Perkantoran di Jakarta Ngos-ngosan

Rizkie Fauzian 23 April 2018 21:54 WIB
bisnis properti
Perkantoran di Jakarta <i>Ngos-ngosan</i>
Deretan gedung perkantoran di salah satu sudut Jakarta. Antara Foto/Agung Rajasa
Jakarta: Booming pembangunan gedung perkantoran tiga tahun terakhir di DKI Jakarta mulai menunjukkan dampaknya. Kelebihan pasokan yang terlalu tinggi.

Beberapa perkantoran bahkan telah menurunkan tarifnya demi mendongkrak tingkat huniannya yang cenderung jalan di tempat. Bahkan ada ancam berkurangnya jumlah penyewa pada tahun depan.


"Sektor perkantoran ini over supply, sangat mengkhawatirkan. Beberapa gedung perkantoran sudah mulai menurunkan harga sewa," ungkap Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung.

Kelebihan pasokan menurut akibat karena tidak akuratnya data hasil study kelayakan yang jadi acuan pengembang. Sumbernya bisa dari pihak konsultan yang melakukan study kelayakan atau juga pengembang yang bersangkutan dalam merealisasikan proyeknya.

"Bukan hanya gedung-gedung perkantoran yang ngos-ngosan, tapi co-working space juga itu," sambungnya.


Dua pekerja menyelesaikan tahap akhir proyek gedung perkantoran di Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Antara Foto

Konsultan Properti Savills Indonesia mencatat pada kuartal I-2018, tingkat kekosongan (vacancy) di area pusat bisnis atau central business district (CBD) mencapai 22,2 persen. Meningkat dari kuartal terakhir 2017 yang sebesar 21,5 persen.

Kekosongan terbesar terjadi di kelas premium dan kelas A. Besarnya masing-masing 30,7 persen dan 20,7 persen. Sementara kelas B dan C masing-masing 15,9 persen dan 13,9 persen.

 



(LHE)