Kongres FIABCI Digelar di Bali, Apa Manfaatnya Bagi Bisnis Properti?
Dua tower rusun Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta, sedang diselesaikan. Rusun murah yang dibangun di perkotaan merupakan bagian program Satu Juta Rumah. Antara Foto/Indrianto Eko Suwarso
Jakarta: Setelah hajatan 2018 International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB) Annual Meeting, akhir tahun ini Bali jadi tuan rumah pertemuan Federation Internationale des Administrateurs de Bien-Conselis Immobiliers FIABCI). Ini adalah federasi global bagi profesional dan pelaku usaha di bidang real estate.

Apa dampak positif yang diharapkan dengan menjadi tuan rumah bagi ajang yang oleh para anggotanya disebut December businees meeting tersebut?


"Iya, Insha Allah (akan) menggerakkan sektor properti kita," kata Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), Soelaeman Soemawinata, selaku Presiden FIABCI Asia Pasifik kepada Medcom.id.

Sebagai tuan rumah, agenda yang Indonesia dorong dalam pertemuan tersebut adalah peran pengembang swasta dalam penyediaan rumah layak huni bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Selasas dengan program Satu Juta Rumah yang sedang pemerintah gelar di berbagai daerah.

Bukan hanya Indonesia dan negara-negara berkembang yang menemui masalah dengan pengadaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Masalah serupa juga dihadapi negara-negara maju terutama di perkotaan yang harga lahannya semakin tidak terjangkau mayoritas warganya tersebut.

"Banyak negara tertarik dengan cara Indonesia melibatkan swasta menyediakan hunian murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah," ungkap Soeleman.

baca juga: Bali jadi tuan rumah 2018 FIABCI Summit

Selain hunian layak yang terjangkau, isu lain yang Indonesia usung adalah tourism develoment dan investasi asing sektor properti. Tiga agenda tersebut merupakan program strategis yang sedang pemerintah kedepankan.

Sekitar 1.500 peserta yang berasal dari investor dan pebisnis real estate dari seluruh dunia akan hadir untuk menjalin kemitraan baru. Delegasi Indonesia dalam kongres ke-69 FIABCI terdiri dari 70-an orang.

Acara ini merupakan perhelatan khusus yang diadakan setiap Desember dan biasanya hanya diadakan di benua Eropa selama 68 tahun terakhir. Dipilihnya Bali diputuskan dalam kongres ke-69 FIABCI di Dubai, Uni Emirat Arab.


Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), Soelaeman Soemawinata (lima dari kiri), bersama jajaran petinggi FIABCI dalam pertemuan di Dubai pada awal Mei 2018. Penyerahan bendera FIABCI tersebut tanda resminya Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah December Businees Meeting and Networking Summit tahun ini. dok. REI

Pengaruh jangka panjang

Kondisi properti di Indonesia dinilai masih stagnan. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah juga belum mampu mendongkrak pertumbuhan properti. Banyak kalangan mengkhawatirkan konsidi properti terutama menjelang tahun politik. Lantas bagaimana pengaruh ajang ini kepada sektor properti?

"Acara seperti ini sebenarnya untuk membentuk jaringan dan dukungan. Dampaknya terhadap sektor properti tidak akan dirasakan secara langsung," kata Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda.

Artinya dampak perhelatan tersebut adalah jangka menengah dan panjang. Terutamanya dari realisasi kesepakapatan kerja sama yang dijalin selama berlangsungnya pertemuan. "Adanya pertemuan ini maka kepercayaan diharapkan tumbuh sehingga arus modal masuk dapat bertambah," sambungnya.



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id