"Rumah kita ke depan lebih bagusnya rumah panggung karena dia tidak langsung menerima energi gempa tapi dilepaskan dulu di permukaan bumi di kolong rumah kita," kata Pakar geologi Teuku Abdullah Sanny seperti dikutip dari Antara, Jumat (18/1/2019).
Rumah yang dibangun langsung menempel ke tanah tanpa panggung akan menerima energi langsung dari gempa sehingga lebih berisiko dibandingkan rumah panggung. Energi getaran gempa akan langsung merambat melalui pondasi hingga ke atap bagunan.
"Sekarang kita menanamkan lantai di tanah, begitu keluar energi gempa langsung ke lantai. Kalau punya panggung, energi gempa dilepaskan ke udara di bawah panggung itu," jelasnya.

Tiga anak bermain di atas lanting di Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) di pemukiman Kampung Semangit, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Pemukiman yang terdiri rumah-rumah panggung di atas air ini dihuni hanya 92 Kepala Keluarga (KK) Antara Foto/Hs Putra Pasaribu
Tradisi rumah panggung sudah dimiliki masyarakat Indonesia sejak dulu dan merupakan salah satu bentuk bagaimana masyarakat bisa bertahan menghadapi bencana. Rumah yang terbuat dari kayu, rotan atau bambu lebih luwes mengikuti getaran sehingga meminimalkan kerusakan dan korban jiwa.
Bangunan yang dibangun dengan tembok tanpa memperhatikan kekokohan dan kekuatan menahan goncangan gempa akan menyebabkan lebih banyak korban jiwa akibat reruntuhannya. "Kayu, bambu, rotan itu lebih bagus. Begitu kena vibrasi dia ikut bersamaan dengan frekuensi naturalnya bumi, dengan demikian dia lebih luwes dibandingkan dengan tembok," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News