Jakarta Berjibaku Tahan Penurunan Muka Tanah
Pekerja menyelesaikan pembuatan resapan air. Khusus di kawasan Silang Monas terdapat 15 sumur resapan berdiameter 1 meter sedalam 3 meter dan diameter 20 sentimeter sedalam 2 meter. MI/Galih Pradipta
Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang berjuang mengendalikan penurunan muka tanah melalui pengelolaan air tanah. Data per 2017 menunjukkan laju penurunan muka tanah hingga 25 cm dalam tiga tahun.

Salah satu penyebabnya adalah penyedotan air tanah secara tidak terkendali oleh bangunan di penjuru Jakarta. Demikian ungkap Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta Ricky Marojahan Mulia dalam pertemuan ilmiah ke-3 Perhimpunan Ahli Air Tanah Indonesia dengan tema Peran Hidrogeologi Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.


"Kami mengendalikan dengan melarang penggalian sumur untuk pengambilan air tanah di wilayah-wilayah yang sudah memiliki jaringan pipa dari PDAM," kata Ricky di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (7/11/2018).


Seorang warga di Jakarta Utara menggunakan memompa air tanah untuk mendapatkan air bersih. Lambatnya perluasan jaringan pemipaan air bersih memaksa warga menggunakan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Antara Foto/Rivan Awal Lingga

Penyebab lainnya penurunan muka tanah yakni beban tekanan tanah yang berasal dari banyaknya gedung-gedung tinggi dan perumahan. Data tahun lalu menunjukkan kepadatan penduduknya mencapai 15.517 jiwa perkilometer persegi yang membuat DKI Jakarta terpadat di Indonesia.

Melalui pengendalian tersebut sudah ada 4 dewatering yang disegel serta 24 sumur bor yang ditutup melalui inspeksi lapangan. Langkah lainnya untuk mengendalikan pembuatan sumur air tanah yakni dengan meninggikan tarif pajak sumur air tanah dibandingkan pipa air bersih.

Pada saat bersamaan membangun sumur-sumur resapan yang saat ini sudah sebanyak 7500 sumur resapan dangkal dan sedang. Tahun ini ada 1300 sumur dangkal dan 33 sumur sedang yang dibangun.

"Kami juga kerja sama dengan KPK mengawasi pengelolaan air tanah untuk memastikan dikelola dengan baik dan dimanfaatkan masyarakat," terangnya.



 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id