Bila keliru, kenaikan NJOP Jakarta akan dikoreksi
Pemukiman padat di salah satu sudut Jakarta. Pemberlakuan kenaikan NJOP seharusnya hanya untuk kawasan komersial. Antara Foto/Vitalis Yogi
Jakarta:Keluhan masyarakat tentang lonjakan tinggi nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) jadi perhatian Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kebijakan menaikkan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang jadi penyebabnya bisa saja dikoreksi bila memang ada yang tidak tepat penerapannya.

"Kenapa dikoreksi? Karena memang kita tidak ingin warga merasa dibebani, padahal tidak merasakan perubahan kegiatan. Ini sedang proses review, saya minta Senin atau Selasa dipresentasikan hasilnya," ujar Anies di Balai Kota Jakarta, Jumat (20/7/2018).


Pengkajian ulang Pergub 24/2018 tentang Penetapan NJOP dan PBB Perdesaan dan Perkotaan diperintahkannya kepada Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD). Kajian terutama untuk zona-zona yang mengalami kenaikan NJOP dan berdampak signifikan terhadap nilai PBB.

Kenaikan NJOP semestinya berlaku di area-area komersial yang merupakan perkembangan ekonomi. Perumahan yang ada di zona komersial tersebut akan naik pula NJOP-nya walau tidak melakukan aktivitas komersial.

"Saya minta BPRD review ulang, karena peningkatan sesungguhnya untuk zonasi baru itu untuk yang ada kegiatan komersial. Kalau tidak, sesungguhnya tidak perlu mengalami kenaikan seperti ini," papar Anies.

Dia mengingatkan agar tidak ingin terburu-buru menyimpulkan akan ada perubahan zonasi yang terdampak kenaikan NJOP. Keputusan apakah perlu ada koreksi dan seperi apakah koreksinya tergantung hasil pengkajian ulang data-datanya.


Kawasan bisnis Senayan yang NJOP-nya naik tertinggi. Antara Foto/Dhemas Revianto

Rata-rata kenaikan NJOP pada 2018 ini berkisar 19,54 persen. Mengacu isi Pergub No 24/2018, nilai NJOP tertinggi di Jakarta berada di kawasan Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

NJOP di kawasan bisnis dan komersial tersebut naik dari Rp 93,1 juta/m2 menjadi Rp 94,7 juta/m2. Hal yang sama terjadi pada Gelora Senayan dari Rp46,4 juta/m2 menjadi Rp47,4 juta/m2.

Kenaikan tersebut dipacu adanya pembangunan MRT fase I Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia dan revitalisasi kawasan Gelora Bung Karno (GBK) jelang Asian Games 2018.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id