NEWS
Mal Kelas Atas Jakarta Terisi di Atas 95%, Hiburan Makin Dilirik
Annisa ayu artanti
Rabu 28 Oktober 2026 / 15:52
- Okupansi pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai 86,8 persen pada kuartal III 2026, dengan tingkat keterisian mal kelas atas di atas 95 persen.
- CBRE memperkirakan sekitar 40.000 meter persegi ruang mal baru akan masuk ke pasar Jakarta.
- Perubahan kebiasaan pengunjung mendorong mal untuk menghadirkan kuliner, tempat berkumpul, hiburan, serta layanan kesehatan dan perawatan diri.
Jakarta: Tingkat okupansi pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai 86,8 persen pada kuartal III 2026, tetapi tingkat keterisian tersebut belum merata di seluruh kelas mal.
Laporan Jakarta Property Market Update kuartal III 2026 CBRE Indonesia mencatat total stok pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai 3,5 juta meter persegi. Penyerapan bersih selama kuartal tersebut sekitar 13.900 meter persegi, sementara ruang kosong tercatat sekitar 459.200 meter persegi.
Head of Research & Consulting CBRE Indonesia Anton Sitorus mengatakan ekspansi peritel lokal maupun asing turut mendorong penyerapan ruang di pusat perbelanjaan. Namun, tingkat okupansi berbeda menurut kelas mal.
“Kalau dari segi okupansi per grade, untuk yang high-end dan yang upper shopping mall itu, okupansinya tinggi di atas 95 persen,” ujar Anton dalam Pemaparan Q3 CBRE, di Jakarta, 28 Oktober 2026.
Dari sisi pasokan, CBRE memperkirakan sekitar 40.000 meter persegi ruang mal baru akan masuk ke pasar. Sementara itu, rata-rata harga sewa pusat perbelanjaan di Jakarta tercatat Rp331.800 per meter persegi per bulan pada kuartal III 2026. Fungsi mal kian bergeser
Anton menjelaskan, mal kelas atas mencatat kinerja yang lebih baik, sedangkan mal kelas menengah bawah masih menghadapi tekanan. Mal di segmen tersebut perlu beradaptasi dengan perubahan minat konsumen.
Pusat perbelanjaan kini tidak hanya mengandalkan aktivitas jual-beli, tetapi juga menawarkan kegiatan lain yang membuat pengunjung datang dan menghabiskan waktu di dalamnya. Mal menjadi tempat untuk makan, minum kopi, bertemu teman, hingga menikmati hiburan.
Perubahan ini turut memengaruhi komposisi penyewa. Kafe, gerai makanan dan minuman, toko buku, serta usaha di bidang kesehatan dan perawatan diri menjadi bagian dari pilihan yang tersedia di pusat perbelanjaan.
“Kalau dulu kan mungkin orang pergi ke mal memang buat belanja. Sekarang kan belum tentu belanja,” kata Anton.
Anton juga memperkirakan pusat perbelanjaan ke depan akan lebih banyak berfokus pada hiburan, kuliner, layanan kesehatan, dan kebugaran dibandingkan aktivitas jual-beli. (Syarifah Komalasari)
(ANN)
Laporan Jakarta Property Market Update kuartal III 2026 CBRE Indonesia mencatat total stok pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai 3,5 juta meter persegi. Penyerapan bersih selama kuartal tersebut sekitar 13.900 meter persegi, sementara ruang kosong tercatat sekitar 459.200 meter persegi.
Head of Research & Consulting CBRE Indonesia Anton Sitorus mengatakan ekspansi peritel lokal maupun asing turut mendorong penyerapan ruang di pusat perbelanjaan. Namun, tingkat okupansi berbeda menurut kelas mal.
“Kalau dari segi okupansi per grade, untuk yang high-end dan yang upper shopping mall itu, okupansinya tinggi di atas 95 persen,” ujar Anton dalam Pemaparan Q3 CBRE, di Jakarta, 28 Oktober 2026.
Dari sisi pasokan, CBRE memperkirakan sekitar 40.000 meter persegi ruang mal baru akan masuk ke pasar. Sementara itu, rata-rata harga sewa pusat perbelanjaan di Jakarta tercatat Rp331.800 per meter persegi per bulan pada kuartal III 2026. Fungsi mal kian bergeser
Anton menjelaskan, mal kelas atas mencatat kinerja yang lebih baik, sedangkan mal kelas menengah bawah masih menghadapi tekanan. Mal di segmen tersebut perlu beradaptasi dengan perubahan minat konsumen.
Pusat perbelanjaan kini tidak hanya mengandalkan aktivitas jual-beli, tetapi juga menawarkan kegiatan lain yang membuat pengunjung datang dan menghabiskan waktu di dalamnya. Mal menjadi tempat untuk makan, minum kopi, bertemu teman, hingga menikmati hiburan.
Perubahan ini turut memengaruhi komposisi penyewa. Kafe, gerai makanan dan minuman, toko buku, serta usaha di bidang kesehatan dan perawatan diri menjadi bagian dari pilihan yang tersedia di pusat perbelanjaan.
“Kalau dulu kan mungkin orang pergi ke mal memang buat belanja. Sekarang kan belum tentu belanja,” kata Anton.
Anton juga memperkirakan pusat perbelanjaan ke depan akan lebih banyak berfokus pada hiburan, kuliner, layanan kesehatan, dan kebugaran dibandingkan aktivitas jual-beli. (Syarifah Komalasari)
(ANN)