NEWS
Anak Aktif Bergerak, Ini Pentingnya Ruang Eksplorasi di Rumah
Rizkie Fauzian
Senin 31 Agustus 2026 / 19:44
- Aktivitas bergerak menjadi bagian dari proses belajar anak usia dini karena membantu mereka mengenali lingkungan sekaligus mengembangkan kemampuan motorik.
- Orang tua disarankan memberi ruang eksplorasi yang aman dan tidak terlalu banyak membatasi anak selama aktivitas yang dilakukan sesuai dengan kondisi lingkungan.
- Aktivitas sederhana di rumah dapat melatih kemandirian anak, seperti memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci atau membantu membereskan barang.
Jakarta: Aktivitas bergerak menjadi bagian penting dalam masa tumbuh kembang anak usia dini. Karena itu, orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekaligus mengamati kebutuhan dan kemampuan mereka sesuai tahapan usia.
Diploma Montessori dan Parent Educator, Rosa Akhirunnisa, mengatakan gerakan yang dilakukan anak merupakan salah satu cara untuk mengenali lingkungan di sekitarnya. Berbagai kemampuan juga mulai muncul seiring bertambahnya usia dan perkembangan anak.
“Jadi cara belajarnya anak kecil mungkin berbeda sama kita yang orang dewasa yang harus lihat buku. Tapi kalau mereka dengan bergerak, mereka itu berkenalan dengan dunia sekitar,” ujar Rosa dalam acara Sweety Siap Tandang Tanding di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Memasuki usia 18 hingga 24 bulan, anak mulai lebih aktif bergerak dan melakukan observasi. Anak mulai berjalan, berlari, belajar menjaga keseimbangan, serta mengembangkan koordinasi tangan dan mata.
Pada tahap ini, anak juga mulai memiliki keinginan untuk melakukan berbagai aktivitas secara mandiri. Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan kegiatan sederhana sesuai dengan kemampuannya.
Sementara itu, pada usia 24 hingga 30 bulan, koordinasi, keseimbangan, dan kontrol tubuh anak mulai berkembang. Aktivitas bergerak pada tahap ini juga berkaitan dengan kemampuan kognitif karena anak mulai memahami hubungan antara tindakan yang dilakukan dengan hasil yang diperoleh.
Anak pada usia tersebut juga mulai tertarik dengan permainan pretend play. Benda-benda sederhana dapat digunakan dalam berbagai bentuk permainan sesuai dengan imajinasi anak. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses eksplorasi sekaligus perkembangan kemampuan anak.
Orang tua dapat mengamati aktivitas yang dilakukan anak dan memberikan kesempatan untuk mencoba berbagai gerakan sesuai dengan keinginannya. Dengan begitu, anak memiliki ruang untuk belajar melalui pengalaman langsung.
“As long as tempatnya itu aman untuk anak, biarkan aja, karena mereka sedang belajar banyak hal baru,” ujar Rosa.
Lingkungan rumah juga dapat disiapkan agar anak memiliki ruang yang aman untuk bergerak. Area yang sering digunakan anak sebaiknya bebas dari benda yang mudah jatuh, sudut tajam, atau barang yang dapat menghambat pergerakan.
Misalnya, anak dapat diajak memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci atau membantu membereskan barang setelah digunakan. Aktivitas tersebut dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Orang tua juga perlu mengamati ketertarikan anak untuk menentukan aktivitas berikutnya. Jika anak sudah mampu melakukan suatu kegiatan, orang tua dapat memberikan tantangan yang sedikit lebih tinggi agar kemampuan mereka terus berkembang.
Dengan memberikan ruang eksplorasi yang aman dan aktivitas yang sesuai kemampuan, rumah dapat menjadi lingkungan belajar bagi anak. Anak pun memiliki kesempatan untuk mengenali lingkungan, melatih kemampuan motorik, dan membangun kemandirian secara bertahap.
(KIE)
Diploma Montessori dan Parent Educator, Rosa Akhirunnisa, mengatakan gerakan yang dilakukan anak merupakan salah satu cara untuk mengenali lingkungan di sekitarnya. Berbagai kemampuan juga mulai muncul seiring bertambahnya usia dan perkembangan anak.
“Jadi cara belajarnya anak kecil mungkin berbeda sama kita yang orang dewasa yang harus lihat buku. Tapi kalau mereka dengan bergerak, mereka itu berkenalan dengan dunia sekitar,” ujar Rosa dalam acara Sweety Siap Tandang Tanding di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Tahapan tumbuh kembang anak
Rosa menjelaskan pada usia 0 hingga 12 bulan, anak mulai mengenal dunia melalui berbagai aktivitas gerak, seperti berguling, merangkak, meraih benda, hingga belajar duduk. Aktivitas tersebut berkaitan dengan perkembangan motorik kasar sekaligus menjadi proses anak berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.Memasuki usia 18 hingga 24 bulan, anak mulai lebih aktif bergerak dan melakukan observasi. Anak mulai berjalan, berlari, belajar menjaga keseimbangan, serta mengembangkan koordinasi tangan dan mata.
Pada tahap ini, anak juga mulai memiliki keinginan untuk melakukan berbagai aktivitas secara mandiri. Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan kegiatan sederhana sesuai dengan kemampuannya.
Sementara itu, pada usia 24 hingga 30 bulan, koordinasi, keseimbangan, dan kontrol tubuh anak mulai berkembang. Aktivitas bergerak pada tahap ini juga berkaitan dengan kemampuan kognitif karena anak mulai memahami hubungan antara tindakan yang dilakukan dengan hasil yang diperoleh.
Anak pada usia tersebut juga mulai tertarik dengan permainan pretend play. Benda-benda sederhana dapat digunakan dalam berbagai bentuk permainan sesuai dengan imajinasi anak. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses eksplorasi sekaligus perkembangan kemampuan anak.
Jangan terlalu banyak membatasi eksplorasi anak
Rosa menyarankan orang tua tidak terlalu sering membatasi aktivitas anak dengan larangan selama kegiatan dilakukan di lingkungan yang aman.Orang tua dapat mengamati aktivitas yang dilakukan anak dan memberikan kesempatan untuk mencoba berbagai gerakan sesuai dengan keinginannya. Dengan begitu, anak memiliki ruang untuk belajar melalui pengalaman langsung.
“As long as tempatnya itu aman untuk anak, biarkan aja, karena mereka sedang belajar banyak hal baru,” ujar Rosa.
Lingkungan rumah juga dapat disiapkan agar anak memiliki ruang yang aman untuk bergerak. Area yang sering digunakan anak sebaiknya bebas dari benda yang mudah jatuh, sudut tajam, atau barang yang dapat menghambat pergerakan.
Berikan aktivitas sederhana untuk melatih kemandirian
Selain memberikan ruang untuk bergerak, orang tua dapat melibatkan anak dalam aktivitas sederhana di rumah. Kegiatan sehari-hari dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar melakukan sesuatu secara mandiri.Misalnya, anak dapat diajak memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci atau membantu membereskan barang setelah digunakan. Aktivitas tersebut dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Orang tua juga perlu mengamati ketertarikan anak untuk menentukan aktivitas berikutnya. Jika anak sudah mampu melakukan suatu kegiatan, orang tua dapat memberikan tantangan yang sedikit lebih tinggi agar kemampuan mereka terus berkembang.
Dengan memberikan ruang eksplorasi yang aman dan aktivitas yang sesuai kemampuan, rumah dapat menjadi lingkungan belajar bagi anak. Anak pun memiliki kesempatan untuk mengenali lingkungan, melatih kemampuan motorik, dan membangun kemandirian secara bertahap.
(KIE)