen tidak terisi kan menjadi beban, biaya servis mahal sekarang," katanya.

 
(ROS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif