NEWS

Mal Ramai Belum Tentu Laris, Peritel Kini Fokus Tingkatkan Penjualan

Rizkie Fauzian
Kamis 15 Oktober 2026 / 17:29
Ringkasnya gini..
  • Konsumen semakin selektif dalam berbelanja, sehingga pengelola pusat perbelanjaan perlu meningkatkan konversi kunjungan menjadi pembelian.
  • Paparan pasar ritel menunjukkan sekitar 84 persen ruang kosong di Jakarta dan 96 persen di Greater Jakarta berasal dari kelompok mal tersebut.
  • Perusahaan kini lebih mempertimbangkan potensi penjualan, luas toko, biaya operasional, dan produktivitas setiap lokasi dibandingkan sekadar menambah jumlah gerai.
Jakarta: Keramaian pusat perbelanjaan atau mal belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan transaksi belanja. Di tengah kunjungan masyarakat yang relatif terjaga, industri ritel menghadapi tantangan mengubah jumlah pengunjung menjadi pembelian dan meningkatkan nilai transaksi.

Fenomena tersebut menjadi salah satu sorotan dalam paparan kondisi pasar ritel pada kuartal III. Mal masih menjadi tujuan masyarakat untuk bersantap, mencari hiburan, dan bersosialisasi. Namun, konsumen kini lebih selektif dalam menentukan barang yang dibeli dan besaran pengeluaran.

Kondisi ini membuat jumlah pengunjung atau footfall tidak lagi cukup untuk mengukur kinerja pusat perbelanjaan. Pengelola mal dan peritel juga perlu memperhatikan jumlah pengunjung yang masuk ke toko, tingkat konversi menjadi transaksi, hingga nilai belanja konsumen.

Bahkan, tingginya kunjungan ke gerai makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) tidak selalu diikuti peningkatan nilai transaksi. Konsumen tetap datang dan makan di mal, tetapi rata-rata pengeluaran per kunjungan dapat lebih rendah.

Dengan demikian, tantangan industri ritel tidak hanya mendatangkan pengunjung, tetapi juga meningkatkan produktivitas tenant dan memastikan aktivitas kunjungan menghasilkan transaksi yang memadai.

Ruang Kosong Mal Berada di Kelas Menengah ke Bawah

Di tengah perubahan perilaku konsumen, kondisi pasar mal juga menunjukkan perbedaan berdasarkan kelas pusat perbelanjaan. Paparan tersebut mencatat hampir 90 persen ruang kosong di pasar yang dikaji berada pada mal kelas menengah hingga menengah ke bawah.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, kelompok mal tersebut menyumbang sekitar 84 persen ruang kosong di Jakarta. Sementara itu, di kawasan Greater Jakarta, porsinya mencapai sekitar 96 persen.

Sebaliknya, mal premium dan kelas menengah atas mampu mencatat tingkat okupansi mendekati 90 persen. Adapun tingkat okupansi mal kelas menengah ke bawah berada di kisaran 60 persen.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa tantangan kekosongan ruang ritel tidak tersebar merata di seluruh pasar. Mal dengan basis konsumen yang kuat, komposisi tenant yang solid, dan daya tarik merek cenderung memiliki tingkat okupansi lebih tinggi.

Sebaliknya, mal yang kesulitan mempertahankan daya tarik menghadapi tantangan berantai. Pengalaman berbelanja yang kurang menarik dapat mengurangi minat pengunjung, sementara tenant menjadi lebih selektif dalam menentukan lokasi usaha. Kondisi tersebut turut menyulitkan pengelola dalam menarik tenant baru.
   

Rejuvenasi Mal Tak Cukup dengan Renovasi Interior

Menghadapi persaingan tersebut, pengelola mal perlu mengevaluasi kembali posisi dan daya tarik pusat perbelanjaan mereka. Pembaruan atau rejuvenation tidak cukup dilakukan dengan mengganti lantai, memperbaiki pencahayaan, atau mempercantik interior.

Lebih dari itu, pengelola perlu melakukan reposisi untuk memastikan komposisi tenant tetap relevan dengan kebutuhan konsumen. Pengalaman berbelanja, pilihan hiburan, serta alasan pengunjung untuk datang menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Mal juga perlu memastikan bahwa konsep dan fasilitas yang ditawarkan sesuai dengan karakter pasar sasarannya. Upaya tersebut penting untuk mempertahankan kunjungan sekaligus mendorong pengeluaran konsumen.

Ke depan, persaingan antarpusat perbelanjaan tidak hanya ditentukan oleh tingkat okupansi, tetapi juga relevansi terhadap kebutuhan pasar dan produktivitas tenant yang beroperasi di dalamnya.

Peritel Lebih Selektif Membuka Gerai Baru

Perubahan perilaku konsumen turut memengaruhi strategi ekspansi peritel. Jika sebelumnya pertumbuhan bisnis sering diukur dari jumlah gerai baru yang dibuka, kini perusahaan semakin mempertimbangkan kinerja setiap lokasi.

Ekspansi masih berlangsung, termasuk oleh sejumlah merek internasional dan premium yang menambah gerai di Jakarta. Namun, keputusan investasi menjadi lebih selektif, mulai dari pemilihan lokasi, luas toko, hingga besaran modal yang dialokasikan.

Peritel juga semakin fleksibel dalam menentukan format gerai. Jika potensi penjualan di suatu lokasi tidak mendukung pembukaan toko berukuran besar, perusahaan dapat memilih format yang lebih kecil agar investasi dan biaya operasional lebih terkendali.

Pertimbangan tersebut berkaitan dengan berbagai komponen biaya pembukaan gerai, seperti desain dan pembangunan interior, sewa tempat, biaya layanan atau service charge, tenaga kerja, serta persediaan barang.

Karena itu, ekspansi yang lebih selektif tidak berarti peritel menghentikan pembukaan gerai. Perubahan yang terjadi lebih mengarah pada disiplin investasi, dengan mempertimbangkan kemampuan setiap lokasi menghasilkan penjualan dan mendukung keberlanjutan usaha.

Strategi pertumbuhan ritel pun mulai bergeser dari mengejar jumlah gerai menjadi meningkatkan produktivitas gerai yang sudah ada maupun yang akan dibuka. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KIE)

MOST SEARCH