Dari bukit ke pantai Bangka Belitung
Kondisi asli interior Pesanggarahan Menumbing dipertahankan untuk menjaga nilai sejarahnya. file/MI/Denny Susanto
Muntok: Seusai meletusnya agresi militer II Belanda pada 18 Desember 1948, Presiden Soekarno diasingkan ke Berastagi kemudian Parapat. Dua bulan dipindahkan ke Muntok di Pulau Bangka.

Pesanggrahan Menumbing


Rumah yang berada di Bukit Menumbing, Muntok, ini sebelumya adalah peristirahatan pegawai perusahaan timah Bank Tinwinning Bedriff. Bangunan utama menghadap Pelabuhan Tanjung Kalian yang merupakan akses ke Palembang.


Pesanggrahan Menumbing sebelum dikelola Pemkab Bangka Barat sebagai cagar budaya dan obyek wisata sejarah. file/MI/Rendi Ferdiansyah

Rumah yang dibangun pada 1928-1933 ini bentuknya menyerupai benteng dengan dinding yang dihias batu alam. Rumah tersebut masih tampak kokoh meski sudah berumur hampir 100 tahun.

Sampai awal reformasi, gedung pesanggrahan menjadi penginapan yang dikelola swasta. Kini bangunan tersebut dijadikan cagar budaya dan obyek wisata sejarah oleh pemerintah setempat.

Untuk mempertahankan keasliannya, isi ruangan tidak dipindahkan. Beberapa foto pemimpin RI masih terpajang rapi di ruang pertemuan yang berada di dalam rumah pengasingan tersebut. Selain itu, masih tersimpan pula mobil BN 10 yang kala itu kerap Soekarno.

Wisma Ranggam

Sebelum jadi tempat pengasingan, bangunan ini juga tempat peristirahatan bagi pekerja tambang timah. Konon Bung Karno dipindahkan ke sini karena suhunya lebih panas dibandingkan Manumbing yang sejuk karena berada di atas bukit.


Haji Agus Salim berfoto di depan Wisma Ranggam yang merupakan tempatnya pernah menjalani masa pengasingan. dok. Pemkab. Bangka Barat.  

Rumah yang tampak sederhana ini sempat beralih fungsi, bahkan pernah disewa swasta untuk rumah makan. Rumah ini juga pernah menjadi wisma atlet hingga akhirnya dibiarkan kosong.

Di wisma terdapat belasan kamar. Setiap kamar diberi nama sesuai dengan nama tokoh yang pernah menghuni. Selain Soekarno, rumah ini juga jadi tempat pengasingan bagi H Agus Salim, Sultan Hamengkubuwono IX  dan tokoh lain pejuang lainnya.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id