Okupansi hotel di Asia Pasifik masih menurun. Foto: Shutterstock
Okupansi hotel di Asia Pasifik masih menurun. Foto: Shutterstock

Okupansi Hotel di Asia Pasifik Turun 33,9%

Properti hotel ritel bisnis properti
Rizkie Fauzian • 24 Agustus 2020 12:59
Jakarta: Kinerja sektor perhotelan di kawasan Asia Pasifik masih mengalami perlambatan pada kuartal II-2020. Okupansi hotel tercatat mengalami penurunan hingga 33,9 persen.
 
Dalam laporan Colliers international mencatat okupansi sebagian besar hotel di Asia Pasifik kecuali Tiongkok, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Korea Selatan mengalami penurunan 40 persen.
 
Selain penurunan okupansi, tercatat tarif rerata harian atau average daily rate (ADR) sekitar Rp890 ribu. Sementara pendapatan per kamar yang tersedia atau revenue per available room (RevPAR) anjlok sebesar 69,9 persen year on year.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Executive Director and Head of Hotels & Leisure for Valuation & Advisory Services, Asia, Govinda Singh mengatakan prospek ekonomi global diperkirakan tetap lemah akibat ketidakpastian dan risiko gelombang baru covid-19 yang sedang berlangsung.
 
"Sehingga sektor perhotelan di Asia Pasifik diperkirakan akan meredup dalam waktu dekat. Meski demikian, industri ini akan kembali khususnya ketika kegiatan dan perjalanan pulih," jelasnya dikutip dari laporan, Senin, 24 Agustus 2020.
 
Sementara itu, Bisnis perhotelan di Indonesia khusunya Jakarta, Surabaya, dan Bali juga terpengaruh. Hal ini ditandai dengan berkurangnya jumlah tamu serta kegiatan bisnis.
 
Head of Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengungkap, kondisi tersebut membuat manajemen hotel pada umumnya meminimalisasi biaya operasional.
 
Menurutnya, beberapa cara yang ditempuh adalah dengan mengurangi jumlah pegawai, memanfaatkan properti mereka secara selektif, hingga menutup sementara operasi mereka.
 
"Hotel di Jakarta dan Surabaya kemungkinan besar membutuhkan waktu lebih lama untuk pemulihan. Hal ini karena keberlangsungan bisnis hotel di kedua kota besar di Indonesia tersebut perlu didorong lebih banyak aktivitas bisnis," katanya.
 
Bukan hanya Jakarta dan Surabaya, kinerja hotel di Bali juga dinilai membutuhkan waktu lama untuk kembali pulih. Bali kemungkinan akan bergantung pada wisatawan lokal untuk mendorong industri perhotelan dalam situasi pasar yang lesu saat ini.
 
(KIE)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif